Claim Missing Document
Check
Articles

Found 14 Documents
Search

Asuhan Akupunktur pada Penderita Somnolen: Studi Kasus Erna Dwiyani; Puspo Wardoyo; Amal Prihatono
Jurnal Kesehatan Ilmiah Aufa Royhan Vol 10 No 2 (2025): Vol. 10 No. 2 Desember 2025
Publisher : Universitas Aufa Royhan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51933/health.v10i2.2542

Abstract

Somnolen merupakan kondisi mengantuk berlebihan di siang hari yang dapat menurunkan fungsi aktivitas, konsentrasi, dan kualitas hidup, serta dalam perspektif Chinese Medicine sering dikaitkan dengan ketidakseimbangan organ Ginjal. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan hasil Asuhan Akupunktur pada pasien somnolen dengan sindrom Defisiensi Yang Ginjal. Penelitian menggunakan desain studi kasus dengan satu subjek yang menjalani enam sesi terapi akupunktur. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi klinis, wawancara, serta pemeriksaan tanda objektif meliputi kondisi wajah, tingkat kesadaran, fungsi tidur, eliminasi, lidah, dan nadi sebelum dan sesudah terapi. Analisis data dilakukan secara deskriptif berdasarkan perubahan klinis antar sesi terapi. Hasil penelitian menunjukkan adanya penurunan bertahap keluhan mengantuk di siang hari hingga tidak ditemukan pada sesi akhir terapi, perbaikan kualitas tidur, peningkatan nafsu makan, serta perubahan kondisi fisik yang ditandai wajah lebih segar, suara lebih jelas, dan respons motorik yang lebih lincah. Pemeriksaan lidah dan nadi juga menunjukkan pergeseran ke arah kondisi yang lebih kuat dan stabil. Berdasarkan temuan tersebut, Asuhan Akupunktur pada kasus somnolen dengan Defisiensi Yang Ginjal disarankan untuk dipertimbangkan sebagai pendekatan komplementer dalam praktik klinis serta sebagai dasar pengembangan penelitian lanjutan dengan desain dan populasi yang lebih luas.
Asuhan Akupunktur pada Kasus Palpitasi: Studi Kasus di Klinik Akupunktur Sutami 58 Bandung Rani Hardi Ningsih; Mayang wulandari; Amal Prihatono
Journal of Innovative and Creativity Vol. 6 No. 1 (2026)
Publisher : Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/joecy.v6i1.8228

Abstract

Palpitasi merupakan sensasi detak jantung yang tidak normal dan sering menimbulkan ketidaknyamanan serta penurunan kualitas hidup. Penatalaksanaan palpitasi umumnya menggunakan terapi farmakologis, namun pada sebagian pasien dapat menimbulkan efek samping dan ketergantungan obat. Akupunktur sebagai terapi komplementer berpotensi menjadi alternatif yang aman dan efektif. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui manfaat asuhan akupunktur dalam mengurangi keluhan palpitasi pada pasien di Klinik Akupunktur Sutami 58 Bandung. Penelitian menggunakan desain kualitatif dengan pendekatan studi kasus pada satu pasien perempuan berusia 34 tahun yang mengalami palpitasi. Asuhan akupunktur diberikan selama enam minggu dengan total delapan kali terapi menggunakan titik BL15 (Xinshu), BL17 (Geshu), BL23 (Shenshu), PC6 (Neiguan), dan HT7 (Shenmen). Evaluasi dilakukan pada setiap sesi berdasarkan perubahan keluhan subjektif, pemeriksaan nadi, serta kondisi umum pasien. Hasil penelitian menunjukkan adanya penurunan frekuensi dan intensitas palpitasi secara bertahap, ditandai dengan penurunan denyut nadi dari 105 kali/menit menjadi 78 kali/menit pada akhir terapi. Selain itu, pasien melaporkan perbaikan kualitas tidur, penurunan kecemasan, dan peningkatan energi, serta penghentian penggunaan obat medis di bawah pengawasan dokter. Disimpulkan bahwa asuhan akupunktur efektif dalam mengurangi keluhan palpitasi dan dapat dipertimbangkan sebagai terapi komplementer yang aman dan bermanfaat.
Effectiveness of Acupuncture Care In Cases of Sided Facial Paralysis (Miantan): A Case Study At The Integration Polyclinic of Carolus Borromeus Hospital, Kupang, NTT Vivi Kurniati Tjahjadi; Mayang Wulandari; Amal Prihatono
International Journal of Health and Pharmaceutical (IJHP) Vol. 6 No. 2 (2026): May 2026
Publisher : CV. Inara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51601/ijhp.v6i2.592

