Claim Missing Document
Check
Articles

Found 36 Documents
Search

F. Budi Hardiman, Seni Memahami Hermeneutik dari Schleiermacher sampai Derrida, Yogyakarta: Kanisius, 2015, 343 hlm. Franz Magnis-Susesno
DISKURSUS - JURNAL FILSAFAT DAN TEOLOGI STF DRIYARKARA Vol. 15 No. 1 (2016): Diskursus - Jurnal Filsafat dan Teologi STF Driyarkara
Publisher : STF Driyarkara - Diskursus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (161.609 KB)

Abstract

Hermeneutika adalah ilmu tentang pemahaman. Mengapa pemahaman perlu ada ilmunya? Karena, sebagaimana kita tahu dari pengalaman sehari-hari, kita sering salah paham. Kita mendengar persis apa yang dikatakan orang lain, tetapi kita salah tangkap juga dan terjadi masalah. Hal yang sama berlaku bagi ekspresi-ekspresi manusia lain. Misalnya, ada monumen. Ambil batu-batuan di Stonehenge di Inggris yang diperkirakan sudah berumur ribuan tahun. Tentang maksud tiang-tiang batu itu para ahli tetap masih menerka-nerka. Tetapi seorang penduduk Jakarta, begitu melihat fotonya, langsung merasa tahu apa yang dimaksud oleh orang-orang Inggris kuno itu: Tentu Stonehenge adalah percobaan pertama umat manusia untuk membangun kereta monorail, dan, sama dengan di Jakarta, mereka pun gagal. Mana yang benar? Masalahnya sederhana, tetapi pemecahannya tidak. Yang sederhana: kita semua sudah mempunyai pengertian-pengertian tertentu, misalnya, bahwa tiang batu ke atas merupakan calon tiang kereta mono-rail. Tetapi mereka yang membangunnya di Stonehenge barangkali punya pikiran sama sekali lain. Yang tidak sederhana: bagaimana kita yang sekarang dapat mengerti apa yang dimaksud manusia dengan sebuah monumen, padahal manusia itu sudah lama mati dan tidak dapat ditanyai lagi. Persoalan ini tentu tidak hanya mengenai monumen, melainkan menyangkut bagaimana ungkapan orang lain dapat dipahami sesuai dengan apa yang dia maksud terutama muncul apabila kita membaca sebuah teks. Kita mengira bahwa teks itu sudah jelas maksudnya, tetapi andaikata kita masih bisa bertanya pada penulis apa yang sebenarnya dia maksud dengan menulis teks itu, bisa juga maksudnya berbeda dari pra-anggapan kita. ... Buku ini berakhir dengan suatu bab Penutup sepanjang 24 halaman yang merupakan semacam rangkuman. Fokus penutup amat aktual, yaitu masalah literalisme, paham bahwa sebuah teks suci harus dipahami secara harafiah tak boleh ditafsir-tafsir, serta hubungan-nya dengan fundamentalisme, radikalisme, ekstremisme agama, serta mengapa literalisme justru tidak setia terhadap teks yang dikatakan mau diikuti secara harafiah. Buku ini memberikan pengertian yang cukup lengkap, dalam bahasa yang mudah diikuti, kepada filosof pemula, tetapi juga bagi filosof kawakan, buku Budi Hardiman itu bisa sangat membantu. Buku ini terutama sangat penting bagi para teolog, ulama dan ahli Kitab Suci segala agama. (Franz Magnis-Suseno, Guru Besar Ilmu Filsafat Emeritus, Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, Jakarta).
A. Setyo Wibowo - Haryanto Cahyadi Mendidik Pemimpin dan Negarawan Dialektika Filsafat Pendidikan Politik Platon. Dari Yunani Antik Hingga Indonesia Yogyakarta: Penerbit Lamalera 2014, xvi+385 hlm. Franz Magnis-Suseno
DISKURSUS - JURNAL FILSAFAT DAN TEOLOGI STF DRIYARKARA Vol. 13 No. 2 (2014): Diskursus - Jurnal Filsafat dan Teologi STF Driyarkara
Publisher : STF Driyarkara - Diskursus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (158.129 KB) | DOI: 10.36383/diskursus.v13i2.85

