Claim Missing Document
Check
Articles

Found 17 Documents
Search

Terapi Akupunktur sebagai Asuhan Holistik pada Kasus Menoragia Sri Wahyuni; Chantika Mahadini; Amal Prihatono
Jurnal Kesehatan Ilmiah Aufa Royhan Vol 10 No 2 (2025): Vol. 10 No. 2 Desember 2025
Publisher : Universitas Aufa Royhan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51933/health.v10i2.2539

Abstract

Menoragia merupakan gangguan menstruasi yang dapat menurunkan kualitas hidup akibat perdarahan berlebih dan keluhan sistemik yang menyertainya, sehingga memerlukan penatalaksanaan yang efektif dan holistik. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi respons terapeutik asuhan akupunktur pada kasus menoragia dengan latar belakang sindrom Defisiensi Qi Limpa. Penelitian ini menggunakan desain studi kasus dengan satu partisipan yang menjalani enam sesi terapi akupunktur. Pengumpulan data dilakukan melalui pemeriksaan four diagnostic methods Chinese Medicine (Wang, Wen, Wen, Qie) pada sesi awal dan akhir terapi, meliputi keluhan utama, kondisi umum, pemeriksaan lidah dan nadi, serta wawancara klinis. Analisis data dilakukan secara deskriptif-komparatif antara kondisi sebelum dan sesudah intervensi. Hasil penelitian menunjukkan adanya penurunan durasi perdarahan haid dari sekitar 15 hari menjadi 8–9 hari dengan volume yang lebih terkontrol, peningkatan energi tubuh, berkurangnya rasa lelah dan dingin pada ekstremitas, perbaikan fungsi pencernaan, serta penurunan keluhan kecemasan dan overthinking. Perubahan positif juga tampak pada pemeriksaan lidah, nadi, suara, dan kualitas napas. Berdasarkan hasil tersebut, disarankan agar terapi akupunktur dapat dipertimbangkan sebagai salah satu pendekatan komplementer dalam penanganan kasus menoragia serta menjadi dasar bagi penelitian lanjutan dengan desain yang lebih luas.
Asuhan Akupunktur pada Penderita Somnolen: Studi Kasus Erna Dwiyani; Puspo Wardoyo; Amal Prihatono
Jurnal Kesehatan Ilmiah Aufa Royhan Vol 10 No 2 (2025): Vol. 10 No. 2 Desember 2025
Publisher : Universitas Aufa Royhan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51933/health.v10i2.2542

Abstract

Somnolen merupakan kondisi mengantuk berlebihan di siang hari yang dapat menurunkan fungsi aktivitas, konsentrasi, dan kualitas hidup, serta dalam perspektif Chinese Medicine sering dikaitkan dengan ketidakseimbangan organ Ginjal. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan hasil Asuhan Akupunktur pada pasien somnolen dengan sindrom Defisiensi Yang Ginjal. Penelitian menggunakan desain studi kasus dengan satu subjek yang menjalani enam sesi terapi akupunktur. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi klinis, wawancara, serta pemeriksaan tanda objektif meliputi kondisi wajah, tingkat kesadaran, fungsi tidur, eliminasi, lidah, dan nadi sebelum dan sesudah terapi. Analisis data dilakukan secara deskriptif berdasarkan perubahan klinis antar sesi terapi. Hasil penelitian menunjukkan adanya penurunan bertahap keluhan mengantuk di siang hari hingga tidak ditemukan pada sesi akhir terapi, perbaikan kualitas tidur, peningkatan nafsu makan, serta perubahan kondisi fisik yang ditandai wajah lebih segar, suara lebih jelas, dan respons motorik yang lebih lincah. Pemeriksaan lidah dan nadi juga menunjukkan pergeseran ke arah kondisi yang lebih kuat dan stabil. Berdasarkan temuan tersebut, Asuhan Akupunktur pada kasus somnolen dengan Defisiensi Yang Ginjal disarankan untuk dipertimbangkan sebagai pendekatan komplementer dalam praktik klinis serta sebagai dasar pengembangan penelitian lanjutan dengan desain dan populasi yang lebih luas.
Asuhan Akupunktur pada Kasus Palpitasi: Studi Kasus di Klinik Akupunktur Sutami 58 Bandung Rani Hardi Ningsih; Mayang wulandari; Amal Prihatono
Journal of Innovative and Creativity Vol. 6 No. 1 (2026)
Publisher : Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/joecy.v6i1.8228

