Claim Missing Document
Check
Articles

Found 8 Documents
Search

TANTANGAN PENDIDIKAN ISLAM DI ERA DISRUPSI BERBASIS BUDAYA ISLAM NUSANTARA Khotimatus Sholikhah; Mahmuhtarom Halimun Rasyid; Ifada Retno Ekaningrum; Mudzakkir Ali
TA'LIM : Jurnal Studi Pendidikan Islam Vol 6 No 2 (2023): July
Publisher : Program Studi Pendidikan Agama Islam Fakultas Agama Islam Universitas Islam Darul 'Ulum Lamongan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52166/talim.v6i2.4286

Abstract

Kemajuan pesat dan perkembangan di awal abad 21 membawa fenomena era disrupsi. Disrupsi bukan hanya sekedar perubahan kecil akan tetapi perubahan yang dapat mengubah tatanan fundamental. Aktivitas manusia bergeser dari dunia nyata menuju ke dunia maya. Perubahan tersebut dapat dilihat dari penggunaan alat komunikasi yang canggih sebagai tanda metode komunikasi yang berubah. Salah satu perubahan mendasar tersebut adalah perkembangan atau evolusi teknologi yang bertujuan untuk mencari celah-celah dalam kehidupan manusia. Situasi ini memudahkan digitalisasi yang dihasilkan dari perkembangan teknologi (khususnya informasi). Digitalisasi ini telah mengubah hampir setiap bidang kehidupan, termasuk dunia kerja. Maka, tantangan pendidikan Islam di era disrupsi teknologi atau perkembangan teknologi semakin komplek dan dibutuhkan usaha dan upaya yang relevan untuk menjawab semua permasalahan di era disrupsi seperti 1) meningkatnya multikulturalisme dan pluralisme dalam masyarakat modern, 2) meningkatnya penggunaan media teknologi dan informasi pada masyarakat modern, 3) globalisasi yang semakin mempercepat perubahan sosial dan budaya, 4) tantangan dalam mengimplementasikan ajaran Islam yang relevan dengan kondisi sosial, budaya dan masyarakat. Pendidikan Islam perlu menghadirkan pendekatan yang sesuai dengan perkembangan teknologi informasi dan media sosial, sehingga dapat menghasilkan penerus bangsa yang terampil dan bijak dalam menggunakan teknologi dan media sosial tetapi tetap konsisten dan mengamalkan nilai-nilai Islam. Pendidikan Islam yang terus mengembangkan metode dan pendekatan yang relevan dengan kondisi sosial dan budaya masyarakat akan membantu meningkatkan pemahaman umat Islam terhadap ajaran Islam dan relevansinya dalam kehidupan sehari-hari.
MODEL PENGEMBANGAN POTENSI DAN PEMBANGUNAN KARAKTER PESERTA DIDIK PADA PESANTREN INTEGRASI Asnawi Asnawi; Mahmutarom Mahmutarom; Ifada Retno Ekaningrum; Nanang Nurcholis
Taklim : Jurnal Pendidikan Agama Islam Vol 21, No 1 (2023)
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/tk.v21i1.53033

