Hariadi Hariadi
Program Studi Mesin Dan Peralatan Pertanian, Politeknik Gorontalo (POLTEKGO)

Published : 5 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

Pemberdayaan Lahan Terpadu Berbasis Agrowisata Kelor Organik Sebagai Proyek Percontohan Wakaf Produktif Ormas Wahdah Islamiyah Ariesman M; Hariadi Hariadi
To Maega : Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol 6, No 3 (2023): Oktober 2023
Publisher : Universitas Andi Djemma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35914/tomaega.v6i3.1883

Abstract

Wakaf produktif menjadi isu sentral dalam pemanfaatan lahan wakaf ketika sebagian besarnya berupa lahan non produktif. Tujuan pengabdian masyarakat ini yaitu menginisiasi terbentuknya agrowisata kelor organik sebagai inovasi dalam mengupayakan produktifitas lahan wakaf. Pada PKM ini, pendekatan Asset Based Communities Development (ABCD) diterapkan untuk memaksimalkan sumber daya mitra (Organisasi Masyarakat Wahdah Islamiyah). Hasil pengabdian ini menunjukkan bahwa konsep agrowisata yang ditawarkan masih sesuatu hal belum banyak dipahami. Oleh karena itu, tahapan yang ditempuh agar PKM ini diterima dengan baik yaitu dengan penyebaran kuesioner, pelaksanaan diskusi kelompok terpumpun, edukasi dan pelatihan serta pembuatan lahan percontohan agrowisata kelor organik. Beberapa aktifitas dan layanan yang sudah dilaksanakan bahkan bisa ditawarkan seperti melihat perkebunan kelor, proses budidaya kelor, serta edukasi dan pelatihan terkait kelor.
Rancang Bangun Instalasi Biogas Menggunakan Reaktor Fiber Agung Prayetno Ismail; Siradjuddin Haluti; Hariadi Hariadi
JTPG (Jurnal Teknologi Pertanian Gorontalo) Vol 7 No 2 (2022): Jurnal JTPG (November)
Publisher : PROGRAM STUDI MESIN DAN PERALATAN PERTANIAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30869/jtpg.v7i2.958

Abstract

Biogas is one of the energy sources that can be utilized by the community, especially for cooking. Biogas is more environmentally friendly than LPG gas that is generally used. This is because the source of biogas comes from animal manure or the like. This animal feces if not used will pollute the environment because of the unpleasant smell. Biogas is generally made from animal dung through an anaerobic fermentation process in a closed container at a certain time. In this study, biogas is made from cow dung and uses fiber as a fermentation container. In this study, biogas is made from cow dung and uses fiber as a fermentation container. The purpose of this study is to design biogas installations using fiber-type reactors. This research is based on the ease of raw materials, installation processes, and operation. The study was conducted through several stages, namely the design and making of installation drawings, preparation of the required tools and materials, design and fabrication, testing, data collection, and data analysis. Data was taken in this study in the form of pressure, flame tests, and its use to boil water. Testing and fermentation process of cow dung is carried out for 3 days. Based on the test results it is known that there was an increase in pressure during the fermentation process. During 3 days the fermentation process increased pressure to 11.5 cmHG, where the highest pressure on the third day was 15 cmHg. The results of the flame test at the final pressure show that the flame is blue for 27 minutes and 57 seconds. At a pressure of 11 cmHg, the flame began to dim. As for the 1L heating testing, water takes approximately 20 minutes and 3 seconds until the water boils.
Perancangan Instalasi Irigasi Tetes pada Tanaman Melon Kuning (Cucumis melo L.) Ramdan Azis; Iqrima Staddal; Hariadi Hariadi
JTPG (Jurnal Teknologi Pertanian Gorontalo) Vol 9 No 2 (2024): Jurnal JTPG (November)
Publisher : PROGRAM STUDI MESIN DAN PERALATAN PERTANIAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30869/jtpg.v9i2.1407

Abstract

Irigasi merupakan salah satu komponen penting dalam budidaya tanaman, termasuk melon kuning, untuk memastikan ketersediaan air yang efisien dan tepat waktu. Penelitian ini bertujuan untuk merancang dan menganalisis instalasi irigasi tetes guna mendukung efisiensi penggunaan air pada tanaman melon kuning. Penelitian dilakukan melalui tiga tahapan utama, yaitu desain perancangan sistem irigasi, instalasi perangkat, dan pengujian kinerja sistem. Sistem irigasi dirancang menggunakan bak penampungan berkapasitas 200 liter dan pipa PVC berukuran 3/4 inci. Hasil pengujian menunjukkan bahwa sistem ini mampu menghasilkan laju tetesan emiter sebesar 0,0016 m²/jam. Kebutuhan air dihitung berdasarkan tiga stadia pertumbuhan tanaman, yaitu tahap awal, pembungaan, dan pematangan, dengan masing-masing kebutuhan sebesar 691,2 liter, 883,2 liter, dan 768 liter. Rancangan ini menunjukkan potensi efisiensi dalam penyediaan air yang sesuai dengan kebutuhan spesifik tanaman melon kuning di setiap tahap pertumbuhannya.
Rancang Bangun Mesin Perontok Padi Dadin Lagia; Siradjuddin Haluti; Hariadi Hariadi
JTPG (Jurnal Teknologi Pertanian Gorontalo) Vol 9 No 2 (2024): Jurnal JTPG (November)
Publisher : PROGRAM STUDI MESIN DAN PERALATAN PERTANIAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30869/jtpg.v9i2.1427

