Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh metode maserasi dan sokhletasi dalam proses ekstraksi senyawa antosianin yang berasal dari kelopak bunga rosella (Hibiscus sabdariffa L.). Antosianin merupakan komponen bioaktif yang berfungsi sebagai zat pewarna alami dan antioksidan, namun rentan mengalami degradasi akibat pengaruh suhu, pH, dan cahaya. Oleh karena itu, pemilihan teknik ekstraksi yang sesuai diperlukan agar diperoleh kandungan antosianin yang maksimal tanpa menyebabkan degradasi senyawa. Penelitian dilakukan menggunakan dua metode ekstraksi, yaitu maserasi dengan suhu operasi 30°C, 40°C, dan 50°C serta lama proses 24 hingga 120 jam, serta metode sokhletasi dengan durasi ekstraksi 8 jam. Etanol 96% digunakan sebagai pelarut dengan penambahan asam asetat sebesar 3% untuk mempertahankan kestabilan pH. Penentuan kadar total antosianin dilakukan menggunakan spektrofotometri UV-Vis pada panjang gelombang 500 nm dengan metode pH diferensial. Parameter yang dianalisis meliputi rendemen ekstrak dan konsentrasi antosianin untuk menentukan metode ekstraksi yang paling efektif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa metode sokhletasi menghasilkan rendemen tertinggi sebesar 23,394% dengan konsentrasi antosianin 83,184 mg/L. Pada metode maserasi, kondisi optimum dicapai pada suhu operasi 40°C dengan durasi ekstraksi 120 jam, menghasilkan konsentrasi antosianin tertinggi sebesar 86,225 mg/L, sedangkan suhu 50°C menyebabkan penurunan kadar antosianin akibat degradasi termal. Berdasarkan hasil tersebut, metode sokhletasi dinilai lebih efektif dari segi waktu dan rendemen, sementara maserasi pada suhu moderat dapat menjadi alternatif dengan waktu ekstraksi yang lebih lama.