Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

MAKANAN PEMBERIAN AHLI KITAB: (Analisis Teori Limit Muhammad Syahrur Terhadap QS. Al-Maidah Ayat 5) Luluk Khusnul Wahidah; Nina Nurrohmah; Wahdah Farhati
Al Muhafidz: Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir Vol. 3 No. 2 (2023): Available online since 30 Agustus 2023
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LP2M) Sekolah Tinggi Ilmu Al-Qur'an Al Multazam Kuningan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57163/almuhafidz.v3i2.80

Abstract

Kehidupan sosial manusia terjadi karena faktor alamiah, saling memenuhi kebutuhan, dan saling ketergantungan. Salah satu contoh kegiatan saling memenuhi kebutuhan adalah terkait dengan kegiatan saling memb  eri baik sesama umat muslim ataupun non muslim. Dalam Al-Qur’an, Allah SWT telah menerangkan halalnya makanan pemeberian dari ahli kitab, tetapi tidak disebutkan secara rinci terkait dengan makanan apa saja yang dihalalkan, dan siapakah yang disebut dengan ahli kitab itu sendiri. Maka, pada penelitian ini Penulis akan menggali makna makanan apa saja yang dihalalkan, dan siapakah kategori ahli kitab yang dimaksut dalam ayat tersebut. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode kepustakaan atau library research, yaitu dengan cara mendeskripsikan dan menelaah teori limit yang digunakan Syahrur dalam menafsirkan Al-Qur’an, kemudian menganalisis permasalah yang diangkat dengan metode yang digunakannya. Teori limit hadir dengan sebuah pendekatan ijtihad yang di rasa stagnan dan kurang selaras dengan perkembangan zaman. Pada penelitian ini juga mengemukakan pendapat ‘ulama salaf ataupun kontemporer, sebagai sebuah rujukan sekaligus perbandingan terhadap tawaran baru yang digunakan Syahrur dalam menyelesaikan permasalahan yang diangkat. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa halal mengonsumsi makanan pemberian ahli kitab, tentunya dengan beberapa syarat terntentu. Adapun yang disebut dengan ahli kitab pada zaman sekarang adalah orang di luar Islam yang tetap meyakini Allah sebagai satu-satunya Tuhan, dan tetap berpegang teguh pada kitab yang telah Allah turunkan. Namun dalam proses penentuan hukum ini, Muhammad Syahrur banyak mengesampingkan pendapat-pendapat ‘ulama salaf, sahabat dan bahkan sunnah Nabi sekalipun. Anggapan yang diungkapkannya bahwa sunnah Nabi merupakan sebuah ijtihad yang bersifat lokal-temporal, menjadikan penafsiran ini tidak merujuk kepada satupun hadits sebagai metode penafsiran. Bahkan, perkataan Nabi hanya dijadikan sebagai sebuah perbandingan yang layak untuk dikomentari.
Infiltrasi Dalam Penafsiran Al-Qur`An Wahdah Farhati
Permata : Jurnal Pendidikan Agama Islam Vol 1 No 1 (2020): Jurnal Pendidikan Agama Islam
Publisher : Lembaga Publikasi Ilmiah Universitas Islam Bunga Bangsa Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract: Qasas Al-Qur ʻan is one of the main contents of the Qur'an that gives ibrah or lessons for humans. The existence of Muhkam verses and mutasyabih in the Qur'an makes mufassirs try to understand and look for the completeness of a success story not a few mufassirs who use infiltration in its interpretation in order to obtain complete information. This research is present as an effort to uncover infiltration in the commentary book Fath al-Qadir by as-Syaukani and study the implications of infiltration involvement in his interpretation aimed at the story of the prophet Yusuf. Suggestions used are hadith criticism and interpretation. The results of this study published about Fath al-Qadir's interpretation contain infiltration because the discovery of using the hadith dha'if, maudhu 'and israiliyyat, has implications for the interpretation of Ash-Syaukani which uses information available in the Koran and hadith and the ability to visit is valid with the invalid. Keywords: Infiltration; Ash-Syaukani; Tafsir Fath al-Qadir; Qasas Al-Qur`an; da'eef; maudhu; sahih. Abstrak Abstrak: Qasas Al-Qur`an merupakan salah satu pokok isi kandungan Al-Qur`an yang bertujuan memberikan ibrah atau pelajaran bagi manusia. Keberadaan ayat Muhkam dan mutasyabih dalam Al-Qur`an membuat para mufassir mencoba memahami dan mencari-cari kelengkapan dari suatu kisah sehingga tidak sedikit para mufassir yang terjebak pada infiltrasi dalam penafsirannya guna mendapatkan informasi yang lengkap. Penelitian ini hadir sebagai upaya mengungkap infiltrasi dalam kitab tafsir Fath al-Qadir karya as-Syaukani dan mengetahui implikasi dari kehadiran infiltrasi dalam tafsirnya terutama pada kisah nabi Yusuf. Pendekatan yang digunakan adalah kritik hadis dan tafsir. Hasil dari penelitian ini membukitan bahwa tafsir Fath al-Qadir mengandung infiltrasi karena ditemukannya penggunaan hadis dha’if, maudhu’ dan israiliyyat, sehingga berimplikasi pada penafsiran Asy-Syaukani yang mengandung informasi yang tidak ada dalam Al-Qur`an dan hadis serta bercampunya riwayat sahih dengan yang tidak sahih. Kata kunci: Infiltrasi; Asy-Syaukani; Tafsir Fath al-Qadir; Qasas Al-Qur`an; dhaif; maudhu; sahih.
The Meaning of Bahr in the Qur’an: Semantic Analysis by Toshihiko Izutsu : (Arti Bahr dalam Al-Qur'an: Analisis Semantik oleh Toshihiko Izutsu) Hidayah, Afita Nurul; Setiawan, Agus; Farhati, Wahdah; Arifin, Ali Zaenal
Al Muhafidz: Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir Vol. 5 No. 2 (2025): Available online since 26 August 2025
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LP2M) Sekolah Tinggi Ilmu Al-Qur'an Al Multazam Kuningan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57163/almuhafidz.v5i2.251

