Soewieto Djajadi
Sekolah Tinggi Teologi Baptis Indonesia, Semarang

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Gereja dan Kemandirian Finansial dalam Refleksi Teologis Matius 19:16-26 Soewieto Djajadi
THRONOS: Jurnal Teologi Kristen Vol 3, No 2: Juni 2022
Publisher : Badan Musyawarah Perguruan Tinggi Keagamaan Kristen Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55884/thron.v3i2.42

Abstract

The Covid-19 pandemic, which is endemic throughout the world, including Indonesia, has caused changes in people's lives. Restrictions on the movement of community activities, also known as PSBB, also have an impact on several sectors, such as the economy, tourism, and religion is no exception. With a decrease in the offerings received by the church, but are required to continue carrying out its activities such as teaching, discipleship, and celebrating Christian religious holidays such as Christmas, Church birthdays, and so on, these costs become the burden of the Church leaders and workers. This problem would not be a problem if the church had wealthy people who could help fund the church. Therefore, this research aims to find steps that must be taken so that the church can become independent regarding funds without depending on the rich. Meanwhile, a good principle is to become an entrepreneurial church that can educate its congregation and workers to become entrepreneurs to earn better income. AbstrakPandemi Covid-19 yang mewabah di seluruh dunia, termasuk Indonesia, telah menyebabkan perubahan di dalam kehidupan masyarakatnya. Pembatasan pergerakan kegiatan masyarakat yang dikenal juga dengan PSBB menimbulkan dampak pula pada beberapa sektor seperti ekonomi, pariwisata dan tak terkecuali agama. Dengan menurunnya persembahan yang diterima oleh gereja, namun dituntut untuk tetap melakukan kegiatan- kegiatannya seperti pengajaran, pemuridan, merayakan hari- hari besar Agama Kristen seperti Natal, Ulang tahun Gereja dan lain sebagainya, maka biaya tersebut menjadi beban dari pemimpin dan pengerja Gereja. Persoalan ini tidak akan menjadi masalah jika gereja mempunyai orang- orang kaya yang dapat membantu dana gereja. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan mencari langkah- Langkah yang harus dilakukan agar gereja dapat menjadi gereja yang mandiri dalam hal dana tanpa bergantung kepada orang kaya. Sedangkan prinsip yang baik adalah menjadi gereja intrepreneur yang dapat mendidik para jemaat dan para pengerjanya menjadi wirausaha untuk mendapatkan penghasilan yang lebih baik.    
Rancang Bangun Pewartaan Injil dalam konteks Keindonesian Berdasarkan Pembacaan Yohanes 4 :1- 42 Soewieto Djajadi
Jurnal Teologi Gracia Deo Vol 6, No 1: Juli 2023
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Baptis, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46929/graciadeo.v6i1.194

Abstract

Indonesia is one of the countries with the most significant ethnic groups and religions in the world. With so many ethnic groups, Indonesia is a multicultural country. A multicultural country is a country that has many cultures and religions. The many religions and beliefs have an impact on creating a sense of intolerance between adherents of the majority and minority religions. Matthew 28:18-20 says believers must evangelize to fulfill God's Great Commission. Evangelism is giving good news so that people who do not know God will believe and accept the Lord Jesus as their savior. Evangelism in a multicultural society requires a method or way to receive the gospel message well. The evangelism carried out by the Lord Jesus to the Samaritan woman, written in the book of John 4: 1-42, is believed to be used as a method of evangelizing in Indonesia. Using a descriptive qualitative method with a literature study approach in the design of the Evangelization used by Jesus in his approach to the Samaritan woman can also be called an individual approach. The Lord Jesus approached the Samaritan woman so that she would believe and accept the Lord Jesus. By carrying out the four stages of the individual approach, namely the friendship stage, the empathy stage, the recovery stage, and the evangelism stage, it is hoped that someone who hears the gospel message can be saved. AbstrakIndonesia termasuk salah satu negara yang mempunyai jumlah suku bangsa dan agama yang terbanyak di dunia. Dengan banyaknya suku bangsa yang ada, maka Indonesia termasuk negara multicultural.  Negara multikurtural adalah negara yang mempunyai banyak kebudayaan dan agama. Banyaknya agama dan aliran kepercayaan berdampak menimbulkan rasa intoleransi antara pemeluk agama mayoritas dan minoritas. Matius 28 ayat 18- 20 mengatakan bahwa orang percaya harus melakukan penginjilan untuk memenuhi Amanat Agung Allah. Penginjilan adalah memberikan kabar baik supaya orang yang belum mengenal Tuhan menjadi percaya dan menerima Tuhan Yesus sebagai juruslamat mereka. Penginjilan dalam masyarakat multicultural membutuhkan sebuah metode atau cara agar berita injil dapat diterima dengan baik.  Penginjilan yang dilakukan Tuhan Yesus kepada wanita samaria yang ditulis pada kitab Yohanes 4: 1-42, diyakini dapat dijadikan sebagai metode dalam melakukan penginjilan di Indonesia. Menggunakan metode kualitatif deskritif dengan pendekatan studi literature dalam rancang bangun Pewartaan Injil yang dipakai oleh Yesus dalam pendekatannya kepada wanita samaria tersebut dapat disebut juga dengan pendekatan secara individu. Tuhan Yesus mengadakan pendekatan kepada wanita samaria tersebut supaya menjadi percaya dan menerima Tuhan Yesus. Dengan melakukan empat tahapan pendekatan individu tersebut yaitu tahap persahabatan, tahapan empati, tahapan pemulihan dan tahap penginjilan, maka diharapkan seseorang yang mendengar berita Injil dapat diselamatkan.