Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

ANALISIS DEKONSTRUKSI DALAM NOVEL RAHUVANA TATTWA KARYA AGUS SUNYOTO DARI NOVEL RAMAYANA KARYA P. LAL SERTA IMPLIKASINYA TERHADAP PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA DI SMA Indah Nuramalia; Sandi Budiana; Mukodas Mukodas; Wildan Fauzi Mubarock
Triangulasi: Jurnal Pendidikan Kebahasaan, Kesastraan, Dan Pembelajaran Vol 3, No 1 (2023): Triangulasi: Jurnal Pendidikan Kebahasaan, Kesastraan, dan Pembelajaran
Publisher : Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, FKIP, UNPAK

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55215/triangulasi.v3i1.6979

Abstract

Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan tentang analisis dekonstruksi dalam novel Rahuvana Tattwa karya Agus Sunyoto dari cerita asli dalam novel Ramayana karya P. Lal. Fokus penelitian ini adalah analisis patriarki hasil dekonstruksi dalam novel Rahuvana Tattwa karya Agus Sunyoto dari novel Ramayana karya P. Lal dan implikasi hasil kajian terhadap pembelajaran Bahasa Indonesia di SMA. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini adalah metode membaca dan mencatat. Uji validasi data dalam penelitian ini menggunakan teknik triangulasi. Sumber data dari penelitian ini yaitu novel Rahuvana Tattwa karya Agus Sunyoto dan novel Ramayana karya P. Lal, data yang digunakan berupa kutipan, kalimat, serta paragraf yang menunjukkan dekonstruksi. Penelitian ini menitikberatkan pada hasil dekonstruksi yang ada pada kedua novel. Peneliti mendeskripsikan konstruksi awal pada novel Ramayana karya P. Lal kemudian hasil dekonstruksi dalam novel Rahuvana Tattwa karya Agus Sunyoto menggunakan teori Jacques Derrida. Hasil analisis ditemukan bahwa tokoh utama memiliki perubahan perilaku yang semula antagonis menjadi protagonis ataupun sebaliknya, yang ditunjukkan dalam bentuk dekonstruksi. Terdapat pula sisi hal yang berubah dalam kedua novel tersebut, terlebih tentang patriarki. Perilaku tersebut terlihat dari perlakuan tokoh setelah didekonstruksi.
Puisi Religius, Pengalaman, dan Literasi Spiritual di Pesantren: Studi Kualitatif Berbasis Experiential Learning Wildan Fauzi Mubarock; Stella Talitha; Mukodas Mukodas; Muhamad Ginanjar Ganeswara; Ngakan Nyoman Yasa Hudono
DISASTRA: PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA Vol 8, No 1 (2026): JANUARI
Publisher : Universitas Islam Negeri Fatmawati Sukarno Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29300/disastra.v8i1.8608

Abstract

Penelitian ini bertujuan mengeksplorasi bagaimana santri mengalami proses menulis puisi religius ketika difasilitasi melalui pendekatan pembelajaran berbasis pengalaman, serta bagaimana proses tersebut berkontribusi terhadap penguatan literasi spiritual dan transformasi nilai. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif jenis studi lapangan di Pesantren Al Ashr Rumpin, Bogor, melibatkan 60 santri kelas XII yang dipilih secara purposive. Data dikumpulkan melalui wawancara semi-terstruktur, observasi partisipatif selama pembelajaran, dan dokumentasi puisi religius karya santri. Analisis data dilakukan dengan analisis tematik Braun dan Clarke, serta keabsahan dijaga melalui triangulasi teknik dan sumber, member checking, dan pencatatan proses analisis secara sistematis. Hasil penelitian mengidentifikasi tiga tema utama: (1) puisi sebagai refleksi spiritual, ditunjukkan oleh dominasi ungkapan syukur, doa, pengakuan dosa, dan pengalaman batin yang muncul setelah ibadah atau muhasabah; (2) pengalaman hidup sebagai sumber inspirasi religius, meliputi kehilangan, keteladanan orang tua, pengalaman pengajian, dan rasa bersalah yang mendorong pemaknaan religius; dan (3) menulis puisi sebagai proses transformasi nilai, terlihat dari dorongan memperbaiki perilaku, seperti peningkatan disiplin ibadah, komitmen kejujuran, sikap memaafkan, dan perbaikan relasi sosial. Simpulan penelitian menegaskan bahwa pembelajaran menulis puisi religius berbasis pengalaman memfasilitasi literasi spiritual santri melalui alur pengalaman konkret, refleksi, konseptualisasi puitis, penerapan nilai sehingga puisi berfungsi bukan hanya sebagai produk estetis, tetapi sebagai praktik pemaknaan yang berdampak pada orientasi nilai dan tindakan sehari-hari.