Achmad Khudori Soleh
Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Ajaran Isyrāqi: Studi Kritis-Epistemologis Filsafat Iluminasi Suhrawardi Hasna Ulfa Nur Laini; Achmad Khudori Soleh
Kalimah: Jurnal Studi Agama dan Pemikiran Islam Vol. 22 No. 1 (2024)
Publisher : Fakultas Ushuluddin, Universitas Darussalam Gontor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21111/klm.v22i1.12274

Abstract

This research examines the epistemology of Isyrāqi philosophy critically-systematically, examining details from the source of thought, methods to verification and implications of Suhrawardi's Isyrāqi philosophy. In explaining, the author uses qualitative research, which is presented descriptively-analytically with an epistemological-philosophical perspective Nicholas Rescher. As a result, this research shows three things: First, Isyrāqi philosophy comes from the extraction of five major schools; pre-Islamic philosophy (Greece), Islamic peripatetik philosophy, especially Ibn Sina, ancient Iranian thought, Sufistic thought of Mansur al-Hallaj and al-Ghazali, and Zoroastrianism. Second, to reach isyrāqi knowledge, Suhrawardi requires to involve spiritual practice (mujāhadah) and asceticism, which is detailed in four stages in an orderly manner. Including the preparation stage, the reception stage, then the development stage (proof), and finally the immortalization stage. Third, for Suhrawardi, knowledge can be said to be final by combining two things: 1) The intellectual power of reason (discursive knowledge), and 2) Intuitive knowledge; witnessing and revelation (musyāhadah wal mukāsyafah). Light as a symbol of true truth in Isyrāqi teachings, and the tool to obtain light is intuition, while the ratio is used to explain the intuition. Suhrawardi was not satisfied with the peripatetik concept of emanation which emphasizes the role of the intellect ('aql) in the process of reaching knowledge. According to him, the role of intuition (dzawq) and mystical revelation manifested through absolute light are fundamental realities. The implications of Suhrawardi's Isyraqī ultimately paved the way for the development of Islamic philosophy afterwards, among others it is shown in the thoughts of Ibn Arabi (1165-1240) and Mulla Sadra (1573-1641).
IBN HAZM'S CONCEPT OF HUMAN BEHAVIOR (994-1063) PSYCHOLOGICAL PERSPECTIVE Lathifa Budiaty Mawaddah; Achmad Khudori Soleh
Afeksi: Jurnal Psikologi Vol. 3 No. 4 (2024): Afeksi: Jurnal Psikologi
Publisher : Afeksi: Jurnal Psikologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Perilaku manusia banyak dikaji dalam berbagai bidang keilmuan, salah satunya yaitu dengan mengintegrasikan filsafat, agama, dan psikologi sebagaimana yang dilakukan oleh Ibn Hazm. Tujuan penulisan artikel ini adalah untuk menjelajahi dan menganalisis konsep perilaku manusia menurut Ibn Hazm, dengan berfokus pada aspek-aspek psikologis yang terkandung dalam pemikirannya. Metode yang digunakan adalah Library Research dengan objek penelitian konteks perilaku manusia perspektif Ibn Hazm dengan menggunakan 2 karya Ibn Hazm sebagai sumber data utama dan beberapa literatur pendukung. Penelitian ini memberikan hasil 1) Manusia memiliki dua watak yang mempengaruhi perilaku, yaitu akal yang diarahkan oleh keadilan cenderung mengarahkan kepada ketaatan dan kebajikan, dan nafsu yang diarahkan oleh syahwat yang cenderung kepada kemungkaran dan keburukan. 2) tujuan manusia sejak lahir adalah untuk menghindari kecemasan dan solusinya yaitu dengan beramal saleh melalui berperilaku bajik dan mengarahkan pola pikir yang positif. 3) terdapat enam kebajikan utama yang memiliki ruang relasi masing-masing, yaitu intelegensi dan keberanian yang termasuk dalam relasi individu, rasa cinta dan persahabatan yang termasuk dalam relasi antar individu, dan keadilan dan kedermawanan yang termasuk dalam relasi individu dengan Masyarakat.