Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Defisiensi Vitamin D dan Benign Paroxysmal Positional Vertigo Rekuren Deva J. Karel; Olivia C. P. Pelealu; Rizki R. Najoan
Medical Scope Journal Vol. 5 No. 1 (2023): Medical Scope Journal
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/msj.v5i1.45279

Abstract

Abstract: Benign paroxysmal positional vertigo (BPPV) is the most common peripheral vestibular disturbance. Recurrency of BPPV is highly reported in females and elderly group. This study aimed to evaluate the association between vitamin D deficiency and recurrent BPPV events. This was a literature review study using PubMed, ClinicalKey, and GoogleScholar databases. The results obtained 13 literatures according to the predetermined inclusion and exclusion criteria. Vitamin D deficiency caused disturbances in calcium metabolism and degradation of otoconia. Release of otoconia debris into the endolymph fluid could trigger the BPPV attack. Based on demography, recurrent BPPV was most frequent among female elderlies with osteoporosis/osteopenia. The level of 25(OH)D of recurrent BPPV group was lower than the non-recurrent BPPV group, and supplementation of vitamin D could reduce the recurrency of BPPV. In conclusion, vitamin D deficiency is one of the causes of recurrent BPPV since it affects the metabolism of calcium which is the constituent component of otoconia. Instability of otoconia will affect the release of otoconia debris into the endolymph fluid triggering the BPPV attacks and increasing the risk of recurrent BPPV. Vitamin D supplementation can reduce the BPPV recurrence level. Keywords: recurrent benign paroxysmal positional vertigo; vitamin D deficiency; calcium metabolism; female; elderly   Abstrak: Benign paroxysmal positional vertigo (BPPV) merupakan penyakit gangguan keseimbangan perifer yang paling sering ditemui. Rekurensi BPPV dilaporkan lebih tinggi pada kelompok wanita dan usia lanjut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara defisiensi vitamin D dan kejadian BPPV rekuren. Jenis penelitian ialah literature review menggunakan database PubMed, ClinicalKey, dan Google Scholar. Hasil penelitian mendapatkan 13 literatur yang ditelaah berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi yang ditetapkan. Pada defisiensi vitamin D terjadi gangguan metabolisme kalsium dan degradasi otokonia. Debris otokonia yang terlepas ke dalam cairan endolimf dapat memicu terjadinya serangan BPPV. Secara demografi, BPPV rekuren lebih sering dijumpai pada perempuan usia lanjut dan memiliki riwayat osteoporosis/ osteopenia. Kadar 25(OH)D pada kelompok BPPV rekuren lebih rendah dibandingkan dengan kadar 25(OH)D pada kelompok non-BPPV rekuren, dan pemberian suplementasi vitamin D dapat menurunkan tingkat rekurensi pasien BPPV. Simpulan penelitian ini ialah defisiensi vitamin D merupakan salah satu penyebab dari perjalanan penyakit BPPV menjadi rekuren. Defisiensi vitamin ini memengaruhi metabolisme kalsium yang merupakan komponen penyusun otokonia. Instabilitas otokonia akan memengaruhi pelepasan debris ke cairan endolimf sehingga mencetuskan serangan BPPV dan meningkatkan risiko terjadinya BPPV rekuren. Pemberian suplementasi vitamin D dapat menurunkan tingkat rekurensi BPPV. Kata kunci: benign paroxysmal positional vertigo rekuren, defisiensi vitamin D; metabolism kalsium; jenis kelamin perempuan; usia lanjut
Penatalaksanaan Benda Asing Esofagus Ananda C. F. Maweikere; Steward K. Mengko; Olivia C. P. Pelealu
e-CliniC Vol. 11 No. 3 (2023): e-CliniC
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v11i3.45224