Abstract

Buku yang ditulis oleh Dr. A. Setyo-Wibowo (SW) dan Haryanto Cahyadi, M. Hum. (HC), dua-duanya dosen filsafat, yang satu di Jakarta, yang satu di Jayapura, ini betul-betul memperkaya pustaka tentang filsafat dalam bahasa Indonesia. Platon tetap salah satu filosof terbesar, kalau bukan filosof terbesar segala zaman. Dalam buku ini para penulis mengantar pembaca ke jantung filsafat Platon. Mereka melakukannya dengan membawa pembaca ke dalam teks-teks kunci Platon. Yang mereka angkat adalah pemikiran Platon tentang pendidikan. Pendidikan bukan salah satu bidang pemikiran Platon, melainkan intinya. Seluruh filsafat Platon, seperti setiap filsafat sejati, akhirnya hanya punya satu tujuan: ia mau mencerahkan. Ya mencerahkan kita. Menunjukkan ke mana kita harus mengarahkan dan mengembangkan kita agar kita menjadi manusia yang mutu. Buku ini membuat kita betul-betul mengerti Platon, tidak hanya seperti dalam buku-buku “ringkasan sejarah filsafat”, melainkan secara mendalam. Namun buku SW dan HC ini mempunyai nilai lebih. Mereka tidak hanya membawa kita ke Platon, melainkan mengangkat aktualitas pemikirannya. Platon mau mendidik pemimpin negara. Ia tidak berfilsafat dalam udara kosong, melainkan pada zaman di mana demokrasi Athena sudah kacau balau karena disandera oleh elit-elit korup. Dalam situasi ini Platon mengembangkan konsepsinya tentang suatu pendidikan yang bisa melahirkan pemimpin negara yang baik. SW dan HC menunjukkan bahwa pemikiran Platon 2500 tahun lalu sekarang di Indonesia pun masih pantas diperhatikan. Buku ini bukan bacaan gampang. Uraiannya tidak secara esai omongan ringan, melainkan betul-betul ngilmu, memakai metode-metode analisa filosofis, mengutip dari teks-teks Platon sendiri, dengan mengacu pada pustaka para ahli Platon yang state of the art. Bahasa pun tidak menggampangkan. Untuk tetap rapat dengan teks, mereka suka memakai kata-kata kunci dalam bahasa Yunani. Ambil misalnya judul ini: "Paideia Kaum Sofis: Penciutan Aisthesis-Arete dan Dominasi 'Empeiria'". Pembaca mana langsung akan tahu apa kiranya akan dibahas. Pembaca barangkali sering harus mencari dalam daftar istilah (yang, sayang, tidak lengkap) apa arti suatu kata, misalnya logistikon atau Iliados, kemudian lupa lagi, cari lagi dst. Tetapi bagi pembaca yang bertahan ganjarannya besar. Ia akan masuk ke dalam pemikiran Platon yang asli, rinci, sangat menarik. ..................... Masih satu catatan tentang cita-cita manusia yang kaloskagathos, elok nan baik. Membaca uraian bagus para penulis saya terdorong untuk bertanya apakah bukan sudah waktunya cita-cita Yunani kuno yang dalam etika kontemporer sama sekali hilang itu perlu diangkat kembali. Paham manusia mutu sebagai manusia elok nan baik berhasil melepaskan etika dari moralisme sempit (searah dengan MacIntyre – After Virtue – yang mengangkat kembali paham "keutamaan" Yunani yang kuat dan utuh terhadap paham mandul-moralistik istilah "keutamaan" dalam budaya Barat). Begitu pula etika Jawa memahami kebaikan manusia yang mantap dan utuh dalam keterkaitan antara kebaikan etis dan kebaikan estetik. - Catatan kecil: Dalam indeks seharusnya tidak dimuat nama yang terdapat dalam daftar pustaka. Buku Setyo Wibowo dan Haryanto Cahyadi ini bukan hanya pandu kompeten ke jantung filsafat Platon, melainkan memberikan rangsangan-rangsangan baru untuk pemikiran filosofis. (Franz Magnis-Suseno, Program Pascasarjana, Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, Jakarta).
M. Sastrapratedja, Lima Gagasan Yang Dapat Mengubah Indonesia, Jakarta: Pusat Kajian Filsafat dan Pancasila, 2013, 413 hlm. Franz Magnis-Susesno
DISKURSUS - JURNAL FILSAFAT DAN TEOLOGI STF DRIYARKARA Vol. 13 No. 1 (2014): Diskursus - Jurnal Filsafat dan Teologi STF Driyarkara
Publisher : STF Driyarkara - Diskursus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (132.338 KB) | DOI: 10.36383/diskursus.v13i1.98

