Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Riyadhah Arba’in Para Penghafal Al-Quran Dalam Perspektif Metode Pembelajaran Inquiry di Pondok Pesantren Putri Tahfidzil Quran Lirboyo Kota Kediri Moh. Kamilul Hija; Hidayatul Khoiriyah; Ahmad Ali Riyadi
Mujalasat: Multidiciplinary Journal of Islamic Studies Vol. 1 No. 1 (2023): Jurnal Mujalasat: Multidiciplinary Journal of Islamic Studies, Maret
Publisher : Universitas Islam Tribakti Lirboyo Kediri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Dalam kehidupan masyarakat sangat perlu menanamkan nilai-nilai ke agamaan seperti menanamkan nilai-nilai Al-quran di dalam keluarga ataupun di masyarakat. Hal ini memunculkan antusiasi masyarakat muslim di Indonesia yang memiliki tekat tinggi untuk mempelajari dan menghafalkan Al-quran. Terutama antusias semangat orangtua yang memondokan anaknya di lembaga pondok pesantren yang berbasis Quran. Dalam hal ini Pondok Pesantren yang ada di Indonesia telah banyak memberikan nilai-nilai Al-quran dengan berbagai metode masing-masing, karya tulis ini dilator belakangi bahwasannya para penghafal Al-Quran yang telah selesai mengkhatamkan Al-Quran belum tentu lancar hafalannya karena sulit untuk menjaga hafalan dan sulitnya istiqomah dalam muraja’ah hafalan. Atas dasar latar belakang tersebut, peneliti mengajukan pertanyaan penelitian berikut (1) Bagaimana proses riyaḍhah arba’in Para Penghafal Al-quran Dalam Perspektif Metode Pembelajaran Inquiry di Pondok Pesantren Putri Tafidzil Quran (P3TQ) Kota Kediri? (2) Bagaimana konsistensi para hufadz dalam menjalankan riyaḍhah arba’in di Pondok Pesantren Putri Tafidzil Quran (P3TQ) Lirboyo Kota Kediri? (3) Apa Implikasi dari riyaḍhah arba’in di Pondok Pesantren Putri Tafidzil Quran (P3TQ) Kota Kediri?. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan jenis penelitian studi kasus, teknik pengumpulan data menggunakan data menggunakan wawancara mendalam, obserasi dan dokumentasi. Penelitian menggunakan pendekatan fenomena yang sedang diteliti, pendekatan ini dilakukan pada situasi yang alami sehingga tidak ada batasan dalam memaknai fenomena yang dikaji dan peneliti bebas untuk menganalisis data yang diperoleh. Hasil penelitian ini menerangkan bahwa: (1) santri yang mengikuti riyaḍhah arba’in yang di prioritaskan adalah yang sudah hafal 30 juz. Riyaḍhah arba’in dilakukan selama 41 hari (41 khataman) dan dianjurkan berpuasa. riyaḍhah arba’in dilakukan di dalam ruangan khusus dan santri tidak boleh keluar serta tidak boleh terlihat atau melihat yang bukan mahramnya. Dan santri putri yang haid, tetap tidak diperbolehkan keluar (2) setiap hari dalam sehari semalam harus mengkhatamkan satu kali khataman selama 41 hari, selama mengamalkan hatinya harus tadarru’ kepada allah, harus menjaga shalat fardu jangan sampai qodlo’, harus istiqomah, tidak boleh keluar dari tempat pengamalan, tidak banyak guyon dan mengobrol yang tidak penting, setelah khatam membaca do’a quran lalu ditiupkan kedalam air dan meminta hajatnya lalu diminum, (3) kecerdasan intelektual, lebih kuat (mutqin) hafalan quran yang sudah dihafalkan, tambahnya keberkahan, emosional,dan spiritual.
Aktualisasi Konsep Khidmah di Pondok Pesantren (Studi kasus di Pondok Pesantren Al-Mardliyah Bahrul Ulum Tambakberas Jombang) Muhammad Shalahuddin; Moh Irmawan Jauhari; Ahmad Ali Riyadi
Mujalasat: Multidiciplinary Journal of Islamic Studies Vol. 3 No. 1 (2025): Jurnal Mujalasat: Multidiciplinary Journal of Islamic Studies, Maret
Publisher : Universitas Islam Tribakti Lirboyo Kediri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pesantren is an Islamic educational institution popular in Indonesia. Distinctive traditions such as mutual cooperation, communal work (ro’an), and khidmah to the kiai are deeply embedded in pesantren culture. Khidmah refers to the devotion of students to their kiai as a form of respect for the knowledge and guidance imparted. This study employs a qualitative method with a sociological-phenomenological approach and was conducted at Pondok Pesantren Al-Mardliyah. The findings reveal that khidmah in this pesantren serves as a form of worship, devotion, care for the pesantren, and a medium for applying knowledge. Philosophically, khidmah means serving and dedicating oneself to the kiai and pesantren. The concept of khidmah in this pesantren is categorized into two: 1) Salaf, khidmah as worship and devotion, and 2) Khalaf, khidmah as an expression of gratitude, care, and a platform for practicing knowledge. Khidmah remains a unique and deeply rooted tradition in pesantren.