Claim Missing Document
Check
Articles

Found 9 Documents
Search

Diskriminasi Gender Dalam Pendidikan Handayani, Wuri
MUWAZAH Vol 10 No 2 (2018): Desember 2018
Publisher : IAIN Pekalongan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1004.302 KB) | DOI: 10.28918/muwazah.v10i2.1784

Abstract

Artikel ini adalah analisis wacana diskriminasi gender dalam pendidikan. Dengan menggunakan metode kualitatif, studi telaah pustaka ini bertujuan menghasilkan formasi teoritis secara substantif berdasarkan konseptualisasi wacana gender dan pendidikan. Permasalahan yang diulas adalah apa, bagaimana terjadinya  dan  apa dampak diskriminasi gender di dalam pendidikan. Studi ini mengaji literatur mengenai tema terkait, dokumen-dokumen formal tentang pengarusutamaan gender serta data kualitatif lainnya dan data sekunder tentang wacana gender. Studi ini menggunakan pendekatan mikro yaitu ?wilayah? proses atau interaksi sosial antara individu-individu dalam proses pembelajaran yaitu siswa dan guru. Hasil kajian adalah diskriminasi gender dalam pendidikan khususnya dalam proses pembelajaran sebagai kurikulum tersembunyi.Diskriminasi gender dalam pendidikan terjadi karena adanya proses sosialisasi (internalisasi, eksternalisasi dan objektivasi) nilai-nilai gender dalam proses pembelajaran sehingga menguatkan identitas peran  gender siswa, yang selanjutnya dapat berdampak pada pencapaian pendidikan yang tidak optimal (shortchanged).
STRATEGI NEGOSIASI PERAN GENDER SUAMI ISTRI DALAM KELUARGA PAMONG PRAJA (PAPA MOMONG-MAMA KERJA) DI PURBALINGGA Tara Belinda; Wuri Handayani
Lektur: Jurnal Ilmu Komunikasi Vol 5, No 3 (2022): Lektur: Jurnal Ilmu Komunikasi
Publisher : Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/lektur.v5i3.19173

Abstract

Abstrak            Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui strategi negosiasi peran gender suami istri yang terjadi dalam keluarga “Pamong Praja”. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Teknik pengumpulan data yaitu melalui wawancara mendalam. Dalam penentuan informan menggunakan teknik purpossive sampling, yang dihasilkan berupa tiga pasangan suami istri keluarga “Pamong Praja”. Teknik keabsahan data menggunakan teknik trianggulasi sumber, sedangkan teknik analisa data menggunakan model Miles and Huberman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa diskusi, keterbukaan dengan menyampaikan perasaan satu sama lain, kerjasama, toleransi, dan mencari solusi bersama merupakan negosiasi peran gender yang dilakukan oleh ketiga pasangan keluarga “Pamong Praja” yang akhirnya menghasilkan kesepakatan pembagian peran gender dalam keluarga. Dalam melakukan negosiasi, pasangan suami dan istri saling bergantung satu sama lain, saling menyesuaikan perubahan, dan menciptakan nilai bahwa setuju untuk melakukan perubahan peran gender demi terpenuhinya kebutuhan ekonomi, anak, dan kebutuhan sosial lainnya. Pada awal perubahan peran gender, ketiga suami kesulitan menggantikan peran istri khususnya dalam hal pengasuhan anak. Hal inilah yang menimbulkan konflik dalam keluarga. Konflik diselesaikan dengan strategi openness dan collaborative sehingga menimbulkan perasaan yang sama untuk saling memahami satu sama lain. Ketiga pasangan suami istri memahami bahwa pertukaran yang terjadi atas dasar keikhlasan, kerelaan, dan kebutuhan keluarga yang harus dipenuhi. Sehingga proses negosiasi dapat lebih mudah untuk dijalankan.Kata kunci : Pasangan Suami Istri, Negosiasi Peran, Perspekif Gender. AbstractThis study aims to determine the negotiation strategy of husband and wife gender roles that occur in the "Pamong Praja" family. This study uses a descriptive method with a qualitative approach. The data collection technique is through in-depth interviews. In determining the informants using a purposive sampling technique, the results are three married couples from the "Pamong Praja" family. The data validity technique used the source triangulation technique, while the data analysis technique used the Miles and Huberman model. The results showed that discussion, openness by conveying feelings to each other, cooperation, tolerance, and finding joint solutions were gender role negotiations carried out by the three "Pamong Praja" family couples which eventually resulted in an agreement on the division of gender roles in the family. In negotiating, husband and wife depend on each other, adjust to changes, and create value that agree to change gender roles in order to meet economic needs, children, and other social needs. At the beginning of the change in gender roles, the three husbands found it difficult to replace the wife's role, especially in terms of child care. This causes conflict in the family. Conflicts are resolved with openness and collaborative strategies so that they cause the same feeling to understand each other. The three married couples understand that exchanges that occur on the basis of sincerity, willingness, and family needs must be met. So that the negotiation process can be easier to run.Keywords : Married Couples, Role Negotiation, Gender Perspective.
MANAJEMEN PRIVASI KOMUNIKASI MEDIA SOSIAL TWITTER OLEH MAHASISWA UNY COMMUNICATION PRIVACY MANAGEMENT OF SOCIAL MEDIA TWITTER BY UNY COLLEGE STUDENT Yoga Rinestu; Wuri Handayani
Lektur: Jurnal Ilmu Komunikasi Vol 5, No 1 (2022): Lektur: Jurnal Ilmu Komunikasi
Publisher : Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/lektur.v5i1.19138