Abstract

Unilateral facial paralysis, also known as Miantan, refers to paralysis affecting one side of the face. One type of Miantan is Shi Syndrome, which is caused by pathogenic factors such as wind-cold and wind-heat. These factors lead to obstruction of the flow of Qi in the Yang Ming and Shao Yang meridians, resulting in a “wind-phlegm” syndrome. This condition manifests with various associated symptoms, including weakness of the facial muscles, and may lead to the characteristic clinical features of Bell’s palsy. Bell’s palsy is a peripheral facial nerve paralysis characterized by weakness or paralysis on one side of the face due to dysfunction of the seventh cranial nerve. This condition is characterized by inability to close the eyes completely, drooping of the mouth corner, and facial asymmetry. This study aimed to determine the effectiveness of acupuncture care in patients with Bell’s palsy at the Integrative department of St. Carolus Borromeus Hospital Kupang. This study used a qualitative case study design. The participant was a 35-year-old female patient diagnosed with left-sided Bell’s palsy. Data were collected using acupuncture diagnostic methods including observation (Wang), listening and smelling (Wen), questioning (Wen), and palpation (Qie). Acupuncture therapy was administered based on the established diagnosis of disease and syndrome. The results showed facial asymmetry on the left side, inability to raise the forehead, and incomplete eyelid closure. After several acupuncture therapy sessions, improvements were observed in facial muscle function, eyelid closure ability, and facial expressions. This study concludes that acupuncture therapy can improve facial nerve function and accelerate recovery in patients with Bell’s palsy.
Model Kolaborasi Bidan dan Terapis Akupunktur dalam Penerapan Manajemen Komplementer Masa Nifas Prihatono, Amal; Prisusanti, Retno Dewi
Jurnal Ilmiah Kedokteran dan Kesehatan Vol. 5 No. 1 (2026): Januari: Jurnal Ilmiah Kedokteran dan Kesehatan
Publisher : Lembaga Pengembangan Kinerja Dosen

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55606/klinik.v5i1.5556

Abstract

Background: The postpartum period is a critical stage for maternal recovery, characterized by physical and emotional adjustments. Conventional midwifery care often lacks complementary interventions that can enhance maternal well-being. Collaboration between midwives and acupuncture therapists is expected to create a more holistic, evidence-based complementary care model for postpartum mothers. Methods: This study employed a mixed-methods sequential exploratory design. The qualitative phase involved in-depth interviews with 12 midwives, 6 acupuncture therapists, and 10 postpartum mothers to identify needs, barriers, and perceptions toward collaborative care. The quantitative phase involved 30 postpartum mothers who received a 14-day collaborative intervention combining midwifery care and acupressure therapy. Data were analyzed using paired t-tests with a significance level of p<0.05. Results: Significant improvements were observed after implementing the collaborative model: pain scores decreased from 5.8 ± 1.2 to 3.1 ± 0.9 (p=0.001), anxiety scores reduced from 16.5 ± 4.3 to 10.2 ± 3.1 (p=0.001), and breast milk production increased from 410 ± 80 ml to 560 ± 90 ml (p=0.002). Sleep quality improved from 8.2 ± 2.1 to 5.0 ± 1.6 (p=0.003), and maternal satisfaction rose from 3.6 ± 0.7 to 4.7 ± 0.4 (p=0.001). Discussion: The collaborative midwife–acupuncturist model effectively accelerated postpartum recovery through acupressure stimulation and holistic emotional support. This aligns with the World Health Organization’s (2021) Framework for Interprofessional Collaborative Practice, emphasizing integrated, patient-centered care. Conclusion: The collaborative model between midwives and acupuncture therapists effectively enhances the physical and psychological well-being of postpartum mothers. It is feasible for implementation in midwifery services as an evidence-based complementary care approach.