Abstract

Abstract: Esophageal foreign bodies are common cases in hospitals and if not treated immediately, may lead to serious complications. This study aimed to determine the various methods of esophageal foreign body management that can be performed. This was a literature review study. Data were searched from three databases, namely Clinical Key, PubMed and Google Scholar. The results obtained 11 literatures to be reviewed. In addition to esophagoscopy, there were several other management techniques, including medical management using proteolytic enzymes, glucagon, and nitroglycerin, and other operative management, namely procedures with a dual-channel endoscope, Foley catheter, and double fogarty balloon catheter according to the type and location of the foreign body obstruction. In conclusion, management of esophageal foreign bodies includes both medical and operative management according to the type and location of foreign body obstruction in the esophagus. However, esophagoscopy method is the gold standard for esophageal foreign body management. Keywords: esophageal foreign body; medical management; operative management; esophagoscopy   Abstrak: Benda asing esofagus merupakan kasus yang sering ditemukan di rumah sakit yang jika tidak segera ditangani dapat menyebabkan komplikasi serius. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui berbagai metode penatalaksanaan benda asing esofagus yang dapat dilakukan. Jenis penelitian ialah suatu literature review. Pencarian data menggunakan tiga database yaitu Clinical Key, PubMed dan Google Scholar.  Hasil penelitian mendapatkan 11 literatur untuk dikaji. Selain esofagoskopi yang sering digunakan, terdapat beberapa teknik penatalaksanaan lain yaitu tatalaksana medis dengan menggunakan enzim proteolitik, glukagon, dan nitrogliserin serta tatalaksana operatif lain yaitu prosedur dengan dual-channel endoscope, Foley catheter dan double Fogarty balloon catheter yang dapat dilakukan sesuai dengan jenis dan lokasi obstruksi dari benda asing. Simpulan penelitian ini ialah penatalaksanaan benda asing esofagus dapat dilakukan dengan tatalaksana medis dan operatif sesuai dengan jenis dan lokasi obstruksi benda asing di esofagus. Metode esofagoskopi merupakan baku emas untuk kasus benda asing esofagus. Kata kunci: benda asing esofagus; tatalaksana medis; tatalaksana operatif; esofagoskopi
Kasus Tonsilitis Akut dan Tonsilitis Kronik di RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado Periode 2022-2024 Sabastian L. P. Gultom; Olivia C. P. Pelealu; Valentini M. Pontoh
e-CliniC Vol. 14 No. 2 (2026): e-CliniC
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v14i2.65894

Abstract

Abstract: Tonsillitis is an inflammation of the palatine tonsils that is commonly found in healthcare services and can be acute or chronic. Acute tonsillitis is generally self-limiting, while chronic tonsillitis is often associated with recurrent infections and impaired quality of life. This study aimed to determine the distribution of tonsillitis cases at Prof. Dr. R. D. Kandou General Hospital in Manado. This was a retrospective and descriptive study using total sampling method. The results showed 30 patients with acute tonsillitis (18.2%) and 135 patients with chronic tonsillitis (81.8%) at Prof. Dr. R. D. Kandou General Hospital Manado during the years 2022–2024. Males were the majority in both diseases (60% acute, 53.3% chronic tonsillitis). The adult age group dominated in both diseases (36.7% acute, 52.6% chronic tonsillitis). Fever was the most common symptom found in acute tonsillitis (73.3%), and painful swallowing (71.1%) in chronic tonsillitis. The most common tonsil size in acute tonsillitis was T2-T2 (53.3%) and T3-T3 (35.6%) in chronic tonsillitis. Medical management in the form of antibiotics was the most common treatment for both diseases (90% acute, 91.1% chronic tonsillitis), and tonsillectomy was the most common surgical procedure performed on patients with chronic tonsillitis (53.3%). In conclusion, chronic tonsillitis is more common than acute tonsillitis. There are differences in clinical and demographic characteristics between the two groups, which emphasize the importance of describing epidemiological profiles in optimizing the management of tonsillitis. Keywords: acute tonsillitis; chronic tonsillitis; clinical profile                                   Abstrak: Tonsilitis merupakan inflamasi tonsil palatina yang sering ditemukan pada layanan kesehatan dan dapat bersifat akut maupun kronik. Tonsilitis akut umumnya bersifat self-limiting, sedangkan tonsilitis kronik sering berhubungan dengan infeksi berulang dan gangguan kualitas hidup. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui distribusi kasus tonsilitis di RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado. Jenis penelitian ini ialah deskriptif retrospektif dengan menggunakan teknik total sampling. Hasil penelitian mendapatkan 30 pasien tonsilitis akut (18,2%) dan 135 pasien tonsilitis kronik (81,8%) di RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado tahun 2022-2024. Jenis kelamin laki-laki yang terbanyak pada kedua penyakit (60% akut, 53,3% kronik). Kelompok usia dewasa mendominasi pada kedua penyakit (36,7% akut, 52,6% kronik). Demam merupakan gejala terbanyak ditemukan pada akut (73,3%), dan nyeri menelan (71,1%) pada kronik. Ukuran tonsil tersering pada tonsilitis akut ialah T2-T2 (53,3%) dan pada kronik T3-T3 (35,6%). Tatalaksana medikamentosa berupa antibiotik yang terbanyak pada kedua penyakit (90% akut, 91,1% kronik), dan tonsilektomi merupakan tindakan operatif terbanyak yang dilakukan pada tonsilitis kronik (53,3%). Simpulan penelitian ini ialah tonsilitis kronik lebih banyak ditemukan dibanding yang akut. Terdapat perbedaan karakteristik klinis dan demografis pada kedua kelompok, yang menegaskan pentingnya pendeskripsian profil epidemiologis dalam optimalisasi penatalaksanaan tonsilitis. Kata kunci: tonsilitis akut; tonsilitis kronik; profil klinis