Abstract

Abstrak            Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana manajemen privasi komunikasi oleh mahasiswa Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) dalam menggunakan Twitter. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif. Subyek penelitian mahasiswa UNY pengguna Twitter. Sampel berjumlah tujuh mahasiswa diambil dengan purposive sampling. Proses pengumpulan data menggunakan metode wawancara. Uji keabsahan data menggunakan teknik triangulasi sumber, serta empat tahapan analisis data: pengumpulan, reduksi, penyajian, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian dengan menggunakan teori Communication Privacy Management menunjukkan bahwa mahasiswa telah melakukan manajemen privasi komunikasi ketika menggunakan Twitter, dengan pengelolaan yang beragam sesuai latar belakangnya. Membangun batasan privasi dengan mengubah privasi akun untuk membatasi jangkauan persebaran informasi, selektif dalam mengelola pengikut, serta membatasi interaksi. Informan telah memiliki kesadaran terhadap informasi tentang dirinya yang bersifat privasi. Meskipun telah mengelola privasinya, tetap memperhatikan dan memilah terkait informasi yang dibagikan, jika memang ranah privat memilih untuk tidak berbagi secara bebas, karena berpikir terkait dampak yang akan timbul.Kata Kunci : Privasi, manajemen privasi komunikasi, Twitter.  AbstractThis study aims to determine how communication privacy management is carried out by Yogyakarta State University (UNY) students in using Twitter social media. This study uses a qualitative approach with a descriptive method. The research subjects of UNY students are Twitter users. A sample of seven students was taken by purposive sampling. The process of collecting data using the interview method. Test the validity of the data using source triangulation techniques, as well as four stages of data analysis: collection, reduction, presentation, and drawing conclusions. The results of the study using the theory of Communication Privacy Management show that students have managed communication privacy when using Twitter, with various managements according to their backgrounds. Establish privacy boundaries by changing account privacy to limit the reach of information dissemination, be selective in managing followers, and limit interactions. Informants already have an awareness of information about themselves that is private. Even though they have managed their privacy, they still pay attention and sort out the information that is shared, if indeed the private sphere chooses not to share freely, because they think about the impact that will arise.Keywords : Privacy, communication privacy management, Twitter
REPRESENTASI DAMPAK NEGATIF SEKS PRANIKAH PADA REMAJA DALAM FILM DUA GARIS BIRU (STUDI ANALISIS SEMIOTIKA FERDINAND DE SAUSSURE) Ihsan Risniawan; Wuri Handayani
Lektur: Jurnal Ilmu Komunikasi Vol 5, No 1 (2022): Lektur: Jurnal Ilmu Komunikasi
Publisher : Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/lektur.v5i1.19145