Abstract

Lima gagasan yang dapat mengubah Indonesia itu tentu Pancasila. Sebagaimana ditulis Jakob Oetama dalam kata pengantar buku Profesor Sastrapratedja, sudah sangat mendesak untuk mengaktualisasikan kembali Pancasila. Pancasila sudah lama berada dalam bahaya, bukan karena masih ada kekuatan politik yang mempersoalkannya, melainkan karena dukungan terhadap Pancasila cenderung menguapkan maknanya. Di masa Demokrasi Terpimpin Pancasila semakin dikesampingkan oleh semboyan-semboyan lain di mana yang paling tragis adalah NASAKOM. Di masa Orde Baru Pancasila dinyatakan sakti dan sesudahnya jutaan saudara dan saudari sebangsa dibunuh, dikucilkan, dan dihancurkan eksistensinya; Pancasila menjadi payung salah satu kejahatan terbesar dalam sejarah umat manusia. Dan kemudian, melalui manipulasi, seperti dalam Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila, Pancasila di-jawa-kan—dalam pidatonya di Pekanbaru Suharto mengatakan bahwa untuk memahami Pancasila orang perlu tahu falsafah honocaroko—dan dibonsai menjadi anjuran untuk bersikap baik-baik, bebas bertanggungjawab di bawah naungan pemerintah. Pancasila bonsai itu diindoktrinasikan melalui kursus-kursus BP7 kepada masyarakat. Maka waktu Suharto meninggalkan tahta kekuasaannya, Pancasila seakan sudah masuk kotak, orang sepertinya malu berbicara mengenai Pancasila. Panggung ideologis yang kosong segera mulai diisi oleh ideologi-ideologi picik-agamis-eksklusivis yang betul-betul mau membersihkan Indonesia dari sisa Pancasila. Maka pada 2006 AIPI (Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia) menyerukan kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono agar Pancasila kembali dijadikan acuan akhir eksplisit segala kebijakan kenegaraan. Karena itu, pemahaman kembali tentang arti Pancasila sangat mendesak. Itulah aktualitas buku Professor Sastrapratedja. Judulnya bukan sekedar kata keren. Sastrapratedja menunjukkan bahwa Pancasila bukan sebuah dokumen sejarah saja—seperti Declaration of Independence Amerika Serikat—atau sebuah pilar di atasnya bangsa Indonesia meneruskan perjalanannya. Sastrapratedja memperlihatkan bahwa Pancasila mempunyai gigi; artinya, Pancasila merupakan petunjuk tajam tentang kebijakan mana yang boleh dan tidak boleh diambil oleh negara yang mewujudkan bangsa Indonesia. Sastrapratedja menunjukkan dengan rinci bahwa kalau kita mengaku mendasarkan kehidupan bangsa pada lima sila Pancasila maka ada konsekuensinya. Ada kebijakan yang wajib diambil dan ada kebijakan yang wajib ditolak. Kalau negara kita mengikuti petunjuk Pancasila maka negara kita akan berubah. Buku ini terdiri dari dua puluh tiga makalah yang ditulis penulis dalam lima belas tahun terakhir. Bentuk itu menguntungkan karena pembaca tidak perlu membaca 393 halaman teks ini dari permulaan sampai akhir. Daftar isi yang cukup jelas, sebuah indeks nama dan sebuah indeks analitis rinci membantu pembaca untuk menemukan persis apa yang dicarinya. Sastrapratedja tentu tidak hanya membicarakan Pancasila. Di antara sekian masalah yang dibicarakan ada, misalnya, ”etika ilmu pengetahuan“—yang menurut Sastrapratedja memuat lima prinsip: harus menghormati martabat manusia sebagai pribadi, berpegang pada prinsip ”tidak merugikan,” terarah pada kesejahteraan bagi manusia dan masyarakat seluruhnya, pada pengurangan penderitaan, serta pada pemerataan hasil-hasilnya—, ”nasionalisme,“ ”jati diri manusia Indonesia,“ ”globalisasi“ dan tantangannya, pelbagai arti kata ”ideologi,“ ”etika politik,“ arti ”budaya politik,“ ”multikulturalisme,“ ”krisis modernitas“ sampai ”keamanan pangan“ sebagai tantangan etis. ....... Satu muatan Pancasila yang diangkat oleh Sastrapratedja adalah bahwa ”Pancasila menjadikan kehidupan masyarakat dan negara lebih manusiawi.” Mempancasilakan Indonesia berarti membuat bangsa Indonesia hidup bersama dengan lebih manusiawi. Hal itu eksplisit dituntut dalam sila kedua, tetapi memancar ke semua sila. Lebih manusiawi berarti penolakan terhadap kekerasan sebagai sarana untuk menyelesaikan masalah. Pancasila mendorong untuk mengusahakan “penghalusan perasaan” dan “transformasi keagresifan” manusia Indonesia. Ketuhanan Yang Maha Esa memanusiakan manusia dengan mengajak menghormati perbedaan, mengakui identitas semua warga dan komunitas masyarakat, dan dengan menjamin kebebasan beragama dan ”toleransi” terhadap kemajemukan. Menjunjung tinggi Pancasila membawa kewajiban untuk menjamin hak-hak asasi manusia. Demokrasi membawa ”komitmen pada kesamaan.” Usaha mewujudkan keadilan sosial berakar dalam solidaritas. Bahwa Pancasila merupakan suatu etika politik, menurut Sastrapratedja, tidak berarti bahwa Pancasila tidak menyangkut sikap etis manusia Indonesia masing-masing. Pancasila dapat menjadi etika politik apabila nilai-nilai Pancasila dihayati oleh masyarakat masing-masing. Sesuai dengan lima silanya karakter manusia Pancasilais ditandai oleh lima kemampuan: kemampuan untuk menghargai perbedaan, untuk membawa diri secara manusiawi dan santun, untuk mencintai tanah airnya, untuk bersikap demokratis, serta bersikap adil dan solider. Pendidikan Pancasila dengan demikian adalah pendidikan yang mendukung perkembangan sikap-sikap Pancasilais itu. Sesuatu yang masih dapat dimasukkan ke dalam edisi berikut buku ”Lima Gagasan…” adalah tanggapan terhadap pelbagai paham tentang Pancasila yang selama ini muncul di Indonesia. Ada sebuah koreksi kecil. Catatan Delanty, yang dikutip Sastrapratedja, yang mengatakan bahwa Ayatullah Khomeini dulu menyebarkan gagasannya lewat internet (hlm. 85) tentu keliru. Waktu Khomeini di Paris—dan sampai ia meninggal dunia—belum ada internet. (Franz Magnis-Suseno, Guru Besar Ilmu Filsafat Emeritus, Sekolah Tinggi Filsafat, Driyarakra, Jakarta ).
Charles Taylor, A Secular Age, Cambridge, Mass./London: The Belknap Press of Harvard University Press, 2007, 874 hlm. Franz Magnis-Susesno
DISKURSUS - JURNAL FILSAFAT DAN TEOLOGI STF DRIYARKARA Vol. 12 No. 1 (2013): Diskursus - Jurnal Filsafat dan Teologi STF Driyarkara
Publisher : STF Driyarkara - Diskursus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (198.933 KB) | DOI: 10.36383/diskursus.v12i1.124

