p-Index From 2021 - 2026
0.408
P-Index
This Author published in this journals
All Journal Jurnal Geodesi Undip
Abdi Sukmono
Department of Geodetic Engineering, Universitas Diponegoro, Jl. Prof. Sudarto, SH, Tembalang, Semarang, Indonesia 50275

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Analisis Tingkat Risiko Tsunami Kota Ambon Dengan Metode Analytical Hierarchy Process (AHP) Ajeng Roro Setiowati; L.M. Sabri; Abdi Sukmono
Jurnal Geodesi Undip Vol 12, No 1 (2023): Jurnal Geodesi Undip
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jgundip.2023.37286

Abstract

Kota Ambon sebagai ibu kota Provinsi Maluku yang terletak pada Kawasan Rawan Bencana (KRB) pesisir Pulau Ambon memerlukan upaya mitigasi bencana tsunami mengingat 40% kejadian tsunami yang tercatat di Indonesia selama rentang tahun 1600-2015 terjadi di wilayah Maluku. Pembuatan peta risiko bencana tsunami adalah salah satu upaya mitigasi dengan memetakan tingkat risiko dan potensi kerugian yang dapat ditimbulkan oleh bencana. Pada penelitian ini pemetaan risiko tsunami akan menggunakan Model Crunch dengan parameter yang mengacu pada Perka BNPB No. 2 Tahun 2012. Berdasarkan Model Crunch, tingkat risiko tsunami diperoleh dari hasil perkalian tingkat ancaman dan tingkat kerentanan. Pemetaan tingkat ancaman menggunakan metode Hloss dengan model tsunami setinggi 10 meter. Pemetaan tingkat kerentanan menggunakan metode overlay dan Analytical Hierarchy Process (AHP) untuk penentuan bobot tiap parameter. Parameter tingkat kerentanan terdiri atas kepadatan penduduk, kepadatan bangunan, kontribusi PDRB, dan lingkungan. Hasil penelitian risiko bencana tsunami diperoleh bahwa pesisir Kota Ambon didominasi oleh tingkat risiko rendah dengan luas 386,699 Ha atau 89,256% dari total wilayah berisiko. Tingkat risiko sedang memiliki luas 43,962 Ha (10,147%) yang terdiri atas Kecamatan Sirimau dengan luas 26,836 Ha dan Kecamatan Nusaniwe dengan luas 17,125 Ha. Dua kelurahan memiliki risiko tinggi terhadap tsunami yaitu Kelurahan Silale dan Kelurahan Waihaong dengan luas wilayah berisiko masing-masing sebesar 1,964 Ha dan 2,172 Ha. Tingkat risiko tsunami di Kota Ambon dapat dikatakan rendah berdasarkan hasil pengolahan yang telah diperoleh. Hal ini dapat disebabkan karena pertumbuhan penduduk dan pembangunan yang kurang merata dan cenderung berpusat di Kecamatan Sirimau dan Kecamatan Nusaniwe.
Evaluasi Kelayakan Kawasan Industri di Kabupaten Demak Goodfried Samuel Syahputra; Hana Sugiastu Firdaus; Abdi Sukmono
Jurnal Geodesi Undip Vol 12, No 2 (2023): Jurnal Geodesi Undip
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jgundip.2023.37978

Abstract

Pemerintah Kabupaten Demak mengeluarkan Peraturan Daerah tentang Rencana Tata Ruang Wilayah sebagai upaya dalam meningkatkan dan mengembangkan kawasan industri di Kabupaten Demak. Berdasarkan Perda Kabupaten Demak No. 1 Tahun 2020, terdapat perbedaan luas lahan yang dicanangkan sebagai kawasan industri dari Perda No. 6 Tahun 2011. Perubahan luas tersebut sebesar 1.800 hektar menjadi 7.646 hektar. Perubahan luas pada kawasan peruntukkan industri tersebut, semakin meningkatkan peran evaluasi lahan tersebut. Evaluasi kawasan industri berperan untuk mengetahui tingkat kelayakan sebuah kawasan industri agar dalam pengembangannya tidak berlawanan dengan peraturan yang sudah berlaku. Salah satu metode yang digunakan dalam pengevaluasian lahan adalah Sistem Informasi Geografis (SIG) dengan metode weighted overlay dimana weighted overlay merupakan pemecah masalah multikriteria. Fuzzy Analytical Hierarchy Process (FAHP) merupakan salah satu metode dari MCDM yang dapat digunakan untuk pengevaluasian lahan. Setelah didapat hasil pembobotan kemudian dilakukan proses intersect dengan kawasan peruntukan industri di Kabupaten Demak guna mengetahui klasifikasi tingkat kelayakannya. Sehingga didapatkan tingkat kelayakan dengan klasifikasi “Sangat sesuai” memiliki persentase 70,85% dengan luas sebesar 5.417,56 hektar dan klasifikasi “Cukup sesuai” memiliki persentase 29,15% dengan luas sebesar 2.228,44 hektar.