Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

PENGARUH NON PERFORMING LOAN (NPL) DAN CAPITAL ADEQUACY RATIO (CAR) TERHADAP RETURN ON ASSETS (ROA) PADA BANK BUMN YANG TERDAFTAR DI BURSA EFEK INDONESIA (BEI) Didin Rasyiddin Wahyu; Iis Nurasiah; Sri Rahayu
Jurnal Valuasi: Jurnal Ilmiah Ilmu Manajemen dan Kewirausahaan Vol. 3 No. 2 (2023): Jurnal Valuasi : Jurnal Ilmiah Ilmu Manajemen dan Kewirausahaan
Publisher : LP2M Universitas Bina Bangsa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46306/vls.v3i2.231

Abstract

The purpose of the study was to determine whether NPL and CAR affect the ROA of state-owned banks listed on the Indonesia Stock Exchange (IDX) for the 2012-2019 period. This research method uses quantitative research methods, the population in this study is all 4 state-owned banks and the samples used are 4 state-owned banks using saturated samples or saturation sampling, data collection techniques using secondary data, data analysis techniques used in this study consist of statistical descriptions, classical assumption tests, multiple linear regression analysis,  coefficient of determination and statistical hypothesis. Based on the results of the study, it is known that the NPL tcount is -7.678 < ttable -2.045 and the t-test sig is 0.000 < 0.05, the CAR tcount value is 1,113 < ttable 2,045 and the t-test sig is 0.275 > 0.05. And the F test result (simultaneous) obtained Fcalculate of 30.235 > 3.33 Ftable and the sig value of the F test 0.000 < 0.05. thus it can be concluded that partially NPL affects ROA and CAR does not affect ROA while simultaneously NPL and CAR affect ROA at state-owned banks listed on the Indonesia Stock Exchange for the 2012-2019 period
PENGGUNAAN FIGUR BAHASA DAN CITRAAN DALAM PODCAST CERITA HOROR ‘LENTERA MALAM’ EPISODE UJI NYALI DI RUMAH IBLIS BERUJUNG MENINGGAL PADA MEDIA YOUTUBE Sri Rahayu; Desma Yuliadi Saputra; Rina Andriani
KNOWLEDGE: Jurnal Inovasi Hasil Penelitian dan Pengembangan Vol. 6 No. 2 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/knowledge.v6i2.10655

Abstract

This study aims to describe the use of figurative language and imagery in the horror podcast Lentera Malam, specifically in the episode “Uji Nyali di Rumah Iblis Berujung Meninggal” on YouTube. The research focuses on identifying types of figurative language and sensory-based rhetorical strategies employed by the storyteller to construct a terrifying atmosphere. A descriptive qualitative method was applied, with the data sourced from transcribed audio narration. Data were collected through documentation and note-taking techniques, and analyzed using Miles, Huberman, and Saldana’s interactive analysis model. The findings reveal that the narrator employs various stylistic devices such as hyperbole, simile, irony, and personification to emphasize extreme conditions and intensify psychological tension. The study also identifies the use of visual, auditory, kinesthetic, and temporal imagery, all of which enhance the listener’s imagination and reinforce the eerie atmosphere. These results demonstrate that the horror effect in the podcast is not solely derived from the storyline but is significantly shaped by expressive oral language. This research contributes to stylistic studies in audio-digital media and highlights how rhetorical and figurative devices function in constructing modern horror narratives ABSTRAK Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan penggunaan figur bahasa dan citraan dalam podcast horor Lentera Malam episode “Uji Nyali di Rumah Iblis Berujung Meninggal” pada platform YouTube. Fokus penelitian diarahkan pada identifikasi jenis figur bahasa serta strategi retorika berbasis citraan yang digunakan pencerita untuk membangun suasana horor. Metode penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan sumber data berupa transkripsi narasi audio. Data dikumpulkan melalui teknik dokumentasi dan pencatatan, kemudian dianalisis menggunakan model analisis interaktif Miles, Huberman, dan Saldana. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pencerita memanfaatkan berbagai perangkat stilistika, antara lain hiperbola, simile, ironi, dan personifikasi untuk menegaskan kondisi ekstrem dan membangun ketegangan psikologis. Selain itu, ditemukan penggunaan citraan visual, auditori, kinestetik, dan temporal yang berfungsi memperkuat imajinasi pendengar serta menciptakan atmosfer mencekam. Temuan ini menegaskan bahwa efek horor dalam podcast tidak hanya dihasilkan oleh alur cerita, tetapi secara signifikan dibentuk oleh bahasa lisan yang digunakan secara ekspresif. Studi ini memberikan kontribusi terhadap kajian stilistika pada media audio-digital serta memperlihatkan bagaimana retorika dan figur bahasa bekerja dalam konstruksi narasi horor modern.
BENTUK KRITIK SOSIAL DALAM NOVEL ORANG-ORANG BIASA KARYA ANDREA HIRATA: KAJIAN SOSIOLOGI SASTRA Sri Rahayu; Diana Romdhoningsih; Desma Yuliadi Saputra
LANGUAGE : Jurnal Inovasi Pendidikan Bahasa dan Sastra Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/language.v6i3.14815

