Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

Peranan Tata Letak Objek Pameran, Tata Warna dan Pencahayaan Dalam Menarik Minat Pengunjung Museum Macan Jakarta Ayu Oktaviani; Diva Meiliana Rifai
Jurnal Ilmiah Arjouna: Architecture and Environment Journal of Krisnadwipayana Vol 7 No 2 (2023): Jurnal Ilmiah ARJOUNA
Publisher : Universitas Krisnadwipayana, Fakultas Teknik Program Studi Arsitektur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61488/jia.v7i2.237

Abstract

Menurut Intenasional Council of Museum (ICOM) : dalam Pedoman Museum Indoneisa,2008. museum adalah sebuah lembaga yang bersifat tetap, tidak mencari keuntungan, melayani masyarakat dan perkembangannya, terbuka untuk umum, memperoleh, merawat, menghubungkan dan memamerkan artefak-artefak perihal jati diri manusia dan lingkungannya untuk tujuan studi, pendidikan dan rekreasi. minat wisatawan dalam mengunjungi museum yang minim dikarenakana wisata heritage di Indonesia tidak cukup populer, sebagai pertanda bahwa kurangnya fasilitas dari museum untuk menarik minat pengunjung, sebagai solusinya dapat disiasati dengan penataan pada desain interior museum yang disesuaikan dengan trend atau gaya masa kini, selain untuk memenuhi fungsi utama museum itu sendiri yaitu menunjukkan nilai-nilai koleksi yang tersimpan kepada publik museum juga dapat dimanfaatkan sebagai spot ber swafoto agar dapat menarikminat pengunjung yang datang. Objek penelitian yang akan dibahas yaitu The Museum of Modern and Contemporary Art in Nusantara atau Museum MACAN. Tujuan Penelitian ini adalah Untuk mengetahui penyebab rendahnya minat masyarakat dalam mengunjungi museum. Metodologi yan digunakan dalam penelitian ini yaitu gabungan dari 2 metode yaitu Analisa deskriptif dan kuantitatif. Analisa deskriptif akan digunakan pada variabel penelitian mengenai Tata Letak Objek dan juga Tata warna. Analisa kuantitatif akan digunakan pada variabel penelitian mengenai pencahayaan.
EVALUSI RANCANGAN KONSEP RUANG TERBUKA PADA PUSAT PERBELANJAAN SEBAGAI DESAIN YANG TANGGAP PANDEMI Ayu Oktaviani; Rido Afriadi
Jurnal Ilmiah Arjouna: Architecture and Environment Journal of Krisnadwipayana Vol 7 No 1 (2023): Jurnal Ilmiah ARJOUNA
Publisher : Universitas Krisnadwipayana, Fakultas Teknik Program Studi Arsitektur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Setelah pandemi Covid-19 melanda selama 2 tahun lebih, akhirnya berbagai kegiatan masyarakat mulai berangsur normal. Aktivitas harian mulai bisa dilakukan dengan mengadopsi kebiasaan baru yang berlaku dalam tatanan perubahan sosial. Konsep outdoor menjadi salah satu alternatif desain yang dapat diterapkan pada bangunan pusat perbelanjaan di masa depan. Penelitian ini mengambil studi kasus di Mall Kelapa Gading. Tujuan dilakukan penelitian ini adalah Untuk mengetahui fungsi ruang terbuka pada pusat perbelanjaan dan juga Mendapatkan ide desain konsep ruang terbuka dalam pembangunan pusat perbelanjaan tanggap pandemi. Metode yang digunakan, yaitu metode deskriptif kualitatif dengan pendekatan Kajian teori. Metode pengumpulan data menggunakan place-centered mapping dan person-centered mappingKonsep terbuka sangat sesuai dengan desain tanggap pandemi Konsep terbuka memiliki banyak kelebihan dari segi sirkulasi udara dan segi pencahayaan.Konsep terbuka memiliki kekurangan dari segi kenyamanan pada siang hari.
Kajian Konsep Placemaking Terhadap Pengunjung Di Taman Ismail Marzuki Jakarta Izka Zulkarnain; Ayu Oktaviani
Jurnal Ilmiah Arjouna: Architecture and Environment Journal of Krisnadwipayana Vol 8 No 2 (2024): Jurnal Ilmiah Arjouna: Architecture and Environment Journal of Krisnadwipayana
Publisher : Universitas Krisnadwipayana, Fakultas Teknik Program Studi Arsitektur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61488/jia.v8i2.785

