Claim Missing Document
Check
Articles

Found 6 Documents
Search

PKM Pelatihan dan Pembinaan Baca Tulis Alqur’an di TPQ Krajan, Desa Mlandingan Kulon, Mlandingan, Kab. Situbondo Achmad Suhaili
GUYUB: Journal of Community Engagement Vol 4, No 1 (2023)
Publisher : Universitas Nurul Jadid

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33650/guyub.v4i1.5865

Abstract

Mempelajari al-Qur’an berarti belajar membunyikan huruf-hurufnya sesuai tempat keluarnya sesuai kaidah tajwid dan menulisnya. Tentunya tingkatan ini adalah tingkatan yang paling awal dan sangat menentukan keberhasilan pembelajaran al-Qur’an pada tingkatan selanjutnya. PkM dengan konsep Pelatihan Baca tulis Al Qur’an yang diselenggarakan di TPQ Krajan, Desa Mlandingan Kulon, Kecamatan Mlandingan bertujuan untuk memberikan pengetahuan dan meningkatkan kemampuan baca tulis Al Qur’an anak yang sedang belajar di TPQ dengan formula metode pembelajaran Al Qur’an yang efektif. Pelaksanaan pengabdian kepada masyarakat ini melalui beberapa tahapan, diantaranya adalah dengan metode observasi kegiatan terlebih dahulu dengan cara menggali informasi kepada tokoh masyarakat sekitar tentang kegiatan baca tulis Al Qur’an, sementara pendekatan yang digunakan adalah pendekatan edukatif dan partisipatoris guna mencapai target capaian selama kegiatan ini dilaksanakan. Pengabdian kepada masyarakat yang dilaksanakan menggunakan metode pendampingan kepada peserta didik di TPQ dalam belajar membaca dan menulis Al Qur’an. Hasil kegiatan ini adalah bahwa Kemampuan Peserta pelatihan dan pembinaan baca tulis Al-Qur’an relatif masih kurang mencapai target, akan tetapi selama kegiatan pelatihan dan pembinaan berlangsung kemampuan peserta cukup meningkat dari 25% menjadi 50%. berdasarkan hal tersebut diperlukan pendampingan dan pembinaan yang berkelanjutan serta dibutuhkan metode yang tepat dan menarik sehingga bisa meningkatkan motivasi belajar peserta dalam baca tulis Al-Quran. Adapun metode yang dapat dilakukan antara lain menerapkan metode pembelajaran yang disukai oleh Peserta sehingga kemampuan menyerap pelajaran dapat meningkat. namun demikian setelah pelatihan dilakukan terdapat peningkatan keterampilan dan motivasi belajar Peserta dalam baca dan menulis Al Qur'an. Anak yang dibekali dengan pendidikan Al-Qur’an diharapkan nantinya akan tumbuh menjadi individu yang berkarakter mulia. dan salah satu cara untuk memahami Al-Qur’an adalah mampu membaca dan menuliskannya dengan baik dan benar. ditempat – tempat pendidikan harus senantiasa dibekali pendidikan Al Qur’an dengan pembelajaran baca tulis Al-Qur’an.
KAJIAN AYAT SYIFA’ DALAM AL-QUR’AN PERSPEKTIF TAFSIR ATH-THOBARI KARYA MUHAMMAD BIN JARIR Achmad Suhaili; Moh. Hasan; Roby Azhari
El-Waroqoh : Jurnal Ushuluddin dan Filsafat Vol 6, No 1 (2022)
Publisher : Institut Dirosat Islamiyah Al-Amien Prenduan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.28944/el-waroqoh.v6i1.1018