Abstract

Social problems such as educational inequality, poverty, legal injustice, abuse of power, and moral decline continue to occur in society and are frequently represented in literary works. This study aims to describe the forms of social criticism contained in Andrea Hirata’s novel Orang-Orang Biasa through a sociology of literature approach. The study employed a qualitative descriptive design. The data source was the novel Orang-Orang Biasa, while the research data consisted of words, phrases, sentences, dialogues, and narrative passages containing social criticism. Data were collected through intensive reading and note-taking techniques and analyzed through identification, classification, interpretation, and conclusion drawing. The findings reveal five forms of social criticism, consisting of 19 data on education, 12 on economics, 7 on law, 9 on power, and 10 on morality, with a total of 57 data. The criticism is represented through characters, conflicts, dialogues, and events depicting unequal access to education, economic hardship, legal injustice, abuse of power, and moral problems. The findings demonstrate that Orang-Orang Biasa functions not only as a literary work with aesthetic value but also as a medium for reflecting and criticizing social realities. The novel therefore provides relevant material for critical literary studies and learning activities that encourage readers to understand social inequality, justice, responsibility, and humanity. ABSTRAK Persoalan sosial seperti ketimpangan pendidikan, kemiskinan, ketidakadilan hukum, penyalahgunaan kekuasaan, dan kemerosotan moral masih menjadi persoalan dalam kehidupan masyarakat dan banyak direpresentasikan dalam karya sastra. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan bentuk-bentuk kritik sosial yang terdapat dalam novel Orang-Orang Biasa karya Andrea Hirata melalui pendekatan sosiologi sastra. Penelitian menggunakan desain deskriptif kualitatif. Sumber data penelitian berupa novel Orang-Orang Biasa, sedangkan data penelitian berupa kata, frasa, kalimat, dialog, dan bagian narasi yang mengandung kritik sosial. Data dikumpulkan melalui teknik baca dan catat secara intensif, kemudian dianalisis melalui tahap identifikasi, klasifikasi, interpretasi, dan penarikan simpulan. Hasil penelitian menunjukkan lima bentuk kritik sosial, yaitu kritik terhadap pendidikan sebanyak 19 data, ekonomi sebanyak 12 data, hukum sebanyak 7 data, kekuasaan sebanyak 9 data, dan moral sebanyak 10 data, dengan jumlah keseluruhan 57 data. Kritik tersebut direpresentasikan melalui tokoh, konflik, dialog, dan peristiwa yang menggambarkan ketidakmerataan akses pendidikan, kesulitan ekonomi, ketidakadilan hukum, penyalahgunaan kekuasaan, dan persoalan moral. Temuan penelitian menunjukkan bahwa Orang-Orang Biasa tidak hanya berfungsi sebagai karya sastra yang memiliki nilai estetis, tetapi juga sebagai media refleksi dan kritik terhadap realitas sosial. Novel tersebut relevan digunakan sebagai bahan kajian sastra kritis yang mendorong pembaca memahami persoalan ketimpangan, keadilan, tanggung jawab, dan kemanusiaan.