Abstract

Abstrak            Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui representasi dampak negatif seks pranikah pada remaja dalam film Dua Garis Biru dengan analisis semiotika Ferdinand de Saussure.  Penelitian ini menggunakan metode pendekatan kualitatif deskriptif. Objek penelitian ini adalah film Dua Garis Biru (2019) karya sutradara Gina S. Noer. Dalam penelitian ini, digunakan dua teknik pengumpulkan data, yaitu dokumentasi dan studi pustaka terhadap film Dua Garis Biru. Sumber data penelitiannya adalah 27 tangkapan layar adegan film Dua Garis Biru berdasarkan teori Sarwono dan Dariyo tentang dampak negatif dan konsekuensi seks pranikah pada remaja. Teknik uji keabsahan data menggunakan triangulasi data. Analisis data yang digunakan yaitu dengan analisis semiotika Ferdinand de Saussure tentang tanda, penanda, dan petanda. Hasil penelitian menunjukkan adanya representasi dampak negatif seks pranikah pada remaja dalam film Dua Garis Biru yang dilihat melalui bentuk tanda yang ditampilkan dalam adegan-adegan, dialog, dan karakter tokoh yang merepresentasikan dampak negatif dan konsekuensi dari seks pranikah pada remaja. Terdapat 7 (tujuh) dampak negatif dan konsekuensi dari perilaku seks pranikah pada remaja, yaitu dampak psikologis, dampak fisik, konsekuensi pendidikan, konsekuensi sosiologis, konsekuensi penyesuaian kehidupan berkeluarga sebagai orang yang telah menikah, konsekuensi ekonomi, dan konsekuensi hukum dari 27 tangkapan layar adegan dalam film Dua Garis Biru.Kata kunci : Representasi, Dampak Negatif, Semiotika Ferdinand de Saussure, Dua Garis Biru, Seks Pranikah  Abstract            This study aims to find out the representation of the negative impact of premarital sex on adolescents in the Dua Garis Biru film with a semiotic analysis of Ferdinand de Saussure.Bottom of Form This study uses a descriptive qualitative approach. The object of this research is the Dua Garis Biru film (2019) by director Gina S. Noer. Two data collection techniques were used in this study, namely documentation and literature study of the Dua Garis Biru film. The research data sources are 27 screenshots from the Dua Garis Biru film, based on Sarwono and Dariyo's theory about the negative impact and consequences of premarital sex on adolescents. The technique for testing the validity of the data is using data triangulation. Analysis of the data used is Ferdinand de Saussure's semiotics about the sign, signifier, and signified. The results of the study show that there is a representation of the negative impact of premarital sex on adolescents in the film Dua Garis Biru, which is seen through the form of signs displayed in scenes, dialogues, and characters that represented the negative impacts and consequences of premarital sex on adolescents. There are 7 (seven) negative impacts and consequences of premarital sexual behavior on adolescents, namely psychological impacts, physical impacts, educational consequences, sociological consequences, consequences of adjusting to family life as married people, economic consequences, and legal consequences of 27 screenshots of scenes in Dua Garis Biru film.Keyword : Representation, Negatif Impact, Semiotics of Ferdinand de Saussure, Dua Garis Biru, Premarital Sex
ANALISIS STRATEGI KOMUNIKASI CV CIPTA KARYA DALAM MEMBANGUN CITRA PERUSAHAAN BIDANG MUSIK DAN KERAJINAN COMMUNICATION STRATEGY ANALYSIS OF CV CIPTA KARYA IN BUILDING AN IMAGE AS A MUSIC AND CRAFT COMPANY muhammad zakaria; wuri handayani
Lektur: Jurnal Ilmu Komunikasi Vol 5, No 2 (2022): Lektur: Jurnal Ilmu Komunikasi
Publisher : Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/lektur.v5i2.19148

