Sandy Kartasasmita
Universitas Tarumanagara

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

HUBUNGAN ANTARA PETER PAN SYNDROME DAN PERSEPSI TERHADAP INNER CHILD PADA DEWASA MUDA Sandy Kartasasmita; Vincent Christopher; Lakeisha Chienara; Anastasia Stefanie; Marlyn Pribadi
PSIKOLOGI KONSELING Vol 14, No 1 (2023): Jurnal Psikologi Konseling
Publisher : Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/konseling.v14i1.48109

Abstract

Peter Pan syndrome menggambarkan pola perilaku di mana individu tidak mau untuk tumbuh dewasa secara emosional dan menghindari tanggung jawab dewasa, sedangkan konsep inner child mencerminkan aspek dalam diri individu yang terkait dengan pengalaman, perasaan, dan kebutuhan masa kanak-kanak. Penelitian memiliki tujuan melihat suatu hubungan positif antara Inner Child dengan Peter Pan Syndrome melalui pendekatan kuantitatif. Peter Pan Syndrome berdasarkan pada teori Kiley (1997), konsep Peter Pan Syndrome digunakan untuk mengidentifikasi seorang yang tidak memenuhi karakteristik orang dewasa pada umumnya.dan Inner Child berdasarkan teori Bradshaw (1992), Inner Child terbentuk dari pengalaman atau kejadian di masa lalu seseorang yang belum tertangani dengan baik. Data akan dikumpulkan menggunakan kuesioner yang dirancang khusus untuk mengukur kebutuhan Inner Child dan gejala Peter Pan syndrome. Partisipan penelitian akan terdiri dari laki – laki dewasa berusia 25 – 30 tahun di daerah Jabodetabek. Hasil analisa korelasi akan digunakan untuk menguji hubungan antara kebutuhan Inner Child dan Peter Pan syndrome. Analisis data menggunakan program IBM SPSS versi 25 dan melakukan uji korelasi Pearson yang hasilnya terdapat hubungan positif antara Inner Child dengan Peterpan Syndrome (r = 0.728, p = 0.000) Berdasarkan hasil uji korelasi, antara Inner Child dan Peterpan Syndrome berhubungan. Implikasi penelitian ini dapat membantu pengembangan intervensi yang lebih terarah dan efektif untuk mendukung individu dengan Peter Pan syndrome dalam mengembangkan kedewasaan emosional dan mengatasi tantangan kehidupan dewasa.
Hubungan Self-Efficacy dengan Kemampuan Pengambilan Keputusan pada Dewasa Muda Anisah Maritza Putri; Cindy Muliawati Saputra; Dian Anugrah Dewi; Felicia Evelyn; Jocelyn Chowandi; Sandy Kartasasmita
Journal of Education Technology Information Social Sciences and Health Vol. 5 No. 2 (2026): September 2026
Publisher : CV. Rayyan Dwi Bharata

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57235/jetish.v5i2.8653

Abstract

Dewasa muda dituntut untuk mampu menentukan arah kehidupan pribadi, sosial, dan karirnya. Namun, keyakinan individu terhadap kemampuannya (self-efficacy) berpengaruh pada pengambilan keputusan individu. Oleh sebab itu, penelitian ini bertujuan untuk menguji hubungan antara self-efficacy dengan lima gaya pengambilan keputusan yaitu rational, intuitive, dependent, avoidant, dan spontaneous pada dewasa muda. Penelitian ini melibatkan 385 partisipan dewasa muda berusia 17-25 tahun menggunakan pendekatan kuantitatif korelasional dengan teknik purposive sampling. Instrumen yang digunakan adalah General Self-Efficacy Scale (GSE) dan General Decision Making Style (GDMS). Hasil menunjukan self-efficacy berkorelasi positif dan signifikan dengan decision making (ρ = 0,373, p < 0,001) dengan kekuatan hubungan lemah hingga sedang, juga self-efficacy dan pengambilan keputusan partisipan laki-laki cenderung lebih tinggi (ρ = 0,461) dibandingkan perempuan (ρ = 0,292). Ketika dianalisis per dimensi, self-efficacy berkorelasi signifikan dengan gaya pengambilan keputusan rational (ρ = 0,535, p < 0,001) yang mengindikasikan bahwa individu dengan tingkat self-efficacy yang lebih tinggi cenderung mengambil keputusan yang berbasis analisis. Korelasi positif yang signifikan juga ditemukan pada dimensi intuitive (ρ = 0,377, p < 0,001) dan dependent (ρ = 0,293, p < 0,001). Gaya pengambilan keputusan spontaneous berkorelasi secara signifikan namun dengan kekuatan yang sangat lemah (ρ = 0,123, p = 0,016). Sebaliknya, tidak ditemukan korelasi antara self-efficacy dan gaya pengambilan keputusan avoidant (ρ = −0,040, p = 0,429) yang mengindikasikan bahwa self-efficacy tidak memprediksi kecenderungan individu untuk menghindari pengambilan keputusan. Temuan ini mengimplikasikan bahwa penguatan self-efficacy dapat menjadi strategi yang relevan dalam meningkatkan kualitas pengambilan keputusan pada dewasa muda.