Abstract

AbstractThis study aims to describe how Islamic boarding schools are integrated into developing students' potential and character building. The research method used is a qualitative research method with the type of library research (Library research. The primary sources are the Qur'an and al-Hadith, and are supported by the work of scholars and Islamic education experts.The results of this study explain the need for developing a pesantren education system, namely the integrated boarding school. Pesantren integration is a new pesantren model which in its implementation level, integrates religious and general knowledge with its central vision is to encourage the realization of the ulil albab millennial generation. The implications of this integration learning process can make students who are professional in their fields and have a balanced character between thinking (intellectual) or intellectual intelligence (Intellectual Question), emotion (taste) or emotional intelligence (Emotional Question and intelligence of heart (Spiritual Question).Keywords: Pesantren Integration, Ulil Albab, Professional Students, Character, Intellectual Question (IQ), Emotional Question (EQ), and Spiritual Question (SQ) AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan sejauh manakah pesantren integrasi dalam mengembangkan potensi peserta didik dan pembangunan karakter secara seimbang. Metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian kualitatif dengan jenis penelitian perpustakaan (Library research. Sumber primernya Al-Qur’an dan al-Hadits, dan didukung karya para ulama dan pakar pendidikan Islam. Hasil penelitian ini menjelaskan perlunya pengembangan sistem pendidikan pesantren yaitu pesantren integrasi. Pesantren integrasi adalah model pesantren baru yang dalam tataran implementasi pembelajarannya menggabungkan kurikulum pendidikan agama dan kurikulum pendidikan umun secara integral, dengan visi utamanya adalah mendorong terwujudnya generasi millenial ulil albab.  Implikasi dari proses pembelajaran integrasi ini dapat menjadikan santri yang profesional di bidangnya dan memiliki karakter yang seimbang antara daya pikir atau kecerdasan intelektual (Intelektual Question), daya Emosional (rasa) atau kecerdasan emosional ( Emosional Question) dan kecerdasan hati (Spiritual Question).Kata Kunci: Integrasi Pesantren, Ulil Albab, Santri Profesi, Karakter, Intelektual Question (IQ), Emosional Question (EQ), dan Spiritual Question (SQ)
Education For Women in The Global Era of Islamic Perspectives Mahbub Junaidi; Mahmutarom Mahmutarom; Ifada Retno Ekaningrum; Khotimah Suryani
QALAMUNA: Jurnal Pendidikan, Sosial, dan Agama Vol 14 No 1 (2022): Qalamuna - Jurnal Pendidikan, Sosial, dan Agama
Publisher : Lembaga Penerbitan dan Publikasi Ilmiah Program Pascasarjana IAI Sunan Giri Ponorogo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37680/qalamuna.v14i1.4790

Abstract

Some civilizations consider women second-class human beings compared to men; others view women and men as equal and equal. The first creates a negative stigma for women who are socially active, resulting in restrictions on access to education. The second view gives rise to an excessive attitude that women must be the same as men. This research aims to explore, study, and discuss Islamic views on the position of women. The Islamic view in question was based on the texts of the Al-Qur’an and hadith, in which classical and contemporary Muslim intellectuals gave adequate explanations or interpretations. This study was a type of library research where the researcher used a descriptive-analytical method by adopting Maudlu’i interpretation in the study of the Al-Qur’an and hadith with a hermeneutical approach. The researcher's procedure was to start the study with a historical study of women’s education in various world cultures and civilizations, continue with women’s Islamic perspective, and continue with studies on the position of women in Islam and women’s education from an Islamic perspective. An in-depth analysis of women's education's global relevance and implications was conducted. This research concluded that Islam views women as having the same dignity and worth as men. Many verses of the Al-Qur’an and hadiths of the Prophet Muhammad SAW explain the position of women and that there was no discrimination in them, as well as in matters of education. No verses in the Al-Qur’an or Hadith of the Prophet Muhammad SAW specifically specified education for men only and excluded women.
PROBLEM PENGEMBANGAN KURIKULUM DI LEMBAGA PENDIDIKAN ISLAM Shohib B; Ifada Retno Ekaningrum; Tedi Kholiludin
Journal of Innovative and Creativity Vol. 6 No. 1 (2026)
Publisher : Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/joecy.v6i1.8001

Abstract

Islamic education plays a vital role in shaping character and morality, yet its curriculum development process often faces significant challenges. The primary focus of this study is to understand the various obstacles encountered in integrating Islamic values with the demands of modern education. The research methodology used is a literature review and qualitative analysis of various curriculum policies and practices in Islamic educational institutions. The findings indicate several key problems, including: the dichotomy between religious and general sciences, which creates a separate and poorly integrated curriculum; the limited competence of teachers in adopting innovative teaching methods; resistance to change from some traditionalist viewpoints; and the lack of curriculum relevance to the needs of the workforce and technological advancements. In conclusion, curriculum development in Islamic educational institutions requires a holistic and comprehensive approach. Necessary efforts include strengthening the capacity of human resources (teachers), restructuring the curriculum to achieve a balanced integration, and adapting to modern developments without sacrificing fundamental Islamic values. This study recommends the need for collaboration among academics, education practitioners, and other stakeholders to formulate a curriculum development model that is relevant, dynamic, and sustainable.
Moderasi Beragama di Kalangan Generasi Z: Strategi Pendidikan Karakter Berbasis Nilai Pancasila Sirojul Huda; Faqih Utsman; Akhmad Arifudin; Ifada Retno Ekaningrum
IHSAN : Jurnal Pendidikan Islam Vol. 4 No. 3 (2026): 2026
Publisher : Yayasan pendidikan dzurriyatul Quran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61104/ihsan.v4i3.8249