Abstract

Palpitasi merupakan sensasi detak jantung yang tidak normal dan sering menimbulkan ketidaknyamanan serta penurunan kualitas hidup. Penatalaksanaan palpitasi umumnya menggunakan terapi farmakologis, namun pada sebagian pasien dapat menimbulkan efek samping dan ketergantungan obat. Akupunktur sebagai terapi komplementer berpotensi menjadi alternatif yang aman dan efektif. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui manfaat asuhan akupunktur dalam mengurangi keluhan palpitasi pada pasien di Klinik Akupunktur Sutami 58 Bandung. Penelitian menggunakan desain kualitatif dengan pendekatan studi kasus pada satu pasien perempuan berusia 34 tahun yang mengalami palpitasi. Asuhan akupunktur diberikan selama enam minggu dengan total delapan kali terapi menggunakan titik BL15 (Xinshu), BL17 (Geshu), BL23 (Shenshu), PC6 (Neiguan), dan HT7 (Shenmen). Evaluasi dilakukan pada setiap sesi berdasarkan perubahan keluhan subjektif, pemeriksaan nadi, serta kondisi umum pasien. Hasil penelitian menunjukkan adanya penurunan frekuensi dan intensitas palpitasi secara bertahap, ditandai dengan penurunan denyut nadi dari 105 kali/menit menjadi 78 kali/menit pada akhir terapi. Selain itu, pasien melaporkan perbaikan kualitas tidur, penurunan kecemasan, dan peningkatan energi, serta penghentian penggunaan obat medis di bawah pengawasan dokter. Disimpulkan bahwa asuhan akupunktur efektif dalam mengurangi keluhan palpitasi dan dapat dipertimbangkan sebagai terapi komplementer yang aman dan bermanfaat.
THE ROLE OF ACUPUNCTURE IN A SYSTEMIC LUPUS ERYTHEMATOSUS PATIENT: A CASE STUDY Mayang Wulandari; Amal Prihatono
Journal of Vocational Health Studies Vol. 9 No. 3 (2026): March 2026 | JOURNAL OF VOCATIONAL HEALTH STUDIES
Publisher : Faculty of Vocational Studies, Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/jvhs.V9.I3.2026.217-223

Abstract

Background: Systemic Lupus Erythematosus (SLE) is a chronic autoimmune disease commonly characterized by symptoms such as frequent headaches, joint pain, and occasional body swelling. Acupuncture, a traditional Chinese medicine therapy, has been identified as a possible alternative for managing symptoms in SLE patients, especially for those seeking relief from the side effects of conventional treatments. Purpose: This study aims to evaluate the effectiveness and safety of acupuncture, a minimally invasive therapy, in addressing chronic and complex complaints in a SLE patient. Case analysis: A case study was conducted on a 23-year-old woman diagnosed with SLE presenting complaints of frequent headaches, joint pain, and occasional body swelling. Data were collected through observation, hearing (auscultation)/smelling (olfaction) assessment, interview, and palpation. The patient underwent 12 acupuncture sessions with assessments conducted before and after therapy, including Traditional Chinese Medicine (TCM) examination, abdominal ultrasound, chest X-ray, and laboratory tests. Result: Following acupuncture therapy, the patient’s headaches were resolved, joint pain diminished, and swelling subsided. Conclusion: Acupuncture can be an effective supportive therapy and a safe option for reducing various symptoms in SLE patients.
Acupuncture for Dyspepsia Patients at the Griya Sehat Thabib Clinic Prof. Jim Bekasi Putri, Ni Made Ayu Diana; Amal Prihatono; Chantika Mahadini; Puspo Wardoyo
Jurnal Indonesia Sosial Sains Vol. 7 No. 3 (2026): Jurnal Indonesia Sosial Sains
Publisher : CV. Publikasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59141/jiss.v7i3.2238

