Yulius Edward Indra Doris
Sekolah Tinggi Filsafat Teologi Widya Sasana Malang

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

DEMOKRASI DI TENGAH KONFLIK KEPENTINGAN MASYARAKAT SIPIL DAN PEMERINTAH DALAM KASUS WADAS-JAWA TENGAH: Tinjauan Berdasarkan Konsep Politik Demokrasi Jean-Jacques Rousseau Yulius Edward Indra Doris; Leopoldus Giovani Sitohang
JURNAL ILMIAH FALSAFAH: Jurnal Kajian Filsafat, Teologi dan Humaniora Vol. 8 No. 2 (2022): JURNAL ILMIAH FALSAFAH
Publisher : Institut Agama Islam Sultan Muhammaad Syafiuddin Sambas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37567/jif.v8i2.1193

Abstract

Fokus penulis dalam artikel ini ialah untuk membahas demokrasi di tengah konflik kepentingan masyarakat sipil dan pemerintah dalam kasus Wadas menurut perspektif Jean-Jacquaes Rousseau. Rousseau merupakan teoritikus demokrasi yang pertama mengatakan bahwa demokrasi adalah suatu sistem di mana kehendak umum menjadi kepentingan bersama. Demokrasi berarti adalah kuasa berada di tangan rakyat, dan negara yang menjalankan prinsip demokrasi sebagai roh dari sistem politiknya menunjukkan bahwa kedaulatan berada di tangan rakyat. Metode yang digunakan dalam penyusunan karya tulis ini adalah metode kualitatif dengan perspektif studi atau kajian pustaka. Dalam kasus Wadas, terjadi konflik demokrasi antara kelompok rakyat dengan pemerintah yang adalah pilihan atau suara rakyat. Persoalan ini dalam pemikiran Jean-Jacques Rousseau disebut kehendak umum dan kehendak semua. Kedua hal ini menjadi penting guna untuk melihat kepentingan kedua kelompok ini. Konsep politik Rousseau memiliki relevansi penting bagi penyelesaian secara demokratis konflik di Wadas, sebab dengan menemukan gagasan-gagasan utama dan penting dalam pemikiran Rousseau tentang politik damai dan demokrasi serta relevansinya dengan situasi di Wadas, maka akan ditemukan langkah-langkah atau solusi praktis yang dapat diusahakan bersama demi terciptanya demokrasi di Wadas.
Budaya Manggarai sebagai Ruang Dialog Intereligius dalam Masyarakat Multireligius Kristinus Sembiring; Yulius Edward Indra Doris; Yohanes Alfrid Suardi Aris; Elisabeth Serfiana Asti
Perspektif Vol. 21 N.º 1 (2026): June 2026
Publisher : Aditya Wacana Pusat Pengkajian Agama Dan Kebudayaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69621/jpf.v21i1.316

Abstract

This article explores the role of Manggarai culture as a framework for facilitating interfaith dialogue in the Manggarai region. The primary focus of the research is to understand how local cultural values in Manggarai can act as a bridge enabling people of different faiths to interact harmoniously. Although religious diversity exists within Manggarai society, this article seeks a deeper understanding of how local culture can unite them through symbols, traditions, and religious practices that collectively form the foundation for dialogue. This is important due to the scarcity of research specifically highlighting the role of Manggarai culture in the context of interfaith dialogue. By focusing on this gap, this study opens the door to a deeper understanding of the contribution of local culture to the formation of positive and inclusive interfaith dialogue. The research method employs an anthropological qualitative approach that details religious practices and cultural values playing a key role in bridging understanding between different religious groups. Findings from this study indicate that Manggarai culture plays a significant role in facilitating interfaith dialogue in Manggarai. Furthermore, Manggarai customs that value diversity are also a crucial factor in fostering harmonious interfaith dialogue. This enriches interfaith dialogue theory through contextual and “lived religion” approaches. This study reinforces the idea that socio-cultural spaces can function as “shared spaces” that transcend the boundaries of religious identity.