Abstract

Islam adalah suatu ajaran wahyu yang bersumber dari Allah subhanahu wata’ala Dzat Yang Maha Suci dan Maha Mulia. Oleh karena itu al-Qur’an sebagai suatu sumber utama ajaran Islam memiliki kebenaran yang mutlak. Kebanyakan dari diri seorang manusia hanya sebatas mengakui suatu kebenaran tersebut, namun kebanyakan mereka tidak mengetahui, bahwa salah satu kebenaran al-Qur’an bisa menyembuhkan penyakit rohani dan jasmani, Untuk itu penulis tertarik meneliti kandungan ayat-ayat al-Qur’an yang berhubungan tentang pengobatan penyakit dengan menggunakan al-Qur’an. dan Penelitian ini bertujuan untuk memahami kandungan al-Qur’an sebagai obat, dan cara mengaplikasikan al-Qur’an didalam kehidupan manusia.Artikel ini menyajikan penelitian tentang al-syifa’ menurut tafsir ath-Thobari. Penelitian ini dilakukan dengan menganalisa beberapa ayat al-Qur’an yang didalamnya membahas tentang al-syifa dengan menggunakan sudut pandang Muhammad bin Jarir dalam Tafsir Ath-Thobari. Penelitian ini ditujukan untuk mengetahui bagaimana al-syifa dalam al-Qur’an.Hasil penelitian mengungkapkan bahwa; Ada enam ayat-ayat syifa dalam Al-Qur’an yang dapat menyembuhkan bagi orang yang sakit. Namun penulis mengambil  tiga ayat saja yaitu: terdapat pada (Al-Qur’an Surat An-Nahl: 69), (Al-Qur’an Surat Yunus:57),(Al-Qur’an Surat Al-Israa: 82), dan Hadits maupun atsar sahabat yang berkaitan dengan ayat-ayat syifa dengan terdapat pada hadis kitab Ath-Turmudi dan Imam Anas. Berdasarkan jalur periwayatannya kedua hadis tersebut disepakati sebagai hadis yang sahih meskipun secara lafadz terdapat perbedaan namun secara makna memiliki substansi yang sama, dan Pengobatan ruqyah dengan menggunakan ayat-ayat syifa dilakukan dengan cara membacakan ayat-ayat Al-Qur’an dan ditiupkan ke pasien maupun melalui media air.
POLITIK HUKUM KETENTUAN BATAS USIA PERKAWINAN DALAM UU. NO 01 TAHUN 1974 TENTANG PERKAWINAN Achmad Suhaili; Abd Aziz
As-Syifa: Journal of Islamic Studies and History Vol 2 No 2 (2023): JULI
Publisher : LPPM Sekolah Tinggi Ilmu Al-Qur'an Wali Songo Situbondo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35132/assyifa.v2i2.522

Abstract

Hukum adalah instrumentasi dari putusan atau keinginan politik, sehingga pembuatan undang-undang sarat dengan kepentingan-kepentingan tertentu, dan dengan demikian medan pembuatan undang-undang menjadi medan perbenturan dan pergumulan kepentingan-kepentingan. Badan pembuat undang-undang akan mencerminkan konfigurasi kekuatan dan kepentingan yang ada dalam masyarakat. Konfigurasi kekuatan dan kepentingan dalam badan pembuat undang-undang menjadi penting karena pembuatan undang-undang modern bukan sekadar merumuskan materi hukum secara baku berikut rambu-rambu yuridisnya, melainkan membuat putusan politik terlebih dahulu. Berdasarkan hal tersebut diatas sangat penting mengkaji politik hukum batas usia perkawinan dalam UU No 01 tahun 1974 tentang perkawinan. Secara politis bunyi dari UU Perkwainan Tahun 1974 itu memiliki nilai-nilai yang positif demi menjaga kemaslahatan perkawinan itu, misalnya bagi yang belum berusia 21 tahun harus mendapat izin dari orang tua, batas usia minimal boleh kawin adalah 19 tahun untuk pria dan 16 tahun untuk wanita merupakan usaha untuk mencegah terjadinya kerusakan dalam membina rumah tangga nantinya, karena usia di bawah 21 tahun bisa dikatakan usia belum matang untuk melaksanakan dan membina rumah tangga. Kemudian dengan pembatasan usia dalam perkawinan tersebut tentunya akan membawa nilai kemaslahatan bagi yang bersangkutan. Adapun tujuan pembatasan perkawinan secara politik hukum adalah untuk pembangunan kualitas sumber daya manusia berdasarkan kepentingan individu, organisasi, kepentingan nasional dan untuk kebutuhan pada masa yang akan dating.
KAJIAN AYAT SYIFA’ DALAM AL-QUR’AN PERSPEKTIF TAFSIR ATH-THOBARI KARYA MUHAMMAD BIN JARIR Achmad Suhaili; Moh. Hasan; Roby Azhari
El-Waroqoh : Jurnal Ushuluddin dan Filsafat Vol 6, No 1 (2022)
Publisher : Institut Dirosat Islamiyah Al-Amien Prenduan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.28944/el-waroqoh.v6i1.1018

