Pengelolaan sediaan farmasi yang efektif merupakan kunci utama dalam menjamin ketersediaan obat dan kualitas pelayanan di Apotek. Ketidaksesuaian antara perencanaan dengan kebutuhan riil dapat memicu kekosongan stok atau penumpukan barang yang merugikan. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi penerapan metode perencanaan dan pengadaan dalam mengoptimalkan ketersediaan sediaan farmasi Apotek X di Banyumas. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif retrospektif dengan pendekatan metode campuran (mixed methods). Data kuantitatif bersumber dari dokumen perencanaan, pengadaan, dan persediaan periode Januari–Juli 2025. Data kualitatif diperoleh melalui observasi sarana prasarana serta wawancara mendalam dengan tenaga kefarmasian. Hasil observasi menunjukkan perencanaan obat dilakukan berdasarkan pola penyakit, konsumsi, budaya, dan kemampuan masyarakat. Pengadaan dilakukan melalui jalur resmi (PBF) dan konsinyasi. Secara administratif, pengelolaan telah sesuai SOP, namun terdapat kendala pada aspek SDM di mana fungsi manajerial sering dijalankan oleh tenaga administrasi saat Apoteker Penanggung Jawab (APJ) berhalangan. Dari aspek sarana, Apotek belum memenuhi standar suhu penyimpanan < 25°C karena keterbatasan sistem pendingin udara (AC). Analisis data fast moving menunjukkan Voltadex dan Kalmethasone sebagai item dengan serapan tertinggi. Perhitungan kebutuhan menggunakan rumus kombinasi pemakaian rata-rata, buffer stock (20%), dan lead time (2 hari). Penerapan metode perencanaan dan pengadaan di Apotek X telah terdokumentasi dengan baik, namun diperlukan perbaikan pada pemenuhan standar fasilitas penyimpanan suhu dingin serta stabilitas kehadiran tenaga teknis kefarmasian untuk menjamin mutu pelayanan.