Abstract

Charles Taylor—yang lahir pada 1931 di Kanada—adalah salah seorang filosof kontemporer berbahasa Inggris paling terkenal. Ia menjadi guru besar di Montreal dan mengajar juga di Oxford. Hampir 20 tahun sesudah dua jilid bukunya, Sources of the Self: The Making of Modern Identity (1989), memperoleh perhatian besar, Taylor menerbitkan buku A Secular Age, sebuah karya lebih raksasa lagi, yang oleh Robert N. Bellah disebut “salah satu buku terpenting semasa hidup saya.” Buku ini menceritakan sejarah sekularisasi di Barat dan dengan demikian juga sejarah per- kembangan spiritualitas intelektual Barat dalam 500 tahun terakhir. Yang langsung mengesankan adalah luasnya pengetahuan Taylor. Taylor akrab dengan seluruh filsafat dan pemikiran yang mengungkapkan intelektualitas Barat. Uraiannya, di satu pihak, menarik garis-garis besar, di lain pihak, memperlihatkan garis-garis itu dengan penelurusan rinci terhadap apa yang ditulis oleh tokoh-tokoh intelektual, para filosof, teolog, sastrawan dan penyair. Yang juga menarik, Taylor memperlihatkan bagaimana “apa yang semula dipikirkan hanya oleh para elit, menjadi milik umum masyarakat-masyarakat seluruhnya” (hlm. 299). Perkembangan yang ditelusuri Taylor betul-betul mengherankan. Dalam pertanyaan Taylor: “Apa yang berubah antara tahun 1500 di mana hampir tidak mungkin orang tidak percaya (pada Allah), dan tahun 2000 di mana tidak hanya terdapat banyak orang ateis yang bahagia, melainkan sebaliknya di lingkungan-lingkungan tertentu iman menantang lagi sebagai aliran amat kuat?” Bagaimana Eropa Kekristenan Latin— kekristenan yang pernah memakai bahasa Latin di Eropa Tengah dan Barat, dunia yang sejak abad ke-16 terbagi dalam Katolik dan Protestan— menjadi Barat di mana “iman, bahkan bagi mereka yang yakin, hanya merupakan salah satu kemungkinan bagi manusia di antara banyak kemungkinan lain?” (hlm. 3). ............................. Kesimpulan dari uraian Taylor yang dapat ditarik adalah bahwa sekularisasi merupakan sebuah proses yang kompleks, yang menggagalkan segala penjelasan sederhana dan linear. Alam sosial tersekularisasi sendiri adalah kompleks. Di satu pihak, alam itu merupakan puncak humanisme eksklusif warisan Pencerahan, tetapi, di lain pihak, eksklusivisme itu ditantang oleh suatu “kelaparan spiritual” (hlm. 680) yang tetap terarah ke sesuatu di “seberang.” “Cerita dominan sekularisasi yang cenderung mempersalahkan agama-agama atas banyaknya kesusahan dunia kita lama-kelamaan akan semakin tidak dipercayai lagi” (hlm. 770). Namun, kalau agama mau mempertahankan diri maka wakil-wakilnya harus belajar menjadi rendah hati. Perlu ditambah bahwa Taylor sedikit pun tidak memasuki pertanyaan yang banyak dikemukakan di Indonesia dan dijawab secara berbeda-beda, yaitu, apakah perkembangan 500 tahun di dunia Kristianitas Latin (Katolik dan Protestan), jadi di “Barat,” dari dunia yang penuh dengan roh-roh dan di mana ateisme sepertinya mustahil menjadi sebuah dunia humanisme eksklusif di mana untuk sebagian makin besar warga kontemporer realitas Ilahi, realitas di “seberang,” dianggap tidak ada, atau sekurang-kurangnya tidak mempunyai fungsi atau hak normatif. Buku Charles Taylor ini amat pantas dibaca dan betul-betul menantang. Kalau kita membacanya—yang tidak perlu secara tergesa-gesa—kita akan merasa mendapat wawasan yang luas, kita menjadi mengerti apa yang memotori modernitas. Buku ini betul-betul sebuah master piece. (Franz Magnis-Suseno, Guru Besar Emeritus, Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, Jakarta).
Armin Kreiner, Jesus, UFOs, Aliens Außerirdische Intelligenz als Herausforderung für den christlichen Glauben, Freiburg/ Basel/Wien: Herder 2010, 218 hlm. Franz Magnis-Susesno
DISKURSUS - JURNAL FILSAFAT DAN TEOLOGI STF DRIYARKARA Vol. 11 No. 2 (2012): Diskursus - Jurnal Filsafat dan Teologi STF Driyarkara
Publisher : STF Driyarkara - Diskursus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (190.986 KB) | DOI: 10.36383/diskursus.v11i2.146

Abstract

Belum begitu lama dua buah berita menggoncangkan dunia (astro-fisika). Yang pertama, CERN, Pusat penelitian atom di Geneva, yang dalam dua eksperimen berturut-turut menemukan bahwa neutrino (bagian mikro paling kecil) bergerak dengan kecepatan sedikit melampaui kecepatan cahaya. Yang kedua, pada minggu kedua Januari yang lalu pengamatan astronomis mutakhir menengarai bahwa dalam Bimasakti kita rata-rata setiap dari 10 milyar bintangnya mempunyai sekurang-kurangnya satu planet yang mirip dengan planet kita, bumi. Berita pertama begitu dahsyat sehingga para ahli fisika yang membuat eksperimen itu belum mau mempercayainya, karena kalau amatan mereka betul, salah satu pilar fisika modern—teori relativitas khusus Einstein— runtuh. Sebuah revolusi baru dalam fisika. Salah satu implikasinya: kemungkinan menjalin komunikasi dengan extraterrestrial intelligence (ETI)—kalau ada—bertambah besar. Berita kedua lebih dahsyat lagi implikasinya. Sampai sekarang banyak astronom berpendapat bahwa probabilitas terjadinya planet dengan ciri-ciri seperti bumi adalah sedemikian kecil sehingga tidak mustahil kalau manusia merupakan satu-satunya makhluk berakal-budi di alam raya. Tetapi kalau di Bimasakti kita saja—satu di antara (diperkirakan) 1011 Bimasakti di seluruh alam raya—terdapat 10 milyar planet mirip bumi, adanya makhluk berakal budi di luar bumi (aliens) merupakan kemungkinan kuat. Dua penemuan ini mengangkat salah satu tantangan paling serius bagi teologi Kristiani: kalau ada makhluk berakal budi di tempat lain di alam raya, apa implikasinya bagi inti iman Kristiani, peristiwa Yesus Kristus? Apakah mereka juga perlu ditebus dari dosa? Dan kalau perlu, apakah karya penebusan Yesus juga berlaku bagi mereka? Kalau penyelamatan ilahi di planet-planet tidak berkaitan dengan Yesus Kristus, apa Yesus Kristus masih mempunyai relevansi universal dalam rencana penyelamatan ilahi? Pertanyaan-pertanyaan ini bukanlah pertanyaan iseng-iseng, melainkan menyangkut hakikat iman Kristiani. Persis masalah inilah yang dibahas oleh Armin Kreiner—guru besar teologi fundamental pada Fakultas Teologi Katolik Universitas München—dalam bukunya (yang, sayang, baru tersedia dalam bahasa Jerman). Buku ini membahas tantangan bagi teologi Kristiani andaikata ternyata selain manusia ada makhluk berakal budi lain di alam raya. ........................................ Apakah Kreiner berhasil menjawab pertanyaan-pertanyaan teologis berat yang diajukannya sendiri? Inti masalahnya adalah bagaimana dua keyakinan berikut dapat dipersatukan. Pertama, bahwa kalau ada ETI di alam raya, mereka tidak kurang dicintai oleh Allah dari pada manusia bumi dan karena itu inkarnasi ilahi tidak mungkin merupakan kejadian hanya di planet bumi. Kedua, bahwa dalam manusia Yesus Allah mewahyukan diri sendiri secara unik dengan makna penyelamatan universal. Dan hal itu perlu dijawab tanpa jatuh ke dalam pluralisme relativistik àla Knitter, Hick dan Schmidt-Leukel di mana Yesus hanyalah salah satu dari pewahyuan diri Allah yang pada hakikatnya semua sama derajatnya. Kiranya Kreiner berhasil merumuskan tantangan. Ia menunjukkan arah pemecahannya, tetapi ia belum memecahkannya. Bisa diteliti apakah pemecahan dapat dicari ke arah pemikiran baru tentang Pan-en-teisme sebagai pola yang lebih cocok untuk memahami hubungan antara Sang Pencipta dan ciptaan, sebagaimana akhir-akhir ini diangkat oleh beberapa teolog (Herderkorrespondenz Spezial 2-2011). Yang jelas, kemungkinan adanya aliens menghadapkan teologi Kristiani dengan tantangannya yang barangkali paling berat, yang sampai sekarang pernah dihadapinya. Sebagai catatan penutup, tetap benar bahwa probabilitas adanya ETI, melawan segala tulisan populer dan ilmiah (sampai sekarang), tetap minim! Probabilitas matematis bahwa di sebuah planet dengan kondisi-kondisi seperti bumi kita terjadi evolusi sampai ke kehidupan intelektual adalah kurang dari satu di antara 10100 (bdk. Erbrich, 1988, dll.). Kalaupun dalam setiap dari seluruh 1011 Bimasakti terdapat 10.000 planet mirip bumi, maka jumlah planet di alam raya yang kondisi-kondisinya mirip bumi adalah 1015. Jadi probabilitas adanya ETI tetap teramat rendah. Kemungkinan besar kita tidak pernah akan mengetahui apakah ada ETI. Selama itu pertimbangan-pertimbangan dramatis di atas bisa saja hanyalah sebuah permainan teologis, namun dengan daya tantang yang memang tinggi. (Franz Magnis-Suseno, Program Pascasarjana, Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, Jakarta).
F. Budi Hardiman, Hak-hak asasi manusia: Polemik dengan Agama dan Kebudayaan, Yogyakarta: Kanisius, 2011, 157 hlm. Franz Magnis-Susesno
DISKURSUS - JURNAL FILSAFAT DAN TEOLOGI STF DRIYARKARA Vol. 11 No. 1 (2012): Diskursus - Jurnal Filsafat dan Teologi STF Driyarkara
Publisher : STF Driyarkara - Diskursus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36383/diskursus.v11i1.161

