Hiperurisemia merupakan gangguan metabolik yang ditandai dengan meningkatnya kadar asam urat dalam darah dan berpotensi menyebabkan artritis gout serta menurunkan kualitas hidup penderitanya. Penggunaan obat sintetik dalam jangka panjang dapat menimbulkan efek samping sehingga diperlukan alternatif terapi berbasis bahan alam. Daun salam (Syzygium polyanthum Walp.) diketahui mengandung senyawa flavonoid yang berpotensi menghambat aktivitas enzim xantin oksidase sehingga dapat membantu menurunkan kadar asam urat. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan meningkatkan pengetahuan masyarakat mengenai hiperurisemia serta memberikan keterampilan dalam pembuatan teh celup daun salam sebagai alternatif pengobatan herbal. Kegiatan dilaksanakan pada tanggal 21 Agustus 2025 di Desa Laut Dendang, Kecamatan Percut Sei Tuan, Kabupaten Deli Serdang, dengan melibatkan 40 peserta. Metode yang digunakan meliputi penyuluhan, diskusi interaktif, pemutaran video edukasi, demonstrasi pembuatan teh celup daun salam, serta evaluasi menggunakan pre-test dan post-test. Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan tingkat pengetahuan masyarakat, di mana kategori pengetahuan baik meningkat dari 20,0% sebelum edukasi menjadi 87,5% setelah edukasi. Selain itu, peserta mampu mempraktikkan pembuatan teh celup daun salam secara mandiri dan memahami manfaatnya sebagai alternatif pendukung pengelolaan hiperurisemia. Kegiatan ini menunjukkan bahwa edukasi berbasis demonstrasi dan pelatihan praktis efektif meningkatkan pengetahuan serta keterampilan masyarakat dalam memanfaatkan tanaman obat lokal. Program serupa diharapkan dapat dilaksanakan secara berkelanjutan untuk mendukung upaya promotif dan preventif dalam pengendalian hiperurisemia berbasis pemberdayaan masyarakat.