Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

PERANAN PENDAMPING DESA DALAM PENDIDIKAN MASYARAKAT MULTIKULTURAL DI KECAMATAN LAWE SIGALA-GALA KABUPATEN ACEH TENGGARA Cholizar
Lentera : Jurnal Ilmiah Sains, Teknologi, Ekonomi, Sosial, dan Budaya Vol 7 No 1 (2023): LENTERA, FEBRUARI 2023
Publisher : LPPM Universitas Almuslim

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kecamatan Lawe Sigala-gala adalah salah satu kecamatan penerima bantuan keuangan dari pusat yang tertuang dalam UUD No.6 Tahun 2014 tentang desa yang bersumber dari APBN yang dialokasikan untuk penunjang kegiatan masyarakat, baik itu untuk pengembangan ekonomi, pengembangan pendidikan, pembangunan maupun sosial budaya. Kecamatan Lawe Sigala-gala terletak di Kabupaten Aceh Tenggara dan tergolong kriteria daerah ekstrim (sangat-sangat sulit). Kecamatan tersebut mempunyai masyarakat yang multikultural yang terdiri dari banyak suku seperti suku Aceh, Batak, Jawa, Padang, Cina dan Gayo, sedangkan agama juga berbeda terdiri dari agama islam, kristen katolik, kristen protestan dan budha. Untuk membina kerukunan antar masyarakat diperlukan adanya satu kesepahaman tentang nilai-nilai multikultural ini, agar terciptanya masyarakat yang saling menghormati dan menghargai serta tolong menolong. Dengan kondisi keberagaman tersebut, sangat rentan terjadinya perselisihan dalam interaksi lingkungan sosial. Namun hal ini bisa menjadi permasalahan ketika mereka tidak bisa menerima perbedaan-perbedaan itu. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana keberagaman yang ada di Kec. Lawe Sigala-gala, juga peran Pendamping Desa dalam pemberdayaan pendidikan masyarakat multikultural dan juga untuk mengetahui peluang dan tantangan yang dihadapi Pendamping Desa dalam pemberdayaan pendidikan masyarakat tersebut. Subjek penelitian ini adalah Camat, Datuk Penghulu, dan dua orang warga yang berbeda agama dan suku. Penelitian ini menggunakan teknik penelitian kualitatif bersifat deskriptif analisis. Teknik analisis data dilakukan melalui observasi, wawancara dan dokumentasi. Dari hasil penelitian didapat gambaran bahwa di Kecamatan Lawe Sigala-gala terdapat agama yang beragam, suku/etnis, bahasa, budaya dan golongan. Pendamping Desa mempunyai peran yang sangat penting seperti sebagai nara sumber, motivator, mediator dan sebagai guru. Peluang bagi Pendamping Desa dalam pemberdayaan pendidikan yaitu, partisipasi dan antusias masyarakat masih besar terhadap pendidikan, adanya program pemerintah seperti PNPM MPd dan Dana Desa, sedangkan tantangan yang dihadapi yaitu, kurangnya pemahaman terhadap tupoksi, partisipasi masyarakat yang tergolong sedang, konflik internal baik dalam politik desa, antara anak-anak dan yang berbuntut ke arah kriminal.
Implementation Strategies of Mosque-Based Religious Moderation Pioneers in Fostering Social and Religious Harmony Muhammad; Asman, Yunita; Cholizar; Ayunda, Desy Sary
Edukasia Islamika : Jurnal Pendidikan Islam Vol 10 No 2 (2025): Edukasia Islamika - Jurnal Pendidikan Islam
Publisher : Universitas Islam Negeri K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

In recent years, the issue of religious moderation has become a central concern in national religious discourse, along with increasing social polarization and the spread of extremist ideologies that potentially threaten social cohesion. Mosques, as religious institutions deeply rooted in community life, possess significant potential to serve as agents in promoting wasathiyah (moderate) Islamic values. This study aims to explore the lived experiences, perceptions, and meaning-making processes of mosque stakeholders as they implement the Masjid Pelopor Moderasi Beragama (MPMB) program in Aceh to foster social and interreligious harmony. Employing a qualitative approach with a phenomenological case study design, this research was conducted in three representative settings: Istiqamah Benuaraja Mosque in Aceh Tamiang, MAN 1 Mosque in Aceh Tenggara, and the Campus Mosque of UIN Ar-Raniry in Banda Aceh. Data were collected through in-depth interviews, participatory observation, and document analysis to uncover the subjective experiences and contextual interpretations of imams, mosque administrators, educators, and community members. The findings reveal that each mosque developed contextual strategies grounded in its experiential understanding of local community dynamics. Participants emphasized community-based approaches rooted in local wisdom, the integration of moderate religious values into formal education, and the development of digital campus-based da'wah. Despite these efforts, challenges persist, including limited conceptual literacy about religious moderation, insufficient human resources and funding, the absence of standardized training modules, and weak monitoring and evaluation systems. Theoretically, this study contributes to expanding phenomenological insights into institutional religious practices within contemporary Islamic scholarship. In practice, the findings provide a grounded basis for developing policies and training curricula on religious moderation that are more systematic and responsive to the real experiences of mosque communities.