Abstract

Mesin perontok padi merupakan suatu mesin yang digunakan untuk mempermudah pekerjaan manusia untuk memisahkan antara jerami dengan butir padi (gabah). Tujuan dari penelitian ini untuk merancang bangun mesin perontok padi dan mengevaluasi performanya. Penelitian ini dilakukan dalam empat tahapan, yaitu desain dan perancangan; fabrikasi; uji fungsi komponen; dan pengujian. Pengujian mesin perontok padi dilakukan sebanyak 3 (tiga) kali pengujian. Berdasarkan hasil rancangan dan fabrikasi, mesin perontok padi memiliki dimensi panjang, lebar dan tinggi masing-masing 134 cm, 56 cm, dan 149 cm. Rangka mesin menggunakan besi siku ukuran 4x4 dan besi plat dengan ketebalan 0,7 mm. Motor penggerak yang digunakan berupa motor bakar 5,5 PK dengan putaran 3.600 rpm dan pertalite sebagai bahan bakar. Berdasarkan hasil pengujian, diketahui terdapat masih banyak padi yang tidak terlepas dari batangnya. Kondisi ini terjadi pada pengujian pertama dengan putaran 1800 rpm. Hal ini menunjukkan bahwa hasil diperoleh belum maksimal karena padi masih bercampur dengan jerami. Padi pengujian kedua, putaran mesin diturunkan menjadi 1200 rpm menunjukkan hasil yang tidak jauh berbeda dengan hasil pertama. Namun demikian, pengujian kedua menghasilkan 3,9 kg padi yang sudah terpisah dari berat awal 6 kg dan padi yang bercampur dengan jerami lebih sedikit dibandingkan pada pengujian pertama. Demikian halnya pada pengujian ketiga, padi yang terpisah dengan jerami lebih banyak dibandingkan pengujian pertama dan kedua, dimana pada pengujian ketiga putaran mesin sebesar 1000 rpm. Hal ini menunjukkan bahwa putaran yang semakin tinggi masih menyisakan banyak padi yang bercampur dengan jerami.
Fertigasi Otomatis Nirdaya Berbentuk Jaring Laba-laba (Lingko) Rizan Abas; Mustofa Mustofa; Hariadi Hariadi; Syamsu Akuba
JTPG (Jurnal Teknologi Pertanian Gorontalo) Vol 10 No 2 (2025): Jurnal JTPG (November)
Publisher : PROGRAM STUDI MESIN DAN PERALATAN PERTANIAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30869/jtpg.v10i2.1539

Abstract

Pertanian Indonesia menghadapi tantangan berupa keterbatasan air, perubahan iklim, dan tuntutan peningkatan efisiensi produksi. Teknologi fertigasi menjadi salah satu solusi yang mampu meningkatkan pemanfaatan air dan nutrisi secara presisi. Penelitian ini bertujuan merancang dan mengevaluasi kinerja sistem fertigasi otomatis nirdaya berbasis desain lingko yang memanfaatkan gaya gravitasi tanpa kebutuhan energi listrik. Sistem dirancang menggunakan drum penampung berkapasitas 80 L, pipa PVC berbagai ukuran, serta mekanisme pengontrol ketinggian air otomatis. Tanaman uji adalah kangkung darat (Ipomoea reptans), dengan parameter pertumbuhan meliputi tinggi tanaman, panjang batang, panjang helai daun, dan jumlah daun selama periode 32 hari. Hasil penelitian menunjukkan bahwa desain fertigasi nirdaya berbentuk lingko mampu mendistribusikan air dan nutrisi secara relatif merata ke seluruh ring. Rata-rata tinggi tanaman berada pada kisaran 17,9-18,1 cm, panjang batang 12,5-12,8 cm, panjang helai daun 6,5-6,8 cm, serta jumlah daun 9-11 helai. Ring 1 menunjukkan keunggulan pada pembentukan daun, Ring 2 pada pemanjangan batang, sementara Ring 3 memberikan pertumbuhan yang stabil. Variasi antar ring dipengaruhi oleh jarak distribusi, perbedaan tekanan aliran, serta faktor lingkungan seperti intensitas cahaya dan kondisi media tanam. Temuan ini membuktikan bahwa sistem fertigasi otomatis nirdaya berbasis desain lingko efektif, hemat energi, dan berpotensi menjadi teknologi tepat guna untuk pertanian berkelanjutan, khususnya pada daerah dengan keterbatasan akses energi listrik. Pengembangan skala lebih luas dan pengujian pada komoditas lain direkomendasikan untuk meningkatkan potensi penerapannya dalam sistem budidaya modern.