Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Analisis Ketersediaan Dan Peresepan Obat Dengan Formularium Di Rumah Sakit X Kabupaten Karanganyar Kresensia Stasiana Yunarti
Jurnal Bina Cipta Husada Vol 18 No 2 (2022): Jurnal Bina Cipta Husada
Publisher : STIKes Bina Cipta Husada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (141.287 KB)

Abstract

Pelayanan kefarmasian sebagai salah satu pelayanan penunjang rumah sakit harus dapat menjamin ketersediaan dan pengendalian persediaan obat agar tidak terjadi kekosongan obat saat dibutuhkan selama pelayanan. Formularium rumah sakit dapat digunakan sebagai acuan dalam melakukan pemilihan obat, memperbaiki pengelolaan obat di rumah sakit, meningkatkan efisiensi penggunaan dana obat, meningkatkan penggunaan obat secara rasional dan meningkatkan komunikasi antar profesi kesehatan. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisa faktor-faktor yang mempengaruhi ketersediaan dan peresepan obat terhadap formularium rumah sakit. Penelitian ini merupakan penelitian non eksperimental yang bersifat deskriptif. Dari penelitian ini yaitu dari total 892 jenis obat yang tersedia, jumlah obat yang tidak tercantum dalam formularium rumah sakit sebanyak 62 jenis obat, sehingga diperoleh persentase kesesuaian peresepan sesuai formularium yaitu 93,04%. Persentase kesesuaian peresepan dengan formularium di rumah sakit X di kabupaten Karanganyar belum sesuai standar sesuai Peraturan Menteri Kesehatan.
Analisis Penyebab Obat Kadaluarsa di Instalasi Farmasi Rumah Sakit Wilayah Jawa Tengah Kresensia Stasiana Yunarti
Jurnal Bina Cipta Husada Vol 19 No 1 (2023): Jurnal Bina Cipta Husada
Publisher : STIKes Bina Cipta Husada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (113.085 KB)

Abstract

Pelayanan kefarmasian merupakan pelayanan yang secara langsung diberikan kepada pasien dan bertanggung jawab dalam pengobatan pasien, sehingga diharapkan rumah sakit dapat memberikan pelayanan kefarmasian yang optimal untuk mencapai hasil yang pasti dan dapat meningkatkan kualitas kehidupan pasien. Pengelolaan obat merupakan salah satu segi manajemen rumah sakit yang sangat penting dalam penyediaan pelayanan kesehatan secara keseluruhan, sehingga dapat menjamin pengobatan pasien. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif yang bersifat deskriptif. Data diperoleh berdasarkan observasi dan wawancara dengan kepala instalasi farmasi rumah sakit dan staf di Instalasi Farmasi dan juga berdasarkan penelusuran dokumen rumah sakit. Penyebab obat-obat kadaluwarsa di rumah sakit X adalah karena pengelolaan obat yang belum maksimal yaitu pada metode perencanaan, penyimpanan, pencatatan dan pelaporan. Faktor penyebab obat kadaluwarsa yaitu karena pengelolaan obat yang kurang efektif terutama pada tahap perencanaan, pencatatan dan pelaporan, di mana metode perencanaan yang digunakan belum akurat sesuai dengan kebutuhan pelayanan dan sistem pencatatan dan pelaporan belum berjalan dengan baik
Studi Penerapan Metode Perencanaan dan Pengadaan Dalam Evaluasi Ketersediaan Sediaan Farmasi Apotek X Di Banyumas Elni Wijiyanti; Siti Asadu Sofiah; Kresensia Stasiana Yunarti
Jurnal Bina Cipta Husada Vol 22 No 2 (2026): Jurnal Bina Cipta Husada
Publisher : STIKes Bina Cipta Husada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pengelolaan sediaan farmasi yang efektif merupakan kunci utama dalam menjamin ketersediaan obat dan kualitas pelayanan di Apotek. Ketidaksesuaian antara perencanaan dengan kebutuhan riil dapat memicu kekosongan stok atau penumpukan barang yang merugikan. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi penerapan metode perencanaan dan pengadaan dalam mengoptimalkan ketersediaan sediaan farmasi Apotek X di Banyumas. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif retrospektif dengan pendekatan metode campuran (mixed methods). Data kuantitatif bersumber dari dokumen perencanaan, pengadaan, dan persediaan periode Januari–Juli 2025. Data kualitatif diperoleh melalui observasi sarana prasarana serta wawancara mendalam dengan tenaga kefarmasian. Hasil observasi menunjukkan perencanaan obat dilakukan berdasarkan pola penyakit, konsumsi, budaya, dan kemampuan masyarakat. Pengadaan dilakukan melalui jalur resmi (PBF) dan konsinyasi. Secara administratif, pengelolaan telah sesuai SOP, namun terdapat kendala pada aspek SDM di mana fungsi manajerial sering dijalankan oleh tenaga administrasi saat Apoteker Penanggung Jawab (APJ) berhalangan. Dari aspek sarana, Apotek belum memenuhi standar suhu penyimpanan < 25°C karena keterbatasan sistem pendingin udara (AC). Analisis data fast moving menunjukkan Voltadex dan Kalmethasone sebagai item dengan serapan tertinggi. Perhitungan kebutuhan menggunakan rumus kombinasi pemakaian rata-rata, buffer stock (20%), dan lead time (2 hari). Penerapan metode perencanaan dan pengadaan di Apotek X telah terdokumentasi dengan baik, namun diperlukan perbaikan pada pemenuhan standar fasilitas penyimpanan suhu dingin serta stabilitas kehadiran tenaga teknis kefarmasian untuk menjamin mutu pelayanan.