Muh. Imam Sanusi Al Khanafi
Universitas Nahdlatul Ulama Blitar

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Tafsir Tematik: Manaqib Iblis Dalam Perspektif Al-Qur’an Muh. Imam Sanusi Al Khanafi
Jurnal Semiotika Quran Vol 3 No 2 (2023): Jurnal Semiotika-Q: Kajian Ilmu al-Quran dan Tafsir
Publisher : Program Magister Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam, Universitas Islam Negeri Raden Fatah Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19109/jsq.v3i2.21461

Abstract

Al-Qur’an merupakan kitab petunjuk untuk umat manusia kapanpun dan dimanapun. Keyakinan tentang kebenarannya diakui oleh orang-orang yang bertaqwa. Salah satu ciri-ciri orang yang bertaqwa ialah percaya dengan perkara gaib. Diantara ungkapkan dalam al-Qur’an terkait dengan yang tidak tampak (gaib) adalah iblis. Kata Iblis (ابليش) terulang sebanyak 24 kali, dalam 24 ayat dan di dalam 9 surat dalam bentuk tunggal yang dijumpai dalam al-Qur’an. Al-Baqarah (2): 34, Al-`Araf (7): 11, 12, 14, 16 , Al-Hijr (15): 31, 32, 33, 36, 39, Al-Isra’ (17): 61, 62, Al-Kahfi (18): 50, 51, Taha (20): 116, 117 Asy-Syu`ara’ (26): 95, Saba (34): 20,21, Sad (38): 74, 75, 76, 79, 82. Semua ayat-ayat di atas menyebutkan tentang pembangkangan iblis kepada Allah untuk bersujud kepada Adam. Iblis diciptakan Oleh Allah swt sebagai makhluk antagonis yang tugasnya mengajak ke lembah kejahatan. Sehingga hati manusia disesatkan untuk menjauhkan dirinya dari Allah swt. Iblis diciptakan oleh Allah swt sebagai bentuk kesempurnaan-Nya dalam menciptakan Alam jagad raya, dan keseimbangan atas ciptaanya. Tanpa adanya iblis, manusia di dunia akan sia-sia dan justru derajatnya tidak akan berkembang. Dengan diciptakannya iblis manusia bisa berlomba-lomba untuk menjadi makhluk yang terbaik dari hasil ciptaan-Nya. Karena itu, manusia harus menyadari dan mengenali betul apa saja godaan, tipu daya dan muslihat yang dipergunakan oleh iblis, sehingga bisa menjadi makhluk yang mulia disisi Allah.
PENDEKATAN HERMENEUTIKA DALAM MEMAHAMI HADIS Muh. Imam Sanusi Al khanafi; Muhammad Lutfianto
Musnad : Jurnal Ilmu Hadis Vol 2 No 2 (2024): Desember
Publisher : LPPM Sekolah Tinggi Ilmu Ushuluddin Darussalam Bangkalan Madura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56594/musnad.v2i2.317

Abstract

Artikel ini berangkat dari kegelisahan peneliti terkait cara pandang memahami hadis yang hanya mengedepankan kualitas sanad. Anehnya, keshahihan sanad sebagi syarat mutlak dalam memahami hadis tanpa memperdulikan konteks turunnya hadis. Pemahaman demikian memang belum cukup jika hanya dipahami secara tekstualis dan dogmatis. Perlunya sebuah pemahaman yang mampu berdialog dengan keadaan dan perkembangan zaman. Hal ini membutuhkan analisis secara dialektis dan komprehensif. Metode Hermeneutika hadir untuk mencari pemahaman secara kontekstualis sesuai dengan situasi dan kondisi era sekarang. Agar hadis mampu menjadi penerang seluruh umat Islam. Untuk membedah Hermeneutika dalam memahami hadis, penulis menggunkan pendekatan deskriptif-analitis. Hasil dari penelitian ini, metode hermeneutika terbagi menjadi tiga dalam memahami hadis. Pertama, interpretasi dari dalam teks. Langkah pertama yang harus dilakukan dalam memahami hadis adalah mengidentifikasi makna objektif sesuai dengan tujuan asli yang ingin disampaikan oleh penggagas teks hadis. Penggagas teks (Nabi SAW) sangat krusial dalam memahami hadis. Melaluinya, dapat membedakan antara hadis yang bersifat universal dan tetap, serta yang bersifat khusus atau sementara. Kedua, interpretasi di sekitar teks. Interpretasi tidak hanya berfokus pada pemahaman makna teks secara tepat dan objektif, melainkan lebih pada proses tindakan dalam memahami teks tersebut. Jika diterapkan dalam tafsir hadis, melibatkan pihak-pihak seperti mukharrij al-h}adi>s, mufassir al-h}adi>s\, dan rija>l al-h}adi>s\, sebagai pembaca atau penafsir. Ketiga, interpretasi melawan teks. Pendekatan ini tidak terfokus pada teks, tetapi juga pada realitas itu sendiri untuk menggali eksistensi yang memiliki dimensi historis. Dalam pendekatan ini, hadis dipandang sebagai wujud “kuasa” Nabi, yang kemudian diteruskan oleh rij?l al-?ad?? dan para mufassir, untuk membawa perubahan.