Penelitian ini menganalisis kegagalan dialog kontekstual para misionaris Nederlandsche Zendeling Genootschap (NZG) di Tanah Karo pada awal abad ke-20, dengan menyoroti kasus Pa Mbelgah (Bakal Purba) sebagai figur adat yang dikucilkan gereja karena mempertahankan gendang Karo dalam ritus budaya. Menggunakan pendekatan historis-teologis dan sosiologis, penelitian ini menemukan bahwa ketegangan antara iman dan budaya tidak hanya disebabkan oleh perbedaan teologis, tetapi juga oleh dominasi paradigma misi Barat yang menolak simbol-simbol lokal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa gereja masa kini perlu merekonstruksi paradigma misi yang lebih dialogis dan kontekstual. Novelty penelitian ini terletak pada reinterpretasi kasus Pa Mbelgah sebagai titik balik bagi teologi kontekstual Indonesia yang menghargai kearifan lokal dan memperjuangkan rekonsiliasi antara iman dan budaya. Penelitian ini berkontribusi pada wacana teologi kontekstual dan praktik inkulturasi dalam gereja lokal terhadap pengembangan model rekonstruktif bagi kajian misiologi dan teologi publik yang lebih inklusif terhadap keberagaman budaya. Gereja dipanggil untuk bergerak dari paradigma eksklusif menuju model misi yang dialogis, empatik, dan partisipatoris.
Copyrights © 2025