Mardohar Batu Bornok
Faculty Of Philosophy, Parahyangan Catholic University, Indonesia

Published : 4 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

Estetika Fotografi Rudi Setiawan; Mardohar Batu Bornok
Research Report - Humanities and Social Science Vol. 1 (2015)
Publisher : Research Report - Humanities and Social Science

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (972.171 KB)

Abstract

Fotografi adalah teknologi sekaligus seni yang dijumpai dalam berbagai bidang kehidupan manusia. Fotografi diaplikasikan untuk keperluan dokumentasi, misalnya dalam keluarga, jurnalistik, maupun pengarsipan dalam lembaga. Fotografi juga digunakan untuk keperluan relasi sosial, misalnya snapshot dan fotografi selebriti, maupun persuasi komersial, seperti halnya fotografi fashion. Disamping itu, fotografi juga dipakai untuk keperluan eksplorasi kreatif maupun reflektif, seperti halnya dalam fotografi seni.Fotografi berdimensi kultural. Kehadirannya sebagai teknologi dan seni, tidak hanya mengekspresikan atau mendeskripsikan peradaban, melainkan juga mengkonstruksi peradaban. Fotografi adalah produk kultural, sekaligus memberi bentuk pada kultur: menciptakan perilaku baru, membentuk cara pikir, membaharui keyakinan, menata sistem dan tatanan nilai, dan sebagainya.Perkembangan pemahaman teoritis tentang fotografi seiring dengan perkembangan teknologi fotografi sejak era pra-fotografi, fotografi analog, hingga fotografi digital. Paradigma pemikiran kritis tentang fotografi bergeser ke arah kultural, dengan fokus penelahaan pada makna fotografi bagi pengalaman hidup manusia.Pada titik ini estetika fotografi mengalami sebuah tantangan ke tingkat yang tidak pernah dipikirkan sebelumnya. Estetika fotografi dihadapkan pada sebuah situasi yang problematis dan kompleks ketika berhadapan dengan status seni fotografi. Perspektif pengalaman estetik Carrollian dapat digunakan sebagai jalan keluar untuk mengatasi kerumitan tersebut.
Verasitas Versus Viralitas: Refleksi Filosofis atas Karya-Karya Bandung Photography Triennale 2022 Mardohar Batu Bornok Simanjuntak; Henrycus Napitsunargo; Deden Hendan Durahman
Sapientia Humana: Jurnal Sosial Humaniora Vol 2 No 02 (2022)
Publisher : Universitas Katolik Parahyangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (542.86 KB) | DOI: 10.26593/jsh.v2i02.6199

Abstract

The reality of our everyday life is now stifled by dense images taken by mobile phones. It is still acceptable to claim that digital photographic images are currently invading the phone memory space and social media communication platforms used for working and daily activities like Whatsapp, Instagram, or Telegram. The sheer production and distribution of such images give rise to the virality of malicious digital photographs. This unfortunate circumstance can lead to the negative spread of hoaxes, misinformation, and disinformation. Virality then undermines veracity. Digital photographic records fabricated exponentially are then thinning the line between the truth and the viral. Such image manipulation is indeed a serious problem because public scamming is now orchestrated and conducted through digitally reconstructed images which are aggressively invading chatrooms. To cope with this surge, the authors propose philosophical analyses through examining all possible ways to manipulate photographic images conceived by 35 artists participating in Bandung Photography Triennale 2022. As analytical instruments to probe the prospect of veracity to distance itself from virality, the authors employed three triangulated categories extracted from philosophical discourses on photography, that is, the Eye, the time signature, and the ideology.
Nishida Kitaro’s Expressive Activity in Katana Sword Making as a Way to Achieve Pure Experience Mardohar Batu Bornok Simanjuntak
Dekonstruksi Vol. 9 No. 04 (2023): Jurnal Dekonstruksi Vol 9.4
Publisher : Gerakan Indonesia Kita

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54154/dekonstruksi.v9i04.197

Abstract

Western craft and craftmanship have long been taken as complementary or even supplementary – in contrast with high art and artistic explorations. This pejorative approach is quite common from western industrial perspective. An artisan’s work is then taken less seriously than an artist’s oeuvre d’art. Contrary to this, Asian countries have long recognised the mastery of these master craftsmen and gave no different treatment to artists and artisans. This paper examines the concept of expressive activity from Japanese philosopher Nishida Kitaro in his essay “Expressive Activity” written in 1925. In this Nishida proposes that the fulfilment of a state of mind that he called pure experience can only be achieved through an action that is independent from external urges. The author then pursued this line of thought by taking Nishida’s idea to see how this kind of acting – as Nishida addresses it – is present in the ancient craft of katana (Japanese Sword) making performed by veteran swordsmiths. By analysing Nishida’s texts including An Inquiry into the Good and Ontology of Production, the author explains that the old wisdom of “giving life to the steel” can be justified by taking Nishida’s pure experience as the telos of an artisan’s expressive activity.
Upaya Vita Activa dan Vita Contemplativa Hannah Arendt sebagai sebuah Tawaran atas Relativisme Nilai Karya medan Seni: Studi Kasus Pameran Indonesia Painting I: Vita Mardohar Batu Bornok Simanjuntak
Dekonstruksi Vol. 10 No. 01 (2024): Jurnal Dekonstruksi Volume 10.1
Publisher : Gerakan Indonesia Kita

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54154/dekonstruksi.v10i01.218

Abstract

Relativisme karya dalam medan seni sudah selalu menjadi persoalan yang tidak mudah bagi agensi manapun yang terlibat, termasuk seniman, kolektor, dan galeris. Persoalan mendasarnya terletak pada mekanisme penciptaan yang menempatkan seniman dalam peran-peran fabrikasi barang mewah. Disposisi semacam ini menjadikan perupa sebagai satu titik dalam ban berjalan geliat pasar. Hannah Arendt mengingatkan bahwa transisi dari masyarakat rural ke masyarakat urban dapat menyebabkan distorsi dari agensi yang terlibat langsung dengan dunianya secara utuh (“manusia”), dan agensi yang hanya bersentuhan dengan berbagai fungsi yang diberikan oleh mekanisme eksternal-impersonal (“orang”). Situasi ini justru menegasi hakikat seniman sebagai pihak yang dapat bergerak bebas mengasumsikan peran manapun. Arendt menawarkan sebuah pendekatan biner yang bersifat komplementer – vita activa dan vita contemplativa. Pameran Indonesia Painting I: Vita Activa menjadi sebuah studi kasus untuk melihat sejauh mana gagasan Arendt tentang upaya yang mewujud dalam vita activa relevan dalam arus diskursif pewacanaan seni rupa, dan bagaimana kajian filosofis semacam ini dapat menjadi sebuah titik argumentasi yang solid untuk menilai karya.