Wilayah pesisir Kabupaten Mamuju ibu kota Provinsi Sulawesi Barat, menghadapi tekanan banjir Rob yang semakin meningkat akibat kenaikan muka air laut dan fluktuasi siklus pasang surut. Penelitian ini memetakan distribusi spasial zona bahaya banjir Rob menggunakan metode Complete Mapping Analysis (CMA) yang diintegrasikan dengan Sistem Informasi Geografis (SIG). Berbeda dengan pendekatan weighted overlay konvensional, CMA menginkorporasi rasio Nilai Teramati (Oi) terhadap Nilai Harapan (Ei) kejadian banjir per satuan spasial, sehingga menghasilkan klasifikasi bahaya yang lebih objektif. Enam parameter biofisik dengan pembobotan dianalisis, meliputi elevasi lahan, jarak dari garis pantai, jarak dari sungai, kemiringan lereng, tutupan lahan, dan jenis tanah. Bobot parameter ditetapkan berdasarkan konsensus literatur dan divalidasi melalui penilaian pakar. Pada area kajian seluas 5.115,56 hektare, hasil menunjukkan bahwa 260,84 ha (5,27%) termasuk zona bahaya tinggi, 1.007,56 ha (20,34%) zona bahaya sedang, dan 3.847,16 ha (77,65%) zona bahaya rendah. Zona bahaya tinggi terkonsentrasi di sepanjang jalur pesisir barat, khususnya di sekitar muara sungai dan permukiman pada elevasi di bawah 2 meter. Validasi terhadap data kejadian banjir historis BPBD (2019–2025) menghasilkan akurasi keseluruhan sebesar 82,5%. Analisis silang dengan data penggunaan lahan menunjukkan bahwa 18,5 ha permukiman berada di zona bahaya tinggi (N2 – Tidak Sesuai) dan 19,1 ha di zona bahaya sedang (S3 – Sesuai Bersyarat). Penelitian ini berkontribusi pada pengembangan kerangka CMA–Oi/Ei yang tervalidasi lapangan untuk pemetaan bahaya pesisir tropis di Sulawesi Barat, sebagai dasar bukti spasial bagi revisi kebijakan RTRW dan RZWP3K.