Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

PENERAPAN LAPORAN KEUANGAN ORGANISASI NIRLABA BERDASARKAN PSAK NO. 45 PADA YAYASAN PANTI ASUHAN SITI MASYITOH BESUKI SITUBONDO Mutammimah, Mutammimah; Yulinartati, Yulinartati; Nastiti, Sita
Jurnal Ilmiah Akuntansi dan Humanika Vol 8, No 3 (2018)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jinah.v8i3.20383

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menentukan apakah Yayasan Panti Asuhan Siti Masyitoh BesukiSitubondo telah menerapkan PSAK No. 45 dan ingin menunjukkan bahwa penting untuk menyiapkan laporan keuangan untuk yayasan. Tujuan yang ingin dicapai adalah bagaimana pelaporan keuangan yayasan Panti Asuhan Siti Masyitoh Besuki Situbondo sesuai atau tidak sesuai dengan PSAK No. 45 tentang laporan keuangan organisasi nirlaba. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif, dimana dengan menggunakan metode ini data yang diperoleh akan dianalisis secara kualitatif, yaitu dengan meninjau, menggambarkan, menganalisis dan menjelaskan data yang diperoleh di Yayasan Panti Asuhan Siti Masyitoh dengan mendapatkan penjelasan obyektif secara spesifik mengenai penerapan SAK No. 45 ke yayasan. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah dokumentasi dan wawancara dengan hasil yang menunjukkan bahwa Yayasan Panti Asuhan Siti Masyitoh Besuki Situbondo belum menyiapkan laporan keuangan sesuai dengan ketentuan PSAK No. 45. Pelaporan keuangan yang dilakukan hanya mencatat penerimaan dan pengeluaran dana atau uang tunai.
Analisis Perbandingan Metode Spelling Corrector Peter Norvig dan Spelling Checker BK-Trees pada Kata Berbahasa Indonesia Mutammimah, Mutammimah; Sujaini, Herry; Nyoto, Rudy Dwi
JUSTIN (Jurnal Sistem dan Teknologi Informasi) Vol 5, No 1 (2017)
Publisher : Jurusan Informatika Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1479.33 KB)

Abstract

Bahasa menjadi faktor penting dalam penyampaian pengetahuan dan acuan dalam penulisan dokumen, komunikasi dan pencarian informasi. Apabila dalam penulisan dokumen terdapat kesalahan maksud penulisan tersebut menjadi berbeda. Oleh karena itu, dibutuhkan sebuah program yang dapat mendeteksi kesalahan penulisan dan memberikan sugesti kata yang benar. Salah satu fitur yang dapat digunakan untuk mendeteksi kesalahan dan memberikan sugesti kata yang benar adalah fitur spelling corrector atau spelling checker atau spelling suggestion. Fitur ini berfungsi sebagai pendeteksi kesalahan dan memberikan panduan bagi penggunanya dengan menandai kata-kata yang tidak terdaftar dalam kamus suatu bahasa tertentu. Fitur ini juga disertai dengan sugesti kata yang berfungsi menyediakan rekomendasi kata-kata yang mendekati kata yang dimaksud. Hal ini yang mendasari untuk membandingkan metode spelling corrector Peter Norvig dan spelling checker BK-Trees dalam hal memberikan sugesti kata menggunakan bahasa Indonesia sehingga dapat dijadikan acuan sebagai pilihan pengguna membuat aplikasi yang membutuhkan fitur pengoreksian kata. Spelling Corrector Peter Norvig menggunakan cara dengan mengubah jarak kata yang salah atau dengan mengubah kata yang salah menjadi dua kata dan sejumlah suntingan yang dibutuhkan untuk mengubah satu ke yang lain. BKTrees atau Burkhard-Keller Tree adalah struktur data berupa pohon yang dibuat oleh Burkhard dan Keller pada tahun 1973 untuk mencari satu atau beberapa string yang mirip atau mendekati string yang menjadi input-an dan memanfaatkan metode Levesthein Distance untuk mendapatkan nilai sebagai pembanding kata yang salah dengan yang benar. Kamus yang dibuat menggunakan data korpus data berita online. Hasil analisis perbandingan metode Spelling Corrector Peter Norvig dan Spelling Cherker BK-Trees pada kata berbahasa Indonesia ini dapat diketahui bahwa metode Peter Norvig dapat memberikan 52,8% tingkat ketepatan yang lebih baik daripada metode BK-Trees yang menghasilkan 9%. Namun, metode Spelling Checker BK-Trees lebih unggul dalam hal tingkat keberhasilan 100% memberikan sugesti kata dan kecepatan rata-rata pemberian sugesti kata yang lebih rendah dari Peter Norvig.
Rukhṣah bagi Pasien Kemoterapi: Analisis Maqasid al-Shariʿah tentang Pelestarian Diri, Martabat dan Fatwa Kontemporer Mutammimah, Mutammimah; Nurhaqiqiy, Annisa Taqiyya; Kartika, Khofifah Ayu; Muhayar, Marhadi
Shautuna: Jurnal Ilmiah Mahasiswa Perbandingan Mazhab VOLUME 7 ISSUE 2, MAY 2026
Publisher : Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/shautuna.v7i2.69338

Abstract

Chemotherapy, as a major therapeutic modality for cancer, frequently causes hair discoloration and alopecia, affecting approximately 60–65% of patients. Beyond physical consequences, these conditions often result in psychological distress, diminished self-esteem, social withdrawal, and even refusal to continue life-saving treatment. Contemporary Islamic legal opinions, particularly the Indonesian Council of Ulama (MUI) Fatwa No. 23 of 2012 concerning hair dye, have not specifically addressed this medical context, creating a normative gap (farāgh tashrī‘ī). This study examines the permissibility of applying rukhṣah (legal concession) for chemotherapy patients to dye their hair within the framework of Maqāṣid al-Sharīʿah. This study employed normative legal research based on library sources, utilizing a maqāṣid-oriented approach. Primary and secondary legal materials, including classical juristic opinions, contemporary fatwas, and medical literature on chemotherapy, were analyzed qualitatively through doctrinal and maqāṣidic analysis. The findings reveal that hair alterations resulting from chemotherapy constitute pathological conditions beyond the patient's volition. The effective cause (‘illah) underlying the prohibition of black hair dye, namely deception (khidā‘) concerning age or appearance, is absent in this context. Furthermore, the legal construction of rukhṣah can be established upon four principles: psychological self-preservation (ḥifẓ al-nafs), preservation of human dignity (ḥifẓ al-‘irḍ), elimination of hardship (raf‘ al-ḥaraj), and maṣlaḥah mursalah. The study concludes that chemotherapy patients may be granted a rukhṣah to dye their hair as a means of preserving psychological well-being and human dignity. Contemporary fatwas should therefore incorporate specific provisions addressing medical conditions experienced by patients. The novelty of this study lies in reconstructing the jurisprudential basis for hair dye permissibility through the integration of medical realities and Maqāṣid al-Sharīʿah.