Abstract

Islam adalah suatu ajaran wahyu yang bersumber dari Allah subhanahu wata’ala Dzat Yang Maha Suci dan Maha Mulia. Oleh karena itu al-Qur’an sebagai suatu sumber utama ajaran Islam memiliki kebenaran yang mutlak. Kebanyakan dari diri seorang manusia hanya sebatas mengakui suatu kebenaran tersebut, namun kebanyakan mereka tidak mengetahui, bahwa salah satu kebenaran al-Qur’an bisa menyembuhkan penyakit rohani dan jasmani, Untuk itu penulis tertarik meneliti kandungan ayat-ayat al-Qur’an yang berhubungan tentang pengobatan penyakit dengan menggunakan al-Qur’an. dan Penelitian ini bertujuan untuk memahami kandungan al-Qur’an sebagai obat, dan cara mengaplikasikan al-Qur’an didalam kehidupan manusia.Artikel ini menyajikan penelitian tentang al-syifa’ menurut tafsir ath-Thobari. Penelitian ini dilakukan dengan menganalisa beberapa ayat al-Qur’an yang didalamnya membahas tentang al-syifa dengan menggunakan sudut pandang Muhammad bin Jarir dalam Tafsir Ath-Thobari. Penelitian ini ditujukan untuk mengetahui bagaimana al-syifa dalam al-Qur’an.Hasil penelitian mengungkapkan bahwa; Ada enam ayat-ayat syifa dalam Al-Qur’an yang dapat menyembuhkan bagi orang yang sakit. Namun penulis mengambil  tiga ayat saja yaitu: terdapat pada (Al-Qur’an Surat An-Nahl: 69), (Al-Qur’an Surat Yunus:57),(Al-Qur’an Surat Al-Israa: 82), dan Hadits maupun atsar sahabat yang berkaitan dengan ayat-ayat syifa dengan terdapat pada hadis kitab Ath-Turmudi dan Imam Anas. Berdasarkan jalur periwayatannya kedua hadis tersebut disepakati sebagai hadis yang sahih meskipun secara lafadz terdapat perbedaan namun secara makna memiliki substansi yang sama, dan Pengobatan ruqyah dengan menggunakan ayat-ayat syifa dilakukan dengan cara membacakan ayat-ayat Al-Qur’an dan ditiupkan ke pasien maupun melalui media air.
Hibah khatmil Al-Qur'an dengan Infak Uang kepada Para Arwah di Masjid Zainul Hasan Desa Kolpo Kecamatan Batang-Batang Kabupaten Sumenep Madura Achmad Suhaili; Nuris Zain
Al-Qolam: Jurnal Ilmu Al-Quran dan Tafsir Vol. 1 No. 1 (2024): JUNI
Publisher : LPPM Sekolah Tinggi Ilmu Al-Qur'an Wali Songo Situbondo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini membahas tentang fenomena sosial living Qur’an yaitu tradisi Hibah Khatmil Al-Qur’an dengan infak uang kepada para arwah yang dilaksanakan di masjid Zainul Hasan desa Kolpo kecamatan Batang-Batang kabupaten Sumenep Madura. Kegiatan ini dilaksanakan oleh semua remaja masjid pada waktu Kamis pagi Kliwon sampai Jumat Legi. Penelitian ini fokus terhadap pembahasan tentang praktik dan bagaimana partisipasi memaknai tradisi Hibah Khatmil Al-Qur’an dengan infak uang kepada para arwah di masjid Zainul Hasan desa Kolpo kecamatan Batang-Batang kabupaten Sumenep Madura. Jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif deskriptif dalam proses pengumpulan data peneliti menggunakan tiga metode yaitu observasi, wawancara dan dokumentasi. Hasil penelitian