Abstract

The Qur’an often employs words that appear to be synonyms but have subtle differences in meaning. Such is the case with the use of the terms bahr and yamm for the sea. This study explores why the Qur’an uses bahr in certain cases and yamm in others, with the hope of discovering the semantic meaning of bahr and its implications on the concept of mutaradif (synonyms) in the Qur’an. The inquiry is particularly relevant today, as the sea—an essential part of human life—is facing ecological dangers wrought by human actions. Adopting a qualitative library-research design, data were gathered from Qur’anic verses containing bahr yamm, classical and modern Arabic lexicons, and major tafsir works; analysis followed Izutsu’s semantic procedures (syntagmatic–paradigmatic mapping, synchronic–diachronic tracing, and worldview synthesis), with validity strengthened through source triangulation and peer/expert review. Using Toshihiko Izutsu’s semantic theory, this research analyzes the term bahr to identify its hidden meanings and its theological and ethical implications. Findings indicate a deliberate lexical differentiation: bahr extends beyond the physical sea toward divine taskhir, order, and benefit, whereas yamm appears predominantly in threat–punishment narratives. Taken together, the Qur’an does not employ near-synonyms interchangeably; this contrast clarifies Qur’anic diction and underpins a theological–ecoethical call to gratitude, restraint and responsible marine stewardship.
Infiltrasi Dalam Penafsiran Al-Qur`An: Studi Atas Penafsiran As-Syaukani Pada Surat Yusuf Farhati, Wahdah
Permata : Jurnal Pendidikan Agama Islam Vol. 1 No. 1 (2020): Jurnal Pendidikan Agama Islam
Publisher : Lembaga Publikasi Ilmiah Universitas Islam Bunga Bangsa Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47453/permata.v1i1.55