Abstract

Buku relatif kecil F. Budi Hardiman, dosen di Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkarta, di Jakarta, ini merupakan sumbangan penting bagi pustaka berbahasa Indonesia tentang hak-hak asasi manusia. Bahkan, setahu peninjau buku ini, cara penulis mendekati hal hak-hak asasi manusia dalam pustaka berbahasa Jerman dan Inggris pun masih dicari. Kekhasan buku ini adalah bahwa Budi Hardiman membahas hak-hak asasi manusia dengan mendiskusikan enam kontroversi paling utama di sekitarnya, yaitu (1) kritik Hannah Arendt terhadap klaim universalitas hak-hak asasi manusia dari sudut republikanisme; (2) polemik dari sudut teologi Islam; (3) tantangan dari sudut multikulturalisme; (4) hak-hak asasi manusia berhadapan dengan nilai-nilai Asia; (5) tuntutan agar deklarasi hak-hak asasi manusia dilengkapi oleh daftar kewajiban-kewajiban asasi; dan (6) pertanyaan mengapa dalam budaya-budaya Indonesia “peradaban hak-hak asasi manusia sulit terwujud.” Diskursus ini bukan hanya memiliki relevansi teoretis tinggi, tetapi juga langsung relevan di Indonesia. Budi Hardiman bertolak dari tesis “bahwa ide, motif atau pun intensi dasar yg mendorong praksis hak-hak asasi manusia adalah ’tuntutan universal’ untuk melindungi manusia dari pengalaman-pengalaman negatif dalam modernitas” (hlm. 18). Tesis ini langsung mengoreksi sebuah salah paham serius yang juga merancukan debat dalam BPUPKI pada Juli 1945: Bahwa hak-hak asasi manusia merupakan produk khas liberalisme untuk mengamankan kebebasan maksimal individu terhadap komunitas; jadi bahwa hak-hak asasi manusia merupakan wahana individualisme dan ekspresi sikap egois di mana individu seakan-akan hanya mau menjamin hak-haknya sendiri. Tetapi bukan itulah maksud inti hak-hak asasi manusia. Hak-hak asasi manusia merupakan jawaban terhadap kondisi terancam dan terhina manusia berhadapan dengan kekuatan-kekuatan raksasa modernitas. Hak-hak asasi manusia mau menjamin keutuhan mereka yang tidak berdaya untuk membela diri sendiri. Karena itu, pengakuan terhadap hak-hak asasi manusia menjadi bukti dan tolok ukur tanggung jawab sosial dalam suatu masyarakat. ................ Faktor kelima adalah agama. Agama sebenarnya memiliki “intuisi kemanusian yang melampaui suku-suku dan bangsa” (hlm. 141), akan tetapi agama bisa juga membatasi intuisi itu pada warganya sendiri. Maka unsur kunci dalam tantangan hak-hak asasi manusia bagi teologi Islam yang dibahas dalam bab 2 adalah perluasan dari perspektif yang terbatas pada umatnya sendiri ke perspektif “manusia qua manusia” (hlm. 54). Makin wawasan dibatasi pada syariah, loncatan itu kelihatan sulit. Tetapi loncatan itu harus berani dilakukan agar kesulitan Islami dengan beberapa hak asasi manusia, misalnya hak pergantian agama atau larangan terhadap hukuman kejam, dapat diatasi. Tantangan multikulturalisme: menjadi pertanyaan bagaimana kalau terjadi pertentangan antara kekhasan suatu budaya, biasanya budaya minoritas, dengan tuntutan hak asasi manusia dibahas dalam bab 3. Buku Budi Hardiman ini perlu dibaca oleh semua yang prihatin dengan diskursus hak-hak asasi manusia di negara kita yang tetap masih klise dan sering kurang bermutu. Penegasan inti penulis, bahwa tujuan dan fungsi jaminan hak asasi manusia adalah perlindungan bagi mereka yang menderita, miskin dan tereksploitasi harus terus-menerus diangkat. Alih-alih jalan ke egoisme dan individualisme hak-hak asasi manusia merupakan bukti solidaritas suatu masyarakat dengan warga-warganya yang paling lemah. (Franz Magnis-Suseno, Program Pascasarjana, Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, Jakarta).
Norman Tanner, New Short History of the Catholic Church, London: Burn & Oates 2011, 260 hlm. Franz Magnis-Susesno
DISKURSUS - JURNAL FILSAFAT DAN TEOLOGI STF DRIYARKARA Vol. 11 No. 1 (2012): Diskursus - Jurnal Filsafat dan Teologi STF Driyarkara
Publisher : STF Driyarkara - Diskursus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (79.299 KB) | DOI: 10.36383/diskursus.v11i1.166

