Mehamad Wijaya Tarigan
Sekolah Tinggi Teologia Abdi Sabda

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Mobilisasi Misi di Gereja Batak Karo Protestan di Tahun 1965 hingga 2023 Frans Mezhya Lauta Kaban; Mehamad Wijaya Tarigan
In Theos : Jurnal Pendidikan dan Theologi Vol. 3 No. 4 (2023): April
Publisher : Actual Insight

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (254.766 KB) | DOI: 10.56393/intheos.v3i4.1478

Abstract

Penelitian ini bertujuan mengetahui upaya Gereja yang harus memobilisasi misi. Mobilisasi misi tidak hanya melibatkan pelayan khusus melainkan jemaat. Mereka dilibatkan bukan hanya di dalam Gereja, melainkan ke luar Gereja untuk diutus memberitakan Injil kepada suku-suku terabaikan. Metode penelitian yang penulis pakai adalah deskriptif kualitatif dengan mengumpulkan data dari buku-buku dan arsip. Gereja Batak Karo Protestan melakukan mobilisasi misi hanya untuk suku Batak Karo saja, belum menjangkau suku lainnya. Ada beberapa hambatan yang dialami Gereja Batak Karo Protestan yaitu kekurangan dana, kekurangan tenaga dan kurangnya metode dalam melakukan mobilisasi misi serta adanya tuduhan kristenisasi. Dalam hal ini, Gereja Batak Karo Protestan perlu membentuk kelompok kecil serta memilih salah satu suku tertentu yang belum beragama. Sebaiknya dilakukan mobilisasi misi agar jemaat semangat dalam mempersiapkan hal dana, daya dan doa untuk memberitakan Injil ke luar yaitu menjangkau suku-suku yang belum beragama.
Dialog Kontekstual Para Misionaris NZG di Tanah Karo: Studi Kasus Pa Mbelgah dalam Ketegangan antara Iman dan Budaya Mehamad Wijaya Tarigan
In Theos : Jurnal Pendidikan dan Theologi Vol. 5 No. 6 (2025): Juni
Publisher : Actual Insight

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56393/intheos.v5i6.3713

Abstract

Penelitian ini menganalisis kegagalan dialog kontekstual para misionaris Nederlandsche Zendeling Genootschap (NZG) di Tanah Karo pada awal abad ke-20, dengan menyoroti kasus Pa Mbelgah (Bakal Purba) sebagai figur adat yang dikucilkan gereja karena mempertahankan gendang Karo dalam ritus budaya. Menggunakan pendekatan historis-teologis dan sosiologis, penelitian ini menemukan bahwa ketegangan antara iman dan budaya tidak hanya disebabkan oleh perbedaan teologis, tetapi juga oleh dominasi paradigma misi Barat yang menolak simbol-simbol lokal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa gereja masa kini perlu merekonstruksi paradigma misi yang lebih dialogis dan kontekstual. Novelty penelitian ini terletak pada reinterpretasi kasus Pa Mbelgah sebagai titik balik bagi teologi kontekstual Indonesia yang menghargai kearifan lokal dan memperjuangkan rekonsiliasi antara iman dan budaya. Penelitian ini berkontribusi pada wacana teologi kontekstual dan praktik inkulturasi dalam gereja lokal terhadap pengembangan model rekonstruktif bagi kajian misiologi dan teologi publik yang lebih inklusif terhadap keberagaman budaya. Gereja dipanggil untuk bergerak dari paradigma eksklusif menuju model misi yang dialogis, empatik, dan partisipatoris.