ini yaitu menunjukan bahwa tradisi Hibah Khatmil Al-Qur’an dengan infak uang kepada para arwah di masjid Zainul Hasan desa Kolpo kecamatan Batang-Batang kabupaten Sumenep Madura itu dilaksanakan hari Kamis Kliwon pagi setelah sholat Subuh yang diawali dengan tawassul kepada para arwah dan dilanjutkan dengan pembacaan Al-Qur’an secara berkelompok dan bergilir, kemudian kegiatan ini ditutup dengan doa bersama setelah sholat Jumat bersama semua masyarakat. Makna yang bisa diambil dari kegiatan ini menurut pembina masjid, pendiri tradisi, dan pelaksana adalah menghidupkan syiar agama melalui bacaan Al-Qur’an, memberikan manfaat kepada para arwah, sebagai kesejahteraan masjid, dan sebagai bentuk berbakti kepada orang tua.
Internalisasi Nilai-Nilai Silaturahmi Antar Pesantren Melalui Tradisi Khotmil Qur’an Bagi Santri Iksaga Di Desa Gayam Kecamatan Botolinggo Kabupaten Bondowoso Achmad Suhaili; Rafidatus Sholeha
Al-Qolam: Jurnal Ilmu Al-Quran dan Tafsir Vol. 2 No. 2 (2025): DESEMBER
Publisher : LPPM Sekolah Tinggi Ilmu Al-Qur'an Wali Songo Situbondo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji proses internalisasi nilai-nilai silaturahmi antar pesantren melalui tradisi khotmil Qur'an bagi santri Ikatan Santri Gayam (IKSAGA) di Desa Gayam. Kegiatan khotmil Qur'an yang diadakan oleh IKSAGA tidak hanya menjadi media ibadah, tetapi juga sarana penting untuk memperkuat hubungan sosial dan solidaritas antar santri dari berbagai pesantren. Dalam teori ini menggunakan pemikiran Karl Mannheim, yang memfokuskan pada hubungan antara ideologi dan generasi. Teori ini membantu memahami bagaimana tradisi khotmil Qur'an dapat berfungsi sebagai metode sosialisasi yang menanamkan nilai-nilai silaturahmi dan solidaritas dalam diri santri. Tradisi ini memungkinkan terjadinya interaksi dan kolaborasi antar santri dari berbagai latar belakang pesantren, sehingga mengurangi fanatisme dan memperkuat identitas bersama sebagai umat Islam yang bersatu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tradisi khotmil Qur'an IKSAGA efektif dalam membangun dan memperkuat jaringan sosial antar santri dan pesantren. Kegiatan ini juga berperan penting dalam memperkuat nilai-nilai keagamaan dan sosial, seperti kerja sama, kebersamaan, dan toleransi. Dokumentasi dan evaluasi kegiatan ini menjadi penting untuk memastikan keberlanjutan dan pengembangan tradisi khotmil Qur'an sebagai warisan budaya dan spiritual yang berharga. Penelitian ini menyimpulkan bahwa internalisasi nilai-nilai silaturahmi melalui tradisi khotmil Qur'an bagi santri IKSAGA tidak hanya memperkuat hubungan antar pesantren, tetapi juga membentuk identitas kolektif yang solid dan harmonis di kalangan santri. Implikasi praktis dari penelitian ini adalah perlunya dukungan dan partisipasi aktif dari semua pihak terkait untuk menjaga dan mengembangkan tradisi khotmil Qur'an sebagai sarana memperkuat silaturahmi dan solidaritas antar pesantren.