Abstract

Dengan umur hampir dua ribu tahun Gereja Katolik merupakan lembaga paling tua yang mempertahankan diri melalui sejarah. Bagi Gereja Katolik sejarah itu penuh makna. Karena dalam perjalanannya melalui 20 abad eksisten-sinya Gereja Katolik mendapat bentuk serta pengertian diri yang sekarang. Maka sudah tepatlah kalau Norman Tanner, seorang imam Yesuit dan guru besar sejarah Gereja pada Universitas Gregoriana di Roma, dengan mendasarkan diri pada hasil penelitian sejarah Gereja yang berlimpah dalam 40 tahun terakhir, menulis sebuah “Sejarah Pendek Baru Gereja Katolik.” Hanya dengan 260 halaman pembaca diantar secara kompeten menapaki 2000 tahun perjalanan Gereja Katolik. Gereja Katolik selalu menegaskan bahwa Kitab Suci hanya dapat dimengerti dalam ketertanaman dalam sebuah tradisi. Sebagaimana ditegaskan Tanner, “tradisi memegang peran normatif.” Pengertian tentang hakikat Kekristenan berkembang melalui sejarah. Gereja Katolik yakin “bahwa Kitab Suci harus disertai oleh suatu kesadaran tentang bagaimana pesannya dihayati dan dimengerti melalui berabad-abad lamanya, oleh suatu rasa bagaimana isi Kitab Suci dijernihkan oleh ajaran pihak-pihak berwenang dalam Gereja maupun melalui hidup, sembahyang, studi dan perjuangan umat Kristiani.” Karena itu, Gereja Katolik sekarang tidak dapat dimengerti kalau sejarahnya tidak dimengerti. Tanner membagi sejarah Gereja ke dalam lima tahap. Tahap pertama mencakup 300 tahun pertama di mana Gereja keluar dari dua setengah abad usaha penindasan dan penganiayaan oleh pemerintah kekaisaran Romawi, dan akhirnya menjadi agama resmi. Tahap kedua mulai dengan berakhirnya kekaisaran Romawi bagian Barat pada abad ke-5 dan sampai pada 1054 di mana perpecahan tragis antara Gereja Timur, Gereja-gereja Ortodoks, dan Gereja Barat—Gereja Katolik-Roma—menjadi resmi dan definitif. Perpecahan tersebut masih berlangsung sampai hari ini. ........................................ Yang khas dari buku Tanner adalah bahwa uraian tidak dibatasi pada kejadian-kejadian sekitar Gereja resmi: Konsili-konsili, Paus-paus yang penting, peristiwa-peristiwa dengan dampak historis seperti perpecahan antara Gereja Barat dan Gereja Timur atau Reformasi Protestan. Dalam buku ini juga dibicarakan ordo-ordo dan gerakan-gerakan religius, teolog-teolog penting, keagamaan rakyat, perkembangan-perkembangan intelektual, perkembangan dalam liturgi, doa dan mistik. Juga dibahas mengenai senirupa, arsitektur dan musik, bahkan sikap Thomas Aquinas terhadap liburan, olah raga dan entertainment. Kehidupan Katolik di basis pun ikut diceriterakan. Buku ini memberikan suatu tinjauan yang kaya dan berbobot tentang 2000 tahun kehidupan Gereja Katolik; bisa juga dikatakan, tentang perkembangan dari Kristianitas ke Gereja Katolik sekarang, dalam bahasa yang mudah diikuti dan dengan gaya naratif yang enak dibaca. Sebuah buku yang dapat sangat direkomendasikan bagi siapa saja yang ingin mendapat pengertian ringkas, tetapi cukup mendalam, tentang bagaimana Gereja Katolik menjadi Gereja Katolik. (Franz Magnis-Suseno, Program Pascasarjana, Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, Jakarta).
Johanna Rahner, Einführung in die christliche Eschatologie, Freiburg/Basel/Wien: Herder, 2010, 334 hlm. Franz Magnis-Susesno
DISKURSUS - JURNAL FILSAFAT DAN TEOLOGI STF DRIYARKARA Vol. 11 No. 1 (2012): Diskursus - Jurnal Filsafat dan Teologi STF Driyarkara
Publisher : STF Driyarkara - Diskursus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36383/diskursus.v11i1.169