Abstract

Abstract: Qasas Al-Qur ʻan is one of the main contents of the Qur'an that gives ibrah or lessons for humans. The existence of Muhkam verses and mutasyabih in the Qur'an makes mufassirs try to understand and look for the completeness of a success story not a few mufassirs who use infiltration in its interpretation in order to obtain complete information. This research is present as an effort to uncover infiltration in the commentary book Fath al-Qadir by as-Syaukani and study the implications of infiltration involvement in his interpretation aimed at the story of the prophet Yusuf. Suggestions used are hadith criticism and interpretation. The results of this study published about Fath al-Qadir's interpretation contain infiltration because the discovery of using the hadith dha'if, maudhu 'and israiliyyat, has implications for the interpretation of Ash-Syaukani which uses information available in the Koran and hadith and the ability to visit is valid with the invalid. Keywords: Infiltration; Ash-Syaukani; Tafsir Fath al-Qadir; Qasas Al-Qur`an; da'eef; maudhu; sahih. Abstrak Abstrak: Qasas Al-Qur`an merupakan salah satu pokok isi kandungan Al-Qur`an yang bertujuan memberikan ibrah atau pelajaran bagi manusia. Keberadaan ayat Muhkam dan mutasyabih dalam Al-Qur`an membuat para mufassir mencoba memahami dan mencari-cari kelengkapan dari suatu kisah sehingga tidak sedikit para mufassir yang terjebak pada infiltrasi dalam penafsirannya guna mendapatkan informasi yang lengkap. Penelitian ini hadir sebagai upaya mengungkap infiltrasi dalam kitab tafsir Fath al-Qadir karya as-Syaukani dan mengetahui implikasi dari kehadiran infiltrasi dalam tafsirnya terutama pada kisah nabi Yusuf. Pendekatan yang digunakan adalah kritik hadis dan tafsir. Hasil dari penelitian ini membukitan bahwa tafsir Fath al-Qadir mengandung infiltrasi karena ditemukannya penggunaan hadis dha’if, maudhu’ dan israiliyyat, sehingga berimplikasi pada penafsiran Asy-Syaukani yang mengandung informasi yang tidak ada dalam Al-Qur`an dan hadis serta bercampunya riwayat sahih dengan yang tidak sahih. Kata kunci: Infiltrasi; Asy-Syaukani; Tafsir Fath al-Qadir; Qasas Al-Qur`an; dhaif; maudhu; sahih.
The Meaning of Bahr in the Qur’an: Semantic Analysis by Toshihiko Izutsu : (Arti Bahr dalam Al-Qur'an: Analisis Semantik oleh Toshihiko Izutsu) Hidayah, Afita Nurul; Setiawan, Agus; Farhati, Wahdah; Arifin, Ali Zaenal
Al Muhafidz: Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir Vol. 5 No. 2 (2025): Available online since 26 August 2025
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LP2M) Sekolah Tinggi Ilmu Al-Qur'an Al Multazam Kuningan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57163/almuhafidz.v5i2.251

Abstract

The Qur’an often employs words that appear to be synonyms but have subtle differences in meaning. Such is the case with the use of the terms bahr and yamm for the sea. This study explores why the Qur’an uses bahr in certain cases and yamm in others, with the hope of discovering the semantic meaning of bahr and its implications on the concept of mutaradif (synonyms) in the Qur’an. The inquiry is particularly relevant today, as the sea—an essential part of human life—is facing ecological dangers wrought by human actions. Adopting a qualitative library-research design, data were gathered from Qur’anic verses containing bahr yamm, classical and modern Arabic lexicons, and major tafsir works; analysis followed Izutsu’s semantic procedures (syntagmatic–paradigmatic mapping, synchronic–diachronic tracing, and worldview synthesis), with validity strengthened through source triangulation and peer/expert review. Using Toshihiko Izutsu’s semantic theory, this research analyzes the term bahr to identify its hidden meanings and its theological and ethical implications. Findings indicate a deliberate lexical differentiation: bahr extends beyond the physical sea toward divine taskhir, order, and benefit, whereas yamm appears predominantly in threat–punishment narratives. Taken together, the Qur’an does not employ near-synonyms interchangeably; this contrast clarifies Qur’anic diction and underpins a theological–ecoethical call to gratitude, restraint and responsible marine stewardship.