Dewa Ayu Putu Ratna Juwita
Faculty Medicine and Health Sciences Warmadewa University

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Gambaran Tingkat Capaian Indikator Spesifik dan Sensitif 1000 HPK pada Balita 0-2 Tahun di Kecamatan Tegallalang Luh Gede Pradnyawati; Dewa Ayu Putu Ratna Juwita; Anak Agung Sagung Mirah Prabandari
Jurnal Genta Kebidanan Vol 12 No 2 (2023)
Publisher : Politeknik Kesehatan Kartini Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (248.113 KB) | DOI: 10.36049/jgk.v12i2.113

Abstract

Banyak negara di dunia mengalami permasalahan gizi ganda yaitu stunting, wasting dan overweight pada anak balita, dan Indonesia termasuk salah satunya. Dalam gerakan 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) telah dijelaskan bahwa untuk menanggulangi masalah kurang gizi diperlukan intervensi yang spesifik dan sensitif. Intervensi spesifik dilakukan oleh sektor kesehatan seperti penyediaan vitamin, makanan tambahan, dan lainnya sedangkan intervensi sensitif dilakukan oleh sektor non kesehatan seperti penyediaan sarana air bersih, ketahanan pangan, jaminan kesehatan, pengentasan kemiskinan dan sebagainya. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran tingkat capaian indicator spesifik dan sensitif pada 1000 HPK di Kecamatan Tegallalang. Rancangan penelitian yang ini adalah penelitian deskriptif dengan survey rumah tangga dengan pendekatan cross-sectional pada 30 cluster. Dari setiap block sensus yang terpilih akan dipilih sebanyak 5 sampel anak berusia 0-1 tahun dan 5 anak berusia 1-2 tahun dengan cara simple random dengan total sampel 300 responden. Dalam penerapan 1000 hari pertama kehidupan, khususnya dalam tingkat capaian intervensi spesifik terdapat ibu hamil yang terekspose asap rokok atau perokok pasif sebesar 41%. Ibu yang menyususi balitanya secara eksklusif sebesar 44%. Pada tingkat capaian indikator sensitif khususnya penyediaan air bersih dan sanitasi dalam penerapan 1000 hari pertama kehidupan didapatkan yang mengakses air bersih berupa sumber air PDAM atau kemasan hanya 20%. Perlunya penelitian lebih lanjut dengan menambah atau memperluas variabel lainnya serta mengembangkan metode penelitian.
Pemberdayaan LSL dalam Penanggulangan IMS dan HIV/AIDS di Kota Denpasar Luh Gede Pradnyawati; Dewa Ayu Putu Ratna Juwita; Made Indra Wijaya; Komang Triyani Kartinawati
Genitri: Jurnal Pengabdian Masyarakat Bidang Kesehatan Vol 2 No 1 (2023): Juni
Publisher : Politeknik Kesehatan Kartini Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36049/genitri.v2i1.112

Abstract

Di Indonesia dari tahun ke tahun kasus Lelaki Seks Lelaki (LSL) mengalami jumlah peningkatan yang signifikan. Bali merupakan provinsi yang memiliki jumlah kasus HIV/AIDS yang tinggi dimana Kota Denpasar adalah kota yang tertinggi atas keberadaan LSL. Dari hasil penelitian didapatkan walaupun pemakaian kondom sudah digalakkan, tetapi mereka masih ada yang tidak menggunakan kondom saat berhubungan seksual. Mereka sebagian besar beralasan bahwa pasangan mereka tidak menyukai penggunaan kondom dalam berhubungan seksual. Minimalnya pengetahuan mitra mengenai pencegahan IMS dan HIV/AIDS tersebut. Mitra yang dalam hal ini sebagai perpanjangan tangan dari tenaga kesehatan di puskesmas tidak memiliki gambaran mengenai pelaksanaan program pencegahan tersebut. Mereka tidak mengetahui apa saja bahaya dari IMS, faktor risiko, cara penularannya serta cara pencegahannya termasuk juga program VCT. Dengan adanya pandemi Covid-19 yang sudah berlangsung 2 tahun, membuat terjadinya penurunan pemasukan dari pelanggan yang berdampak pada perekonomian mereka. Sehingga mereka membutuhkan penghasilan tambahan selain dari memuaskan pelanggan. Dari kegiatan ini telah meningkatkan pemahaman LSL serta orang-orang di sekitarnya mengenai pentingnya pencegahan IMS dan HIV/AIDS. Peningkatan skill LSL melalui pelatihan bagi mitra dalam pembuatan APD seperti masker, handsanitizer, face shield. Pelatihan ini dilakukan untuk membantu LSL dalam mencari pemasukan tambahan selain bekerja di Yayasan Kapelata sehingga permasalahan perekonomian mereka terbantu di masa pandemi Covid-19.