Abstract

Dalam tradisi Kristiani gambaran tentang surga dan, terutama, neraka berlimpah. Dengan melukiskan keindahan surga dan, lebih lagi, kengerian api penyucian dan neraka para pengkhotbah pernah berusaha untuk mengarahkan umat ke hidup yang baik. Tetapi sekarang “hal-hal akhir” jarang dibicarakan dalam khotbah. Seakan-akan kurang njamani mengajukan pertanyaan tentang apa yang terjadi sesudah kematian. Padahal justru berhadapan dengan sikap acuh tak-acuh sebagian masyarakat tersekularisasi dengan ejekan dari sudut ateisme baru, baik orang beriman maupun mereka yang mencari justru mengajukan pertanyaan seperti: Apakah ada hidup sesudah kematian? Apakah hakikat surga? Apakah betul Allah akan menyiksa para pendosa dalam neraka? Apakah barangkali neraka kosong? Dan apakah maksud serta dasar ajaran tentang api penyucian yang tidak dipercayai oleh Gereja-gereja Ortodoks dan Protestan? Kalau kita mencari informasi mendalam yang memungkinkan menjawab pertanyaan-pertanyaan itu, apabila kita tahu latar belakang religius dan budaya ajaran tentang “hal-hal akhir” itu serta apa yang dipikirkan oleh para teolog Kristiani paling mutakhir, kita akan merasa sangat terbantu oleh buku yang ditulis oleh Dr. Theol. Johanna Rahner, guru besar pada Fakultas Teologi Katolik Universitas Kassel, ini. Sayang, buku ini hanya tersedia dalam bahasa Jerman. ............................... Buku ini penting pada zaman di mana bagian hakiki setiap agama—apa yang akan terjadi dalam dan sesudah kematian—jarang diangkat. Kekuatan Johanna Rahner adalah bahwa ia membahas tema itu dari pelbagai sudut: dari sudut mitos-mitos dan agama-agama kuno, dari sudut Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, dari sudut teologi serta pelbagai “ajaran” yang muncul selama 2000 tahun Gereja dan Kristianitas, sampai dengan teologi paling muthakhir yang membuka perspektif yang sangat baru dibandingkan dengan pengertian tradisional. Johanna Rahner sendiri merangkum maskud bukunya: “Tantangan menentukan eskatologi adalah sandungan kematian yang berkaitan dengan pertanyaan yang tak terbungkamkan tentang keadilan serta harapan tak terpuaskan agar kerinduan yang mengharapkan agar pada akhirnya semuanya menjadi baik jadi terpenuhi.” Yang tidak dibicarakan dalam buku ini adalah pertanyaan-pertanyaan tentang universalitas atau keterbatasan penyelamatan Ilahi. Juga tidak dibicarakan adalah pertanyaan yang kelihatannya merupakan dobrakan baru, yang beberapa tahun lalu muncul dalam suatu konferensi teologis di Vatikan, yaitu apakah anak kecil, anak yang mati sebelum dilahirkan, bisa masuk surga atau harus dianggap masuk ke dalam suatu limbus. Buku ini cocok bagi para teolog serta bagi setiap warga Kristianitas yang ingin memahami secara mendalam ajaran tradisional dan muthakir Gereja Katolik tentang ke mana kita akan pergi dalam kematian. (Franz Magnis-Suseno, Program Pascasarjana, Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, Jakarta).
Haryatmoko, Etika Publik untuk Integritas Pejabat Publik dan Politisi, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2011, 217 hl Franz Magnis-Suseno
DISKURSUS - JURNAL FILSAFAT DAN TEOLOGI STF DRIYARKARA Vol. 10 No. 2 (2011): Diskursus - Jurnal Filsafat dan Teologi STF Driyarkara
Publisher : STF Driyarkara - Diskursus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (163.49 KB)

Abstract

Buku Haryatmoko—dosen tetap di Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta, yang juga mengajar di pelbagai Perguruan Tinggi lain di tanah air—ini menggabungkan dua hal yang jarang kita temukan: Kompetensi filosofis dan penguasaan bidang penerapan yang bersang- kutan. Etika publik adalah bagian etika yang menyangkut kewajiban dan tanggung jawab dalam pelayanan publik, atau, dalam rumusan Haryatmoko, ”refleksi tentang standar/norma yang menentukan baik/ buruk, benar/salah perilaku, tindakan dan keputusan untuk meng- arahkan kebijakan publik dalam rangka menjalankan tanggung jawab pelayanan publik.” Kekuatan buku ini adalah bahwa penulisnya bukan hanya ahli etika, melainkan juga ahli tentang bidang publik. Bidang publik memuat apa pun yang berkaitan dengan kebijakan- kebijakan yang diwujudkan oleh aparat negara, Dewan Perwakilan Rakyat, dan pemerintah. Jelas sekali, kita amat berkepentingan agar seluruh unsur bidang publik luas itu dijalankan secara etis. Itulah yang dilakukan Haryatmoko secara mengesankan dalam bukunya ini. Buku ini sangat sistematik. Daftar isi yang rinci sangat membantu kalau kita mencari sesuatu yang khusus; misalnya penjelasan tentang apa itu etika institusional atau budaya etika, kaitan antara etika, akuntaliblitas dan transparansi, dan tentu saja tentang korupsi (namun sayang, tidak ada daftar istilah penting). .............................................................. Haryatmoko sudah menulis buku yang dikerjakan dengan sangat tangguh, berdasarkan pengetahuan objektif tentang bidang yang dibahas, jelas dalam mengangkat prinsip-prinsip etika dasar, yang karena itu mudah dipakai baik oleh mereka yang menjalankan bidang publik, maupun oleh warga masyarakat yang mau mengawasi bidang publik dengan kritis. Buku ini menunjukkan bahwa suatu usaha filosofis dapat langsung relevan bagi praksis kehidupan bermasyarakat. (Franz Magnis- Suseno, Program Doktor Ilmu Filsafat, Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, Jakarta).
Stephen Hawking and Leonard Mlodinow, The Grand Design, New York: Ban-tam Books 2010, 198 hlm. Franz Magnis-Suseno
DISKURSUS - JURNAL FILSAFAT DAN TEOLOGI STF DRIYARKARA Vol. 10 No. 1 (2011): Diskursus - Jurnal Filsafat dan Teologi STF Driyarkara
Publisher : STF Driyarkara - Diskursus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (246.403 KB)