Abstract

AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk menganalisis strategi komunikasi yang dijalankan CV Cipta Karya dalam membangun citra sebagai perusahaan bidang musik dan kerajinan. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Pengumpulan data melalui wawancara dan studi dokumentasi. Pemeriksaan keabsahan data menggunakan triangulasi sumber. Analisis data dilakukan dengan pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa CV Cipta Karya menggunakan strategi komunikasi yang terdiri dari perencanaan, pelaksanaan, dan evaluai. Perencanaan mendasarkan pada konsep AIDDA yakni membangun awareness, interest, desire, decision, dan action. Pelaksanaan strategi komunikasi dilakukan melalui advertising, personal selling, sales promotion, publisitas, marketing event, dan membentuk unit binaan. Upaya membangun citra dilakukan dengan pelayanan maksimal, kualitas dan harga bersaing di pasar, membangun hubungan dekat dengan pelanggan, serta berusaha mempermudah pelanggannya melakukan pembelian. Evaluasi dilakukan dengan selalu mengikuti kondisi terkini, salah satunya melebarkan sayap bisnis ke bidang kontraktor penyedia barang dan jasa lain untuk semakin menguatkan perusahaanKata kunci: Strategi Komunikasi, Perusahaan Baru, Musik, Marching Band, Kerajinan. AbstractThis study aims to analyze the communication strategy implemented by CV Cipta Karya in building its image as a music and craft company. This study uses a descriptive method with a qualitative approach. Data collection through interviews and documentation studies. Check the validity of the data using source triangulation. Data analysis was carried out by collecting data, reducing data, presenting data, and drawing conclusions. The results showed that CV Cipta Karya used a communication strategy consisting of planning, implementation, and evaluation. Planning based on AIDDA concept, which is to build awareness, interest, desire, decision, and action. The implementation of the communication strategy is carried out through advertising, personal selling, sales promotion, publicity, marketing events, and forming fostered units. Efforts to build an image are carried out with maximum service, quality and competitive prices in the market, building close relationships with customers, and trying to make it easier for customers to make purchases. The evaluation is carried out by always following the latest conditions, one of which is by expanding its business to the field of contractors providing other goods and services to strengthen the company.Keywords: Communication Strategy, New Company, Music, Marching Band, Craft.
Representasi peran ganda perempuan dalam iklan Sunlight Extra Higienis baru (analisis semiotika Roland Barthes) Afifah Nur Ashikah; Wuri Handayani
Lektur: Jurnal Ilmu Komunikasi Vol 6, No 1 (2023): Lektur: Jurnal Ilmu Komunikasi
Publisher : Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/lektur.v6i1.19253