Abstract

Penelitian ini membahas tentang kajian konsep placemaking terhadap pengunjung di Taman Ismail Marzuki. Yang mana, konsep placemaking ini bertujuan untuk menciptakan suatu ruang yang berkualitas bagi pengunjung. Metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian kualitatif, agar dapat mengeksplorasi kajian konsep placemaking terhadap pengunjung di Taman Ismail Marzuki ini. Menurut Project for Public Space, ruang yang berkualitas tersebut dinilai dari empat factor, yaitu factor kenyamanan, factor aksesibilitas, factor aktivitas dan factor lingkungan sosial. Factor - faktor tersebut akan menjadi acuan terhadap pengambilan data dari pengunjung. Berdaarkan dari data yang telah diambil, TIM ini dapat mewadahi berbagai aktivitas para pengunjung serta memenuhi kriteria kenyamanan, aksesibilitas, aktivitas dan lingkungan social, yang mendukung dan mempermudah berbagai produktivitas pengunjung. Oleh karena itu dapat dikatakan bahwa Taman ismail marzuki berhasil menerapkan konsep placemaking.
RUMAH KALANG KOTAGEDE : AKULTURASI JAWA- BELANDA DALAM FUNGSI RUANG ARSITEKTURAL Kalang House of Kotagede: Javanese–Dutch Acculturation in Architectural Spatial Functions Ayu Oktaviani; Ferdy Apriyan Putra
Jurnal Ilmiah Arjouna: Architecture and Environment Journal of Krisnadwipayana Vol 9 No 1 (2025): Jurnal Ilmiah Arjouna: Architecture and Environment Journal of Krisnadwipayana
Publisher : Universitas Krisnadwipayana, Fakultas Teknik Program Studi Arsitektur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61488/jia.v9i1.793

Abstract

Arsitektur tradisional Indonesia merupakan wujud ekspresi budaya yang kaya akan nilai filosofis dan simbolis, salah satunya tercermin dalam rumah adat Jawa. Rumah Joglo tidak hanya berfungsi sebagai hunian, tetapi juga merepresentasikan struktur sosial, nilai budaya, dan tata kehidupan masyarakat Jawa. Di Kotagede, Yogyakarta, Rumah Kalang menjadi contoh arsitektur tradisional yang berkembang melalui proses akulturasi antara budaya Jawa dan arsitektur kolonial Belanda (Indis). Keberadaan Rumah Kalang menunjukkan perpaduan tata ruang tradisional Jawa dengan elemen arsitektural Eropa, seperti penggunaan kolom bergaya Korinthia-Romawi, material batu bata, serta ornamen khas kolonial. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji aspek arsitektural dan fungsi ruang Rumah Kalang sebagai representasi akulturasi budaya Jawa dan Belanda. Kajian ini didasarkan pada teori arsitektur tradisional Jawa, konsep pembagian ruang rumah Joglo, serta teori akulturasi budaya dalam arsitektur yang menekankan proses adaptasi unsur asing tanpa menghilangkan identitas lokal
PENGARUH SECONDARY SKIN PADA FASADE BANGUNAN TERHADAP KUALITAS CAHAYA ALAMI DAN PENGHAWAAN PADA RESTORAN BAKERY (Studi Kasus : Restoran J.Co Jatiwaringin) Ahmad Aldi Alkindi Sitorus; Ayu Oktaviani
Jurnal Ilmiah Arjouna: Architecture and Environment Journal of Krisnadwipayana Vol 9 No 2 (2025): ARJOUNA : Architecture and Environment Journal of Krisnadwipayana
Publisher : Universitas Krisnadwipayana, Fakultas Teknik Program Studi Arsitektur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61488/jia.v9i2.794

Abstract

This study examines the effect of applying a secondary skin to a building facade on the quality of natural light at the J.CO Donuts & Coffee restaurant in Jatiwaringin, Bekasi. Natural lighting is a crucial aspect of architectural design that directly impacts user visual comfort. The purpose of this study is to evaluate the extent to which the application of a secondary skin can control natural light intensity according to comfort standards based on SNI 6197-2020.The research method used was a quantitative approach with field observation techniques and light intensity measurements using a lux meter at several points within the restaurant space. The measurement data were then compared with the natural lighting standards set by SNI. The results showed that the application of the secondary skin on the facade was not fully optimal. The natural light intensity values at the first (489 LUX) and second (899 LUX) measurement points exceeded comfort standards, while the third point (211 LUX) almost met the established standards. The conclusion of this study indicates that the secondary skin design of the facade needs to be optimized to balance natural light intensity across the entire space. The addition of facade elements such as lattices or vines is recommended to help reduce excess light without reducing the overall quality of natural lighting