Abstract

Tak salah kiranya kalau buku ini—yang ditulis oleh Stephen Hawking, barangkali fisikawan paling tersohor yang hidup sekarang, bersama Leonard Mlodinow—dianggap semacam summa atau kesimpulan agung seseorang yang selama seluruh hidup bergulat penuh semangat dengan misteri-misteri alam raya kita, tanpa mau ditundukkan oleh penyakit yang melumpuhkannya. Kesan pertama: Mengasyikkan! Di atas hanya 166 halaman dua penulis berkompetensi tinggi ini mengantar kita, dalam bahasa yang relatif mudah dimengerti (sedikit pengetahuan dasar tentang fisika pasca-tradisional memang perlu!), dengan ilustrasi-ilustrasi amat bagus, ke garis paling depan fisika di permulaan abad ke-21 ini. Mulai dengan dasar-dasar fisika pasca-tradisional, fisika kuantum dan teori relativitas—keduanya tetap belum sepenuhnya dapat disatukan dalam satu teori—mereka mengantar kita ke dalam pokok bahasan, perspektif-perspektif menakjubkan astrofisika abad ke-21. Akan tetapi Hawking/Mlodinow tentunya tidak sekedar mau menambah jumlah buku ”fisika kontemporer bagi kaum awam.“ Tujuan mereka tak lain tak bukan adalah menjawab pertanyaan dasar umat manusia: ”Bagaimana kita dapat mengerti dunia di mana kita menemukan diri?“ Secara terinci ada tiga pertanyaan yang akan mereka jawab: ”Mengapa ada sesuatu dan bukannya tidak ada sesuatu?,“ ”mengapa kita ada?,“ dan ”mengapa hukum alam adalah seperti yang ada dan bukan hukum alam lain?” Klaim mereka keras. Mereka mau menjawab pertanyaan-pertanyaan itu semata-mata atas dasar fisika! Pada halaman pertama mereka sudah mejatuhkan putusan pada ilmu yang umumnya dianggap paling cocok untuk bergulat dengan pertanyaan-pertanyaan seperti itu: filsafat. Vonis mereka: ”Philosophy is dead.“ Tetapi lawan yang sebenarnya mau mereka hantam adalah agama. Berulang kali mereka menyatakan bahwa tidak diperlukan seorang Pencipta. Mereka mengutip jawaban Laplace atas pertanyaan Napoleon tentang di mana tempatnya Allah dalam sistemnya: ”Paduka, saya tidak memerlukan hipotesa itu!“ Buku Hawking/Mlodinow boleh dianggap padanannya buku Richard Dawkins The God Ilusion. Kalau Dawkins mau menjelaskan evolusi tanpa acuan pada Allah, maka Hawking/Mlodinow mau melakukan yang sama tentang eksistensi alam raya kita. Berhasilkah mereka? Mari kita lihat. Hawking/Mlodinow bertolak dari pengandaian bahwa tidak mungkin lagi dibentuk gambar objektif tentang dunia. Realisme mereka adalah suatu model dependent realism; dengan lain kata, kita sendiri harus mengkonstruksikan model-model tentang bagaimana kiranya alam raya kita berfungsi. Model yang paling elegan, menghindar dari unsur-unsur sewenang-wenang, sesuai dengan semua amatan dan mengijinkan ramalan, itulah yang harus dipegang. Sebetulnya ini pandangan amat radikal, lebih radikal daripada pandangan Immanuel Kant, karena itu berarti bahwa kita sebenarnya tidak mengetahui realitas. Kebenaran model itu pragmatis, artinya pengetahuan kita tentang alam itu benar sejauh kita bisa hidup di dalamnya. Tentu saja, di sini banyak pertanyaan muncul, tetapi saya biarkan saja. ..................................................... Hal kebebasan kehendak mereka pecahkan serta merta dengan mendefinisikannya sebagai situasi yang begitu kompleks sehingga ”kita tidak mampu membuat kalkulasi-kalkulasi yang akan membuat kita menjadi mampu untuk memprediksikan aksi-aksinya.” Menurut definisi ini gunung Merapi pun meledak atas kehendak bebasnya (apakah koordinasi antara kraton Ngajodjokarta Hadiningrat dengan Merapi dan ratu kidul akhir-akhir ini kurang mulus?). Dan, betul, menurut Hawking/Mlodinow ”semua makhluk kompleks (memang) mempunyai kehendak bebas.” Kalau mereka betul, maka buku yang sudah mereka tulis ini bukannya hasil rencana dan pemikiran mereka, melainkan merupakan akibat fisikalis kondisi awal alam raya kita dalam big bang. Hal yang sama berlaku bagi bahasan ini. Seriuskah itu? Kalau mereka mau menyatakan bahwa semua proses inderawi terdeterminasi, maka itu sudah dirumuskan dengan meyakinkan oleh Immanuel Kant; tetapi dari mana mereka tahu bahwa yang ada hanyalah proses-proses inderawi? Kebebasan pertama-tama merupakan fakta kesadaran internal (dengan banyak keterbatasan karena pelbagai faktor psikologis) dan tentu teori harus menyesuaikan diri dengan fakta itu dan bukan sebaliknya. Atas dasar pemikiran begitu kasar kita lantas juga tidak heran bahwa para penulis tidak memberikan sepucuk penjelasan tentang bagaimana kemunculan kesadaran dan, pada manusia, kerohanian dapat dijelaskan. Buku mengasyikkan ini bagi penulis tinjauan ini mengecewakan. Dua penulis itu pada dasarnya masih di tingkat Auguste Comte yang 200 tahun lalu merumuskan ”hukum tiga tahap,” dari mitos dan agama (yang tidak bisa dia bedakan) lewat spekulasi filsafat ke ilmu alam, sesuatu yang sekarang dalam filsafat tidak pernah diangkat lagi (berbeda dengan Kant, Aristoteles dan Platon yang tetap memberi inspirasi). Yang paling gila—untuk menghindar dari kata ”bohong”—adalah kalimat mereka yang terakhir: ”If the theory is confirmed by observation, … we will have found the the grand design.” Mengapa gila? Karena menurut mereka sendiri keadaan pra-big bang, sang ”ibu segala alam raya,” secara prinsip tak teramati! (Franz Magnis-Suseno, Program Pascasarjana, Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, Jakarta)