Abstract

Perkembangan teknologi digital telah membawa perubahan signifikan terhadap pola interaksi sosial, cara berpikir, dan perilaku keberagamaan Generasi Z. Sebagai generasi yang tumbuh dalam lingkungan digital, Generasi Z memiliki akses yang sangat luas terhadap berbagai informasi keagamaan yang tidak selalu sejalan dengan nilai-nilai toleransi dan kebangsaan. Kondisi tersebut menimbulkan tantangan baru dalam upaya penguatan moderasi beragama di tengah masyarakat multikultural Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis moderasi beragama di kalangan Generasi Z serta mengkaji strategi pendidikan karakter berbasis nilai Pancasila sebagai upaya penguatan sikap keberagamaan yang moderat, toleran, dan inklusif. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kepustakaan (library research). Data diperoleh dari berbagai sumber berupa buku, jurnal ilmiah nasional dan internasional, dokumen kebijakan pemerintah, serta hasil penelitian yang relevan dengan moderasi beragama, pendidikan karakter, nilai-nilai Pancasila, dan Generasi Z. Analisis data dilakukan menggunakan teknik content analysis melalui proses identifikasi, kategorisasi, interpretasi, dan sintesis konseptual. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai-nilai Pancasila memiliki relevansi yang kuat dengan prinsip-prinsip moderasi beragama, terutama dalam aspek toleransi, penghormatan terhadap keberagaman, keadilan sosial, persatuan, dan kemanusiaan. Strategi pendidikan karakter berbasis Pancasila dapat diimplementasikan melalui integrasi kurikulum, penguatan budaya sekolah, pengembangan literasi digital, keteladanan guru, serta kolaborasi antara sekolah, keluarga, dan masyarakat. Model pendidikan karakter yang dikembangkan berorientasi pada internalisasi nilai, transformasi kesadaran, aktualisasi sosial, dan penguatan identitas kebangsaan. Dengan demikian, pendidikan karakter berbasis nilai Pancasila dapat menjadi strategi efektif dalam membentuk Generasi Z yang memiliki sikap moderat, berwawasan kebangsaan, serta mampu hidup harmonis dalam masyarakat yang plural dan multikultural.
Sintesis Model Pendidikan Agama Islam Nusantara: Integrasi Tradisi Pesantren, Madrasah, Dan Ma'had Aly Dalam Membangun Pendidikan Islam Holistik Muhammad Safi'i; Ifada Retno Ekaningrum
Amorti: Jurnal Studi Islam Interdisipliner Vol. 5 No. 3 Juli 2026: Amorti: Jurnal Studi Islam Interdisipliner
Publisher : Yayasan Azhar Amanaa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59944/amorti.v5i3.1324

Abstract

Pendidikan Islam di Indonesia berkembang melalui proses dialektika yang panjang antara ajaran Islam dan kebudayaan lokal sehingga melahirkan karakter pendidikan yang moderat, adaptif, dan berakar pada nilai-nilai Islam Nusantara. Namun, implementasi pendidikan Islam hingga saat ini masih menghadapi berbagai persoalan, seperti dikotomi antara ilmu agama dan ilmu umum, fragmentasi penyelenggaraan pendidikan pada berbagai lembaga Islam, serta belum optimalnya integrasi nilai-nilai kearifan lokal dalam sistem pendidikan. Penelitian ini bertujuan untuk merumuskan sintesis model Pendidikan Agama Islam Nusantara yang mengintegrasikan karakteristik pendidikan pesantren, madrasah, madrasah diniyah, dan Ma'had Aly sebagai paradigma pendidikan Islam yang holistik. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian kepustakaan (library research). Data diperoleh dari buku, artikel ilmiah, hasil penelitian, dan dokumen akademik mengenai Pendidikan Agama Islam Nusantara. Analisis data dilakukan melalui teknik content analysis yang dipadukan dengan conceptual synthesis untuk mengidentifikasi, membandingkan, dan mengintegrasikan berbagai model pendidikan Islam yang berkembang di Indonesia. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sintesis model Pendidikan Agama Islam Nusantara dibangun atas lima komponen utama, yaitu integrasi keilmuan, penguatan nilai moderasi beragama, pelestarian tradisi pesantren, pengembangan kurikulum berbasis kearifan lokal, serta pembentukan karakter yang holistik. Model ini menghasilkan paradigma pendidikan yang tidak hanya berorientasi pada penguasaan ilmu pengetahuan, tetapi juga pada pembentukan spiritualitas, moralitas, kecakapan sosial, serta kemampuan menghadapi tantangan global tanpa kehilangan identitas keislaman dan keindonesiaan. Dengan demikian, sintesis model Pendidikan Agama Islam Nusantara memiliki relevansi sebagai paradigma pengembangan pendidikan Islam Indonesia yang kontekstual, integratif, dan berkelanjutan.
Tradition and Modernization in the Transformation of Ma'had Aly in Indonesia Doni Setyawan; Ananda Qomaruzzaman; Robiul Ngalim; Ifada Retno Ekaningrum
Jurnal Ilmu Pendidikan dan Sains Islam Interdisipliner Vol. 5 No. 3 Agustus 2026: Jurnal Ilmu Pendidikan dan Sains Islam Interdisipliner
Publisher : Yayasan Azhar Amanaa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59944/jipsi.v5i3.1288

