Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

UPAYA MENINGKATKAN DAYA TARIK TRADISI NGUNJUNG BUYUT DI SITUS SEJARAH MAKAM DAWA DESA GETASAN Hajjin Mabrur; Dewi Fajriyah; Naela Julpah; Irfan Hilmi; Shepta Wijaya
Journal Central Publisher Vol 1 No 3 (2023): Jurnal Central
Publisher : Central Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (785.055 KB) | DOI: 10.60145/jcp.v1i3.60

Abstract

Latar Belakang : Latar belakang penelitian ini adalah Desa Getasan memiliki sejarah dimana kata Getasan memiliki makna yaitu Getas/putus. Sejarah Desa Getasan menjadi daya tarik tersendiri dengan keberadaan “Makam Dawa” (Maqom Dakwah). Maqom artinya tempat dan Dakwah berarti dakwah/Syiar Agama. Jadi Makam Dakwah berarti tempat berdakwahnya para wali. Dengan itu konon Desa Getasan menjadi tempat para wali untuk mensyiarkan Agama Islam singgahnya para wali ditempat tersebut membawakan arti bahwa desa Getasan adalah desa yang bisa dikatakan ketika ada orang yang ingin berbuat kejahatan melawi tempat tersebut segala macam senjata punhancur/getas, bahkan besi yang begitu kuat pun bisa hancur dan patah ketika singgah di desa tersebut. Tujuan: Tujuan dari penelitian ini sebagai generasi penerus harus dapat melestarikannya dan bahkan mengenalkan tradisi Ngunjung Buyut termasuk sedekah bumi kepada anak cucu kita juga masyarakat pada umumnya dan khususnya dilingkungan masyarakat desa Keraton. Metode : Metode penelitian yang digunakan adalah teknik pengumpulan data wawancara dengan dilakukan secara individu, kelompok maupun berbentuk konferensi. Teknis pelaksanaan wawancara umumnya dilakukan dengan cara pengajuan pertanyaan oleh pewawancara yang nantinya akan dijawab oleh narasumber atau informan. Hasil dan Pembahasan : Dari hasil penelitian ini di desa getasan desa yang bisa dikatakan ketika ada orang yang ingin berbuat kejahatan melawi tempat tersebut segala macam senjata pun hancur/getas, bahkan besi yang begitu kuat pun bisa hancur dan patah ketika singgah di Desa tersebut. Hal yang lebih menarik lagi ialah karena keberadaanya Makam Dawa bukanlah Kuburan melainkan ranting-ranting pohon yang tertumpuk dengan rapih dan sudah berpuluhan tahun tidak hancur atau habis dimakan rayap, untuk itu tempat tersebut menjadi tempat bersejarah dan kemudian dikalangan masyarakat ada perayaan yang namanya “Ngunjung Buyut” dalam acara tersebut ada tradisi yang tidak pernah ditinggalkan yaitu acara dilaksanakan selama tiga hari tiga malam, malam petama masayarakat tersebut mengadakan tahlil bersama sebagai pembuka acara, untuk mengisi hari kedua dan ketiga sesuai dengan budaya dan tradisi dimakam dawa tersebut ialah dengan adanya pentas tari topeng dan wayang kulit sebagai suguhan wajib dalam rangka Ngunjung Buyut Resebut pada 1 Muharram. Situs Makam Dawa sendiri memiliki makna tempat musyawarah atau tempat sidang yang digunakan oleh pasukan Cirebon, lokasi perang dan tempat dikuburkanya senjata- senjata rampasan perang yang diambil dari masa kerajaan. Kesimpulan : Hasil Kesimpulan ini bahwa dengan keragaman seni dan budaya yang tetap meraka lestarikan seperti tari topeng dan wayang kulit, hanya saja dari kalangan masyarakat belum ada yang memanfaatkan sosial media sebagai akun khusus untuk tempat bersejarah tersebut. Dengan itu yang kami harapkan ialah setelah kami membuatkan akun youtube, mereka akan lebih bersemangat untuk melanjutkanpenyebaran yang lebih luas dikalangan masyarakat yang ada diluar daerah atau desa, sehingga adat Ngunjung Buyut di Makam Dawa pada 1 Muharram dapat menarik masyarakat luar daerah untuk ikut serta dalam tradisi tersebut.
INTEGRASI ETIKA PROFESI ISLAM DALAM PENGUATAN KAPABILITAS MANAJER PENDIDIKAN ABAD 21 Hajjin Mabrur; Mizan Syahroni; Ali Nuruddin Nurul Ilmi
Eduvis : Jurnal Manajemen Pendidikan Islam Vol. 7 No. 1 (2022): Eduvis : Jurnal Manajemen Pendidikan Islam
Publisher : Universitas Islam Bunga Bangsa Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47453/eduvis.v7i1.4230

Abstract

The managerial landscape of the 21st century demands educational leaders who possess not only technical and cognitive competencies but also a deeply rooted ethical orientation capable of responding to the complexities of a rapidly changing world. Within the context of Islamic education, this ethical orientation finds its most profound expression in the concept of Islamic professional ethics, which encompasses the values of integrity, accountability, justice, and spirituality as the bedrock of professional conduct. This study aims to examine the integration of Islamic professional ethics as a foundational framework for strengthening the managerial capabilities of Islamic education managers in the 21st century. Employing a systematic library research methodology, this study analyzed and synthesized relevant academic literature from reputable sources published between 2017 and 2022. Data were analyzed using the Miles and Huberman interactive model. The findings propose a conceptual model called the IQLAS Framework (Integrity, Quality, Leadership, Accountability, Spirituality), which operationalizes five dimensions of Islamic professional ethics into concrete 21st-century managerial competencies. This model contributes to the academic field of Islamic educational management and offers practical guidance for developing ethical and competent educational leaders.