Hidayatul Wahidah, Hidayatul
Unknown Affiliation

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

The Ritual and Mythology of Ruwatan in Mojokerto Wahidah, Hidayatul
Religió: Jurnal Studi Agama-agama Vol 5 No 2 (2015): September
Publisher : Program Studi Studi Agama-Agama, Fakultas Ushuluddin dan Filsafat, Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (337.161 KB)

Abstract

Artikel ini menjelaskan tentang sejarah munculnya ritual ruwatan di Mojokerto, tujuan, bentuk ritual dan makna ruwatan bagi masyarakat lokal. Dengan menggunakan metode etnologi penulis menemukan bahwa munculnya ritual ruwatan di Mojokerto merupakan hasil dari proses magis yang berupa mimpi. Berawal dari mimpi salah satu satu pemuka desa yang bermimpi bertemu dengan pendahulu desa yang memberi simbol-simbol magis untuk menyuruh masyarakat setempat melakukan ritual ruwatan di area makamnya. Ritual tersebut diyakini oleh masyarakat setempat sebagai tameng atau senjata untuk menghindarkan masyarakat dari berbagai bahaya bencana. Bentuk ruwatan yang dilakukan mencakup dua model yaitu membersihkan makam serta memberi sesajen di waktu pagi dan menyelenggarakan wayang di sore dan malam hari. Secara umum, masyarakat lokal memiliki cara pandang bahwa ruwatan tersebut selain untuk menyelamatkan mereka dari mara bahaya, juga mengingatkan mereka pada leluhur serta merupakan suatu bentuk ungkapan terima kasih mereka kepadanya. Kesimpulan artikel ini menunjukkan bahwa ritual ruwatan desa merupakan representasi hormat masyarakat kepada leluhur. Selain itu, tujuan diadakannya ritual ini untuk membentuk keharmonisan di dalam masyarakat, karena masyarakat yang datang dari latar belakang yang berbeda datang dan berkumpul di ritual ini. 
The Social - Political Significance of Ruwatan Desa Ritual Wahidah, Hidayatul; Afandi, Akhmad Jazuli
Religió: Jurnal Studi Agama-agama Vol 8 No 2 (2018): September
Publisher : Program Studi Studi Agama-Agama, Fakultas Ushuluddin dan Filsafat, Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (295.69 KB)

Abstract

The Punden of Mbah Sentono is a sacred landscape that is used frequently by people to increase their spirituality. It is recognized as a sacred place to perform rituals such as tahlilan, slametan and ruwatan desa. The main issue I raise in this paper concerns the social-political significance of the rituals. The three main questions are, first, how is ruwatan practiced in the Punden of Mbah Sentono? Second, how have political actors used the ritual in the punden as a political tool in an election? The last, how have people also used the ritual in the punden to counter the political actors’ use the ritual? I will show that the rituals do have social-political significance and argue that both political actors and people in society have mutual relations through the rituals. From this point of view, I state that ritual in the Punden of Mbah Sentono is divided into two time periods, “during election period” and “after election period”. “The ritual during election period” are tahlilan and slametan which are handled by the candidates of the local election to build political support, whereas “the ritual after election” is ruwatan desa which is also used by the winner for negotiation and reconciliation to ease the negative impacts of the competitions during the local election, which affect people. On the other hand, people also use the rituals to ask for financial support from the candidates for holding big ruwatan desa and kirap. In the years before and after the election, ruwatan desa is held as small events. In this research, I analyze the social-political significance of ritual, using a theoretical framework informed by Kertzer. [Punden Mbah Sentono adalah tempat sakral yang sering digunakan sebagai tempat spiritual oleh orang-orang untuk meningkatkan spiritualitas mereka. Punden tersebut diakui sebagai tempat sacral untuk melakukan tahlilan, slametan dan ruwatan desa. Isu utama yang saya angkat didalam tesis ini adalah siknifikansi social-politik pada ritual. Ada tiga pertanyaan utama; yakni, pertama,  bagaimana ruwatan desa ritual dipraktekkan di punden Mbah Sentono? kedua, bagaimana actor politik menggunakan ritual didalam punden sebagai alat politik didalam pemilihan? Terakhir, bagaimana masyarakat menggunakan ritual di punden untuk keluar dari actor politik? Saya akan menunjukkan bahwa ritual mempunyai siknifikansi social-politik dan beranggapan bahwa actor politik dan masyarakat mempunyai hubungan timbal balik melalui ritual.]