Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search
Journal : Amerta

POLA PEMUKIMAN KAWASAN PERKEBUNAN KARET MASA HINDIA BELANDA DI BOGOR Inagurasi, Libra Hari
AMERTA Vol. 32 No. 1 (2014)
Publisher : Penerbit BRIN (BRIN Publishing)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak. Tulisan ini dilatarbelakangi oleh pemikiran, bahwa Bogor merupakan sebuah daerah yang kaya akan potensi perkebunan masa Hindia Belanda. Meskipun demikian belum ada tulisan yang membahas seperti apa dan bagaimanakah pemukiman di kawasan perkebunan karet masa Hindia Belanda di Bogor. Dilatarbelakangi oleh pemikiran tersebut maka tulisan ini bertujuan menampilkan kembali gambaran pola pemukiman di kawasan perkebunan karet melalui jejak-jejak yang ditinggalkan. Tulisan ini disusun melalui tahap penelusuran literatur, survei arkeologi dan lingkungan di lokasi penelitian, analisis, sintesa antara data arkeologi dan data sejarah. Gambaran pola pemukiman di kawasan perkebunan karet di Bogor dapat dibuktikan secara fisik melalui tinggalantinggalan arkeologi. Bangunan-bangunan yang berfungsi sebagai rumah tempat tinggal pemilik kebun, bangunan kantor perkebunan, pengolahan getah karet, dan mausoleum, serta artefak genteng lama dan botol Eropa merupakan petunjuk keberadaan pemukiman di perkebunan karet Hindia Belanda di Bogor. Pola pemukiman perkebunan tersusun atas bangunan tempat tinggal pemilik kebun misalnya landhuis atau kantor perkebunan yang dikelilingi oleh tempat tinggal pegawai dan pekerjanya, tempat pengolahan karet. Adapun mausoleum ditempatkan berjauhan dari pusat pemukiman. Kata kunci: Bogor, Hindia Belanda, Pemukiman, Perkebunan Karet. Abstract. The Settlement Pattern of Rubber Plantation Areas from the Dutch-Indie’s Period in Bogor. This article is based on a notion that Bogor is an area rich in potency of plantations during the Dutch-Indie’s Period. However, there has not been an article that discusses what were the settlements in the rubber plantations in Bogor during the Dutch-Indie’s period like and how were life there at that time. Based on such thought, this article will reconstruct the settlement patterns in the rubber plantations through their remains, by conducting literature study, archaeological and environmental surveys in the research area, analyses, and synthesis between archaeological and historical data. The depiction of the settlement patterns in rubber plantations in Bogor can be physically proven through their archaeological remains. Buildings that were functioned as residences of plantation owners, administration building (plantation office), rubber-latex processing building, and mausoleum, as well as artefacts in forms of old roof tiles and European bottles are indications of the presence of settlements in Dutch Indie’s rubber plantations in Bogor. The settlement pattern consists of residence of plantation owner, known as landhuis, plantation office surrounded by residences of plantation workers, and rubber-latex processing building. Mausoleum is located far from the centre of settlement. Keywords: Bogor, The Dutch-Indie, Settlement, Rubber Plantation.
TAMBANG BATU BARA ORANJE NASSAU, KALIMANTAN SELATAN, DALAM PANDANGAN ARKEOLOGI INDUSTRI Inagurasi, Libra Hari
AMERTA Vol. 33 No. 2 (2015)
Publisher : Penerbit BRIN (BRIN Publishing)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak. Aktivitas pertambangan batu bara di Indonesia dimulai pada abad ke-19. Dalam tulisan ini dikemukakan tinggalan arkeologi dari situs tambang batu bara tertua di Indonesia, yakni tambang batu bara Oranje Nassau. Lokasi situs berada di Desa Pengaron, Kecamatan Pengaron, Kabupaten Banjar, Provinsi Kalimantan Selatan. Kronologi situs berasal dari tahun 1849 (abad ke-19). Oranje Nassau merupakan tambang batu bara yang diusahakan oleh pemerintah Hindia Belanda. Ketika didirikan, lokasi tambang itu menempati wilayah milik Kesultanan Banjarmasin. Tulisan ini bermaksud memberikan gambaran mengenai awal perkembangan industri di Indonesia melalui tambang batu bara tertua Oranje Nassau. Adapun tujuan tulisan ini adalah mengidentifikasi jenis,fungsi, dan hubungan antar tinggalan tambang batu bara dengan menggunakan pendekatan Arkeologi Industri (Industrial Archaeology). Metode yang digunakan adalah deskriptif, historis, dan analisis kontekstual. Hasil yang telah diperoleh yakni teridentifikasinya peninggalan-peninggalan tambang batu bara kuno berasal dari masa Hindia Belanda. Peninggalan-peninggalan tersebut merupakan fasilitas kegiatan penambangan batu bara seperti bangunan monumental untuk menempatkan mesin, sumur lubang galian batu bara, lorong, terowongan, lantai dibuat dari bahan bata, dan roda besi. Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa tambang batu bara merupakan teknologi yang berasal dari luar atau teknologi yang diimpor dari Eropa, bukan asli Indonesia. Kata Kunci: Tambang batu bara, Oranje Nassau, Arkeologi Industri Abstract. Oranje Nassau Coal Mine, South Kalimantan, in view Industrial Archaeology. Coal mining activities in Indonesia started in the 19th century. In the paper is presented archaeological remains on the site of the oldest coal mine in Indonesia, which is the Oranje Nassau coal mine. The site is located in the village of Pengaron, District Pengaron, Banjar regency, South Kalimantan. The chronology of the site is 1849 (mid-19th century). Oranje Nassau is a coal mine operated by the Dutch government. When established, the mine occupied the territory of the Sultanate of Banjarmasin. The intent of this paper is to provide an overview of the early industrial development in Indonesia throughthe oldest coal mine, Oranje Nassau, while the purpose is to identify the type, function, and the relationship between the remains of coal mines by using the approach of Industrial Archaeology. The method used is descriptive, historical and contextual analyses. The results have been obtained by the identification of the relics of the ancient coal mine dating from the Dutch East India period. The relics of the coal mine are part of the coal mining activity facilities such as monumental building to put the machine, the coal pit wells, hallways, tunnels, floors made of brick, and iron wheels. Based on the survey results, it is revealed that coal mining is a technology that comes from outside, or technology imported from Europe, not originated in Indonesia. Keywords: Coal mine, Oranje Nassau, Industrial Archaeology
FENOMENA KLASIK PADA TINGGALAN ARKEOLOGIS DI PRAWOTO (Suatu Kajian Pendahuluan) Inagurasi, Libra Hari
AMERTA Vol. 21 (2001)
Publisher : Penerbit BRIN (BRIN Publishing)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

.
PROSPEK PENELITIAN ARKEOLOGI INDUSTRI DI INDONESIA: Sebuah Pemikiran Awal Inagurasi, Libra Hari
AMERTA Vol. 29 No. 1 (2011)
Publisher : Penerbit BRIN (BRIN Publishing)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak. Tulisan ini merupakan pemikiran awal bertujuan untuk memperkenalkan kajian arkeologi industri (industrial archaeology) di Indonesia. Pertimbangannya ialah arkeologi industri telah lama di kenal di Eropa khususnya di Inggris tetapi di Indonesia merupakan sebuah hal yang baru. Indonesia memiliki peninggalan industri, namun selama ini penelitian arkeologi yang menaruh perhatian pada arkeologi industri belum dilakukan secara optimal. Industri-industri tua tersebut saat ini banyak yang telah punah tenggelam oleh kemajuan zaman, namun masih ada yang bertahan. Peninggalan material industri yang berasal zaman kolonisasi oleh Belanda menjadi bukti-bukti arkeologis tentang aktivitas industri pada masa lampau. Pokok-pokok pemikiran yang tertuang di dalam tulian ini meliputi pengertian arkeologi industri dan sejarah perkembangannya di Eropa, latar belakang pertumbuhan industri di Indonesia, ranah arkeologi industri di Indonesia, prospek penelitian dan pengembangan arkeologi industri di Indonesia. Diharapkan pemikiran yang tertuang dalam tulisan tersebut menjadi langkah awal untuk memajukan arkeologi industri di Indonesia. Kata Kunci: arkeologi industry, prospek di Indonesia Abstract. The Prospect of Industrial Archaeology Reserch: a Preliminary Notion. This article is a preliminary notion, which objection is to introduce industrial archaeology in Indonesia. The reasoning is that industrial archaeology has long been known in Europe, UK in particular, but in Indonesia it is a new subject. Although Indonesia has quite many old industrial remains, thus far archaeological investigations with industrial archaeology as the main focus have not been optimally performed. Many of the old industries have now perished due to modernization. However, there are still some that survive. Remains of industrial activities from the Dutch colonial period are the archaeological evidences about the industrial activities in the olden days. The main considerations in this article include the definition of industrial archaeology and its development history in Indonesia, the domain of industrial archaeology in Indonesia, the prospect of research and development of indus- trial archaeology in Indonesia. It is hoped that the notions in this article can be the initial step to develop industrial archaeology in Indonesia. Keywords: industrial archaeology, prospect in Indonesia