Asna Istifada
UIN Walisongo Semarang

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

PEMBACAAN HADITS RI’ĀYAH OLEH QĀḌĪ (Kajian Terhadap Kitab Syarah Al-Fawāidu Al-Mutra’atu Al-Ḥiyāḍi Fi Syarḥi Kitābi Al-Riyādi Karya Ibn Kamāl) Asna Istifada; Ahmad Musyafiq; Hasan Asy’ari ‘Ulama’i; Mohammad Abdul Aziz
Aqlam: Journal of Islam and Plurality Vol 8, No 1 (2023)
Publisher : IAIN Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30984/ajip.v8i1.2474

Abstract

Abstract: Throughout the ages, the discourses on leadership concepts in Islam have been dynamic. One of the factors is the debate between Islamic scholars on hadiths related to leadership. Ibn Kamāl, a scholar who was also a Turkish bureaucrat, was the first cleric who gave commentaries on hadits in Riyāḍu al-Ṣālihīn, including those in leadership theme. He was close to the throne during his life, and some said he had released some fatwas that enabled the sultan’s policies. Having learned about his unique background, this study aims to provide explanations about Ibn Kamal’s concept of leadership based on his commentaries on hadits in Riyāḍu al-Ṣālihīn and the influence of the political milieu in the hadith commentaries. Therefore, this study employs a thematic and historical-sociological approach to analyze the data. It results in some findings that according to Ibn Kamal, leadership is a process performed by its elements to achieve the collective purpose. Leadership expressed by the term imārah refers to leadership within the scope of government. Therefore, leaders and people must fulfil their obligations to realise good governance. Although this syarah was written in a context in which Ibn Kamal was very close to the ruler, even he was part of it, but the political context did not influence him in the explanation of the leadership hadith he wrote.  Key Words: Ibn Kamāl, Imārah, hadith commentary Abstrak: Selama berabad-abad, dinamika tentang konsep kepemimpinan dalam Islam telah diperdebatkan. Salah satu faktornya adalah perbedaan antara ulama Islam dalam memahami hadits yang berkaitan dengan kepemimpinan. Ibn Kamāl, seorang ulama yang juga seorang birokrat Turki, adalah ulama pertama yang memberikan komentar tentang hadits dalam Riyāḍu al-Ṣālihīn, termasuk yang bertema kepemimpinan. Dia dekat dengan takhta selama hidupnya, dan dikabarkan bahwa dia telah mengeluarkan beberapa fatwa yang memuluskan kebijakan sultan. Setelah mempelajari latar belakangnya yang unik, penelitian ini bertujuan untuk memberikan penjelasan tentang konsep kepemimpinan Ibn Kamal berdasarkan syarahnya tentang hadits dalam Riyāḍu al-Ṣālihīn dan pengaruh lingkungan politik terhadapnya. Oleh karena itu, penelitian ini menggunakan pendekatan tematik dan historis-sosiologis untuk menganalisis data. Kajian ini menghasilkan beberapa temuan bahwa menurut Ibnu Kamal, kepemimpinan adalah proses yang dilakukan oleh elemen-elemen di dalamnya untuk mencapai tujuan bersama. Kepemimpinan yang diungkapkan dengan istilah imārah mengacu pada kepemimpinan dalam lingkup pemerintahan. Oleh karena itu, untuk mewujudkan tata kelola pemerintahan yang baik, pemimpin dan rakyat harus memenuhi kewajibannya dengan penuh tanggung jawab. Meskipun syarah ini ditulis dalam konteks di mana Ibn Kamal sangat dekat dengan penguasa, bahkan ia menjadi bagian darinya, namun konteks politik tersebut tidak mempengaruhinya dalam penjelasan hadits kepemimpinan yang ditulisnya.  Kata Kunci : Ibn Kamāl, Imārah, syarah hadis.