Abstract

AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana representasi peran ganda perempuan dalam iklan Sunlight Extra Higienis Baru. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode analisis data semiotika Roland Barthes. Instrumen dan metode pengumpulan data dilakukan dengan teknik dokumentasi dan wawancara. Informan pendukung data penelitian adalah Gilang Jiwana Adikara., S.I.Kom., M.A, Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Negeri Yogyakarta dan Sasiana Gilar Apriantika, M.A, Dosen Pendidikan Sosiologi Universitas Negeri Yogyakarta. Teknik keabsahan data menggunakan teknik triangulasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa iklan Sunlight Extra Higienis Baru merepresentasikan realitas peran ganda perempuan dengan mengaplikasikan nilai gender transformatif. Representasi perempuan tidak hanya ditampilkan secara feminim, tetapi juga ditampilkan memiliki peran di sektor publik. Tokoh perempuan dalam iklan direpresentasikan memiliki tiga peran, yaitu sebagai ibu rumah tangga, perempuan pekerja, dan seorang ibu yang perhatian dengan pendidikan anak. Sajian dalam iklan memberikan kesan pemberdayaan kepada kaum perempuan untuk berani memilih dan lebih dari sekedar domestik. Representasi peran ganda dimaknai sebagai perluasan makna tentang konsep gender dan perempuan sempurna. Gender sebagai sesuatu yang dinamis dan perempuan sempurna adalah mereka dapat meletakkan komitmen sama rata pada wilayah publik dan domestik. Realitas peran ganda menjadi wacana gender yang mempersuasif dan mempengaruhi perasaan penonton, sehingga akan ingat dan bersedia membeli produk yang ditawarkan.Kata kunci : Representasi, Iklan, Semiotika Roland Barthes, Peran Ganda Perempuan, Gender Abstract This study aims to find out how the representation of the dual role of women’s in the advertisement of the New Sunlight Extra Hygienic. This research uses a qualitative approach with Roland Barthes' semiotic data analysis method. Data collection instruments and methods are carried out by documentation and interview techniques. The informants supporting the research data are Gilang Jiwana Adikara., S.I.Kom., M.A, Lecturer of Communication Science, Yogyakarta State University and Sasiana Gilar Apriantika, M.A, Lecturer of Sociology Education, Yogyakarta State University. The data validity technique uses triangulation techniques. The results showed that the New Sunlight Extra Hygienic ad represents the reality of women's dual roles by applying transformative gender values. Women's representation is not only displayed femininely, but also shown to have a role in the public sector. The female character in the advertisement is represented as having three roles, namely as a housewife, a working woman, and a mother who is concerned with children's education. The presentation in the advertisement gives the impression of empowerment to women to dare to choose and be more than just domestic. The representation of dual roles is interpreted as an extension of the meaning about the concepts of gender and perfect women. Gender as something dynamic and women are perfect is that they can put an equal commitment to the public and domestic spheres. The reality of dual roles becomes a gender discourse that persuasive and affects the feelings of the audience, so that they will remember and be willing to buy the products offered. Keywords : Representation, Advertising, Roland Barthes Semiotics, Women's Dual Roles, Gender
Gendered communication: Gender mainstreaming and gender differences in the age of gender equality Wuri Handayani
Informasi Vol 53, No 1 (2023): Informasi
Publisher : Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/informasi.v53i1.63478

Abstract

The implementation of Gender Mainstreaming (Pengarusutamaan Gender, PUG) policies in Indonesia has had a problematic impact on the advancement of women's resources. This is due to a discrepancy between the value system from the West (secular) which is the essence of PUG policy and the value system in Indonesian society. This study was conducted to provide an explanation of the impact of PUG policy implementation in producing a transformation of women's gender identities and roles that are becoming more modern towards the phenomenon of gender communication. This study uses critical discourse analysis from Van Dijk which includes 3 (three) dimensions, namely discourse, cognition, and society, with a micro-macro and power analysis approach. This study found that there is a potential for abuse of power in the interpersonal communication practices of men and women. There are 3 things that become factors: the structure of the mind, the structure of the text (conversation), and the meaning of the message. The operation of gender differences in gender communication practices is supported by sources of legitimacy of cultural belief systems and interpretations of religious teachings. Understanding gender differences and how they operate is beneficial in equal and comfortable communication practices. Gender intelligence will form subjectivity based on the meaning of the coherence or togetherness of the relation pair.
POLA KOMUNIKASI ORGANISASI TIM SIAGA DESA TLOGOLELE DALAM MENGHADAPI ANCAMAN BENCANA ERUPSI GUNUNG MERAPI Hastyantio Herlambang; Wuri Handayani
Lektur: Jurnal Ilmu Komunikasi Vol 4, No 2 (2021): Lektur: Jurnal Ilmu Komunikasi
Publisher : Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/lektur.v4i2.18519