Abstract

This study analyzes the role of Ma'had Aly as a guardian of Islamic traditions and scholarly authority, identifies contemporary educational challenges, and formulates strategies for institutional strengthening through a qualitative approach utilizing a library research method. Data were obtained from regulations governing pesantren and religious higher education, as well as Scopus-indexed and Sinta-accredited journal articles published in the past decade. Data analysis involved content and thematic analysis, including data reduction, coding, categorization, cross-source comparison, and conclusion drawing. Findings indicate that Ma'had Aly maintains scholarly authority through mastery of classical Islamic texts (kitab kuning), chains of transmission (sanad), specialized fields (takhassus), the kiai-student relationship, deliberation (musyawarah), legal discourse (bahtsul masail), and the development of the istinbat method. These traditions are dynamic, evolving through methodological, contextual, critical, and maqasidi approaches. Key challenges include higher education standardization, curriculum relevance, limited research culture, human resource quality, digital transformation, and quality assurance. Institutional strengthening should prioritize an integrative curriculum, faculty competency enhancement, research development, digitization of scholarly sources, network expansion, and quality assurance that integrates formal indicators with the epistemic characteristics of pesantren. The study underscores the importance of selective modernization that reinforces, rather than displaces, the traditions and scholarly authority of Ma'had Aly.
PEMANFAATAN TEKNOLOGI ARTIFICIAL INTELLIGENCE DALAM PENDIDIKAN MODERASI BERAGAMA Ummi Kulsum; Wiasih; Abdul Khalik; Ifada Retno Ekaningrum
Didaktik : Jurnal Ilmiah PGSD STKIP Subang Vol. 12 No. 02 (2026): Volume 12 Nomor 02, Juni 2026 Published
Publisher : STKIP Subang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36989/didaktik.v12i02.15270

Abstract

ABSTRACT The rapid development of Artificial Intelligence (AI) technology has brought significant transformation to the educational sector, including efforts to strengthen religious moderation in the digital era. This study aims to analyze the utilization of Artificial Intelligence in religious moderation education, identify its opportunities and challenges, and formulate an AI-based educational model that supports the reinforcement of religious moderation values. This research employs a qualitative approach using a library research method. Data were collected from various sources, including books, national and international scientific journals, research articles, policy documents, and relevant literature related to Artificial Intelligence, Islamic education, and religious moderation. Data analysis was conducted through content analysis involving identification, classification, interpretation, and conceptual synthesis. The findings reveal that Artificial Intelligence has significant potential to support religious moderation education through personalized learning, virtual tutoring systems, digital religious literacy enhancement, adaptive learning resources, and early detection of intolerant, radical, and misleading religious content. The utilization of AI can also improve the accessibility, effectiveness, and quality of religious moderation learning in accordance with the characteristics of the digital generation. However, its implementation faces several challenges, including algorithmic bias, contextual limitations, technological dependency, and issues related to ethics and data privacy. Therefore, the integration of AI in religious moderation education should be implemented comprehensively while maintaining the central role of teachers as facilitators in the internalization of religious values. This study proposes an integrative model of AI utilization that combines digital technology, religious literacy, and moderation-based education to foster a generation that is tolerant, inclusive, critical, and committed to harmonious religious life within a multicultural society.