Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

PENGARUH NITROCARBURIZING TERHADAP KEKERASAN DAN LAJU KOROSI PADA BAJA TAHAN KARAT AISI 410 Sriyanto Sriyanto; Edy Iryanto
Teknika Vol 8 No 1 (2023): April 2023
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengabdian Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52561/teknika.v8i1.245

Abstract

Baja tahan karat jenis AISI 410 adalah salah satu baja tahan karat yang sering digunakan dibidang medis.Perbaikan sifat mekanis pada baja tahan karat martensitik biasa dilakukan dengan metode  pengerasan permukaan.Berbagai kegiatan rekayasa permukaan sudah dikembangkan untuk menaikkan tingkat kekerasan.contohnya dengan metode nitrocarburizing.Penelitian ini dilaksanakan untuk mempelajari adanya pengaruh variasi waktu1,2,3,4,5,dan 6 jam terhadap proses nitrocarburizing baja tahan karat jenis AISI 410 terhadap kekerasan dan laju korosi. Lapisan luar benda uji yang telah dihaluskan kemudian dibersihkan, kemudian dilakukan siklus nitrocarburizing pada suhu 400°C dengan variasi waktu:1,2,3,4,5, dan 6 jam. Dengan tekanan konstan 1,6 mbar. dalam iklim yang dipengaruhi oleh kombinasi gas hidrogen, nitrogen dan metana yang memiliki proporsi berat: 19,31% H2, 3,08% CH4 dan keseimbangan N2. Prosedur yang dipakai adalah pelepasan kilatan plasma akan membuat partikel N dan C disimpan ke lapisan luar benda uji. Benda uji yang muncul karena nitrocarburizing diuji kekerasannya dengan penganalisa kekerasan Vickers. Benda uji juga dicoba untuk uji korosi dengan galvanostat yang merupakan alat uji korosi yang memiliki tiga sel terminal menggunakan media NaCl 0,9%. Hasil dari penelitian ini menggambarkan bahwa contoh baja tahan karat AISI 410 diperlakukan dengan nitrocarburizing dengan nilai tertinggi selama waktu 5 jam dan diperoleh kekerasan senilai 367,78 VHN. Sedangkan kekerasan bahan baja tahan karat AISI 410 sebelum dilakukan proses nitrocarburizing memiliki nilai kekerasan 210,2 VHN. Sehingga didapatkan peningkatan kekerasan sebesar 157,78 VHN setelah dilakukan sistem nitrocarburizing. Hasil pengujian korosi menunjukan laju korosi pada bahan raw material baja tahan karat AISI 410 adalah sebesar 0,2990 mpy, setelah dilakukan proses nitrocarburizing pada baja tahan karat jenis AISI 410 pada suhu 400°C dengan tekananan konstan sebesar 1,6 mbar didapatkan nilai laju korosi tertinggi selama 2 jam ialah 0,3737 mpy. Sehingga dari hasil nitrocarburizing untuk tingkat laju korosi baja tahan karat AISI 410 mengalami penurunan sebesar 0,0747 mpy.
Pemberdayaan UKM Tempe Tradisional melalui Penerapan Mesin Pencuci Kedelai untuk Meningkatkan Efisiensi Produksi di Sukoharjo Suhartoyo Suhartoyo; Sriyanto Sriyanto; Sri Hutami
Abdimas Galuh Vol 8, No 2 (2026): September 2026
Publisher : Universitas Galuh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25157/ag.v8i2.26518

Abstract

Program pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan memberdayakan Usaha Kecil dan Menengah (UKM) tempe tradisional di Sanggrahan, Sukoharjo, melalui penerapan teknologi tepat guna untuk meningkatkan efisiensi proses produksi. Mitra kegiatan adalah UKM Tempe Ibu Yamini yang mempertahankan produksi tempe dengan pembungkus daun sebagai bagian dari karakteristik produk tradisional dan kearifan lokal. Permasalahan utama yang dihadapi mitra adalah proses pencucian, pemecahan, dan pelepasan kulit kedelai yang masih mengandalkan tenaga manusia, sehingga membutuhkan waktu relatif lama, tenaga fisik yang besar, dan biaya operasional yang cukup tinggi. Metode pelaksanaan meliputi identifikasi kebutuhan mitra, penerapan teknologi, pelatihan pengoperasian, praktik langsung, pendampingan, serta evaluasi perubahan proses produksi. Teknologi yang diterapkan terdiri atas satu unit mesin pencuci kedelai sistem rotary dan satu unit mesin pemecah kedelai sekaligus pelepas kulit ari. Hasil pelaksanaan menunjukkan bahwa teknologi tersebut dapat digunakan dengan baik dalam kegiatan produksi dan membantu mengurangi ketergantungan terhadap pekerjaan manual. Kapasitas pengolahan mencapai sekitar 50 kg kedelai per hari dengan kebutuhan bahan bakar sekitar 100 mL Pertalite dan energi listrik, dengan biaya energi diperkirakan sekitar Rp7.500 per hari. Kondisi tersebut menunjukkan peningkatan efisiensi dibandingkan proses manual yang sebelumnya membutuhkan biaya tenaga kerja sekitar Rp75.000 per hari. Selain memberikan manfaat ekonomi, penerapan teknologi juga mengurangi beban fisik pekerja dan memberikan peluang peningkatan kapasitas produksi. Program ini menunjukkan bahwa penerapan teknologi sederhana yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat dapat memperkuat produktivitas, kemandirian, dan keberlanjutan UKM tempe tradisional tanpa menghilangkan karakteristik produk lokal.