Pencapaian Sustainable Development Goal (SDG) 8.1 yang berfokus pada pertumbuhan ekonomi berkelanjutan menjadi tantangan bagi negara-negara ASEAN di tengah tuntutan transisi menuju ekonomi hijau. Penelitian ini bertujuan menganalisis peran ekonomi hijau terhadap pencapaian SDG 8.1. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode Panel Autoregressive Distributed Lag (Panel ARDL) pada lima negara ASEAN, yaitu Indonesia, Malaysia, Thailand, Vietnam, dan Singapura selama periode 2000–2023. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dalam jangka pendek, seluruh indikator ekonomi hijau, yaitu GHG emission per GDP, Gender Equality in the Workplace, Decarbonization Sector Manufacturing and Construction, Decarbonization Sector Electricity and Heat, Green Investment Attractiveness, dan Gender Equality in Governance, belum berpengaruh signifikan terhadap pencapaian SDG 8.1. Dalam jangka panjang, Decarbonization Sector Manufacturing and Construction, Decarbonization Sector Electricity and Heat, serta Gender Equality in Governance berpengaruh positif dan signifikan terhadap SDG 8.1, sedangkan GHG emission per GDP berpengaruh negatif tidak signifikan, serta Gender Equality in the Workplace dan Green Investment Attractiveness berpengaruh positif namun tidak signifikan. Temuan ini menunjukkan bahwa manfaat ekonomi hijau terhadap pertumbuhan ekonomi berkelanjutan di negara-negara ASEAN lebih terlihat dalam jangka panjang dibandingkan jangka pendek. Oleh karena itu, diperlukan konsistensi kebijakan dalam mendorong transisi menuju ekonomi hijau guna mendukung pencapaian SDG 8.1. Kata Kunci: CO₂, Gender Equality in the Workplace, Decarbonization Sector Manufacture and Construction, Decarbonization Sector Electricity and Heat, Green Investment Atractiveness,, Gender Equality in Governance, SDG 8.1 dan ASEAN