Abstract

AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui Pola Komunikasi Tim Siaga Desa Desa Tlogolele dalam menghadapi ancaman bencana erupsi Gunung Merapi. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif. Sumber data didapatkan dari hasil wawancara dengan tiga informan menggunakan teknik purposive sampling. Validasi data dalam penelitian menggunakan metode triangulasi sumber. Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah model Miles and Huberman yang meliputi, reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan; 1) Tim Siaga Desa Tlogolele memiliki tingkatan organisasi vertikal dan horizontal. Anggota Tim Siaga Desa Tlogolele melakukan komunikasi melalui pertemuan rutin setiap satu bulan sekali. Selain pertemuan offline, Tim Siaga Desa Tlogolele juga memiliki media komunikasi berbasis online yaitu whatsapp. Tim Siaga Desa Tlogolele memiliki beberapa aliran komunikasi. Aliran komunikasi yang terdapat di Tim Siaga Desa Tlogolele yaitu aliran komunikasi ke bawah, ke atas, dan horizontal. Tim Siaga Desa Tlogolele memiliki pemimpin yang jelas dan antar anggota dapat mengirimkan dan menerima pesan, akan tetapi ketika terjadinya ancaman bencana erupsi, mereka menggunakan pola komunikasi bebas. sehingga, dapat ditarik kesimpulan bahwa Tim Siaga Desa Tlogolele memiliki pola komunikasi Y dan Bintang.Kata kunci: Komunikasi Organisasi, Pola Komunikasi, Tim Siaga, Desa Tlogolele AbstractThis study aimed is to determine the communication pattern of the Tlogolele Village Alert Team in facing the threat of the eruption of Mount Merapi. This research uses a qualitative approach with descriptive methods. Sources of data obtained from interviews with three informants using purposive sampling technique. The validity of the data in this study was tested by source’s triangulation. The data analysis technique used in this research is the 'Miles and Huberman' model which includes data reduction, data presentation and conclusion drawing method. The results showed that 1) The Tlogolele Village Alert Team had vertical and horizontal organizational levels. The members of the Tlogolele Village Alert Team communicate through routine meetings once a month. Apart from offline meetings, the Tlogolele Village Alert Team also has an online-based communication media, namely WhatsApp. The Tlogolele Village Alert Team has several streams of communication. The flow of communication in the Tlogolele Village Alert Team is the downward, upward, and horizontal communication flow. The Tlogolele Village Alert Team clearly defines leader and membership, members can send and receive messages regularly, but when a disaster threat occurs, they use a free communication pattern. Thus, it can be concluded that the Tlogolele Village Alert Team has a Y pattern and wheel (star) communication pattern.Keywords: Organizational Communication, The patterns of communication, Tlogolele Villages alert team
Framing Kesetaraan Gender Kebijakan Pengarusutamaan Gender dalam Konteks Interaksi Interpersonal Konfliktual Pasangan Wuri Handayani
Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora Vol 14 No 1 (2025)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jish.v14i1.86035

Abstract

Framing kesetaraan gender  bekerja dalam rentangan arena  ketimpangan   interpretasi antara relasi setara  dan konfliktual. Implikasi implementasi kebijakan Pengarusutamaan Gender (PUG)  problematis, terjadi peningkatan kualitas sumber daya  perempuan sekaligus interaksi interpersonal konfliktual dalam pasangan pernikahan.  Studi literatur ini bertujuan menganalisis konsepsi kesetaraan gender pada dokumen kebijakan Inpres Nomor 9 Tahun 2000 tentang PUG dalam Pembangunan,  dalam konteks praktik relasi interpersonal konfliktual. Kajian ini dilakukan dengan metode penelitian kualitatif, dengan analisis  framing model Gamson dan Modigliani. Konsepsi kesetaraan gender dokumen PUG dianalisis mendasarkan pada devices metaphora, exemplar, catchphrase dan depiction. Dengan metode interpretif kajian ini  mengidentifikasi  “bekerjanya” devices  dalam perspektif antropologi kebijakan.  Kajian ini memberi informasi bahwa metafora, gaya bahasa, dan fokus konsepsi kesetaraan gender dokumen PUG yang dengan pendekatan obyektif  menjadi   perangkat mobilisasi dan legitimasi kaum perempuan dalam  mentransformasi diri mengarah ke identitas gender   dan peran gender yang lebih modern . Hal ini menjadi dasar adanya  ketimpangan  interpretasi  tentang kesetaraan gender dalam pasangan, mendorong potensi respon  konfliktual, dalam dimensi stereotip, pembagian kerja dan kepemimpinan laki-laki. Kajian literatur ini memberi informasi perlunya  pendidikan gender  untuk memahami wacana  gender secara progresip bagi   laki-laki maupun perempuan. Pada level kebijakan diperlukan penetapan kebijakan lanjutan, mendasarkan pada upaya deliberatif dan kontekstual.