Abstract

Dyspepsia is a collection of symptoms related to gastroduodenal disorders, such as pain or burning in the epigastrium, postprandial fullness, upper abdominal bloating, and early satiety. Dyspepsia is classified into two types, namely organic dyspepsia and functional dyspepsia. Organic dyspepsia is accompanied by structural abnormalities such as gastritis, peptic ulcers, gastric cancer, gastroesophageal reflux disease (GERD), and gastric acid hypersecretion, whereas functional dyspepsia does not show abnormalities on physical examination or endoscopy. Dietary and lifestyle factors play a major role in the occurrence of dyspepsia, including the consumption of spicy, fatty, and baked foods; overeating; coffee consumption; smoking habits; alcohol intake; the use of anti-inflammatory drugs; and lack of physical activity. This study is qualitative research with a case study approach using a purposive sampling technique on one respondent. The measuring tool used was the change in dyspepsia symptoms before and after the intervention. The results showed that after four sessions of acupuncture therapy, there was a decrease in pain intensity and dyspepsia symptoms. Based on these results, acupuncture can be considered a complementary therapy for the treatment of dyspepsia in patients at the Griya Sehat Thabib Clinic Prof. Jim Bekasi.
Effectiveness of Acupuncture Care In Cases of Sided Facial Paralysis (Miantan): A Case Study At The Integration Polyclinic of Carolus Borromeus Hospital, Kupang, NTT Vivi Kurniati Tjahjadi; Mayang Wulandari; Amal Prihatono
International Journal of Health and Pharmaceutical (IJHP) Vol. 6 No. 2 (2026): May 2026
Publisher : CV. Inara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51601/ijhp.v6i2.592

Abstract

Unilateral facial paralysis, also known as Miantan, refers to paralysis affecting one side of the face. One type of Miantan is Shi Syndrome, which is caused by pathogenic factors such as wind-cold and wind-heat. These factors lead to obstruction of the flow of Qi in the Yang Ming and Shao Yang meridians, resulting in a “wind-phlegm” syndrome. This condition manifests with various associated symptoms, including weakness of the facial muscles, and may lead to the characteristic clinical features of Bell’s palsy. Bell’s palsy is a peripheral facial nerve paralysis characterized by weakness or paralysis on one side of the face due to dysfunction of the seventh cranial nerve. This condition is characterized by inability to close the eyes completely, drooping of the mouth corner, and facial asymmetry. This study aimed to determine the effectiveness of acupuncture care in patients with Bell’s palsy at the Integrative department of St. Carolus Borromeus Hospital Kupang. This study used a qualitative case study design. The participant was a 35-year-old female patient diagnosed with left-sided Bell’s palsy. Data were collected using acupuncture diagnostic methods including observation (Wang), listening and smelling (Wen), questioning (Wen), and palpation (Qie). Acupuncture therapy was administered based on the established diagnosis of disease and syndrome. The results showed facial asymmetry on the left side, inability to raise the forehead, and incomplete eyelid closure. After several acupuncture therapy sessions, improvements were observed in facial muscle function, eyelid closure ability, and facial expressions. This study concludes that acupuncture therapy can improve facial nerve function and accelerate recovery in patients with Bell’s palsy.
Acupuncture Treatment for Anxiety at Flowers Beauty Studio in Bandung Mega Frawati, Afriyanti Bunga; Abdullah, Ikhwan; Prihatono, Amal; Wulandari , Mayang
Jurnal Indonesia Sosial Sains Vol. 7 No. 4 (2026): Jurnal Indonesia Sosial Sains
Publisher : CV. Publikasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59141/jiss.v7i4.2268

Abstract

This study explores the effectiveness of acupuncture therapy in reducing anxiety symptoms accompanied by insomnia, a condition that has become increasingly prevalent globally and in Indonesia. Anxiety disorders significantly affect individuals’ quality of life, while limitations in conventional treatments and mental health services highlight the need for complementary therapeutic approaches. Therefore, this research aims to evaluate the benefits of acupuncture care in alleviating anxiety and improving sleep quality in patients. The study employed a qualitative case study design involving one adult female participant undergoing six sessions of acupuncture therapy over two weeks at Flowers Beauty Studio Bandung. Data were collected through observation, structured interviews, clinical examination based on Traditional Chinese Medicine (TCM) principles, and documentation. The therapy focused on balancing Yin deficiency and regulating Liver Qi stagnation through specific acupuncture points. The findings indicate a gradual and consistent improvement in the participant’s condition, including reduced anxiety levels, improved sleep duration and quality, decreased panic symptoms, and enhanced overall well-being. Clinical indicators such as pulse, tongue condition, and emotional stability also showed positive changes across therapy sessions. In conclusion, acupuncture therapy demonstrates effectiveness as a complementary and low-risk intervention for managing anxiety with insomnia. This approach contributes to restoring physical and emotional balance and offers a promising alternative for holistic mental health care.