Olivia Olivia
Chinese Department Lecturer - Petra Christian University

Published : 18 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 18 Documents
Search

RITUAL PERAYAAN IMLEK ETNIS TIONGHOA DI KOTA TOLI-TOLI David Lievander; Olivia Olivia; Chun-I Kuo
Century: Journal of Chinese Language, Literature and Culture Vol 5, No 1 (2017)
Publisher : Institute of Research and Community Outreach Petra Christian University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (186.864 KB) | DOI: 10.9744/century.5.1.10-17

Abstract

Penduduk Tiongkok telah lama menyebar ke berbagai belahan dunia, dengan membawa berbagai macam kebudayaan serta tradisi, tidak terkecuali di Indonesia. Etnis tionghoa menyebar dengan merata di seluruh Indonesia dengan membawa kebudayaan asal mereka. Hari raya Imlek adalah salah satu contohnya,  setiap daerah di Indonesia mempunyai perayaan Imlek mereka sendiri oleh karena itu penulis tertarik untuk meneliti perayaan etnis Tionghoa di kota Toli-toli. Penelitian ini meliputi apa perbedaan Imlek etnis Tionghoa Toli-toli pada masa orde baru dan mengapa terjadi perbedaan itu. Setelah dilakukan penelitian ditemukan bahwa etnis Tionghoa hanya merayakan chuxi, Imlek, hari kedua, hari kesembilan, dan Cap Go Meh.  Perayaan Cap Go Meh di kota Toli-toli cenderung sepi dan tidak ada yang spesial. Serta ditemukan faktor yang membuat Imlek di kota Toli-toli saat orde baru dan sekarang berbeda yaitu karena faktor politik dan ekonomi.
PROSES PERKEMBANGAN WAYANG POTEHI DARI ASLI KE KREASI DI GUDO Tyas Widyaratna; Olivia Olivia
Century: Journal of Chinese Language, Literature and Culture Vol 8, No 1 (2020)
Publisher : Institute of Research and Community Outreach Petra Christian University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.9744/century.8.1.76-89

Abstract

Potehi merupakan suatu budaya dari Tiongkok, yang dalam perjalanannya telah diterima oleh masyarakat Indonesia sehingga dikenal dengan nama wayang potehi. Gudo merupakan sebuah kabupaten di Jombang, Jawa Timur yang saat ini menjadi tempat rujukan mengenai hal-hal yang berkaitan dengan wayang potehi. Skripsi ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan mewawancarai enam orang narasumber dan observasi untuk mendapatkan informasi mengenai perkembangan wayang potehi Gudo dari potehi asli hingga menjadi potehi kreasi. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa pementasan potehi kreasi merupakan salah satu langkah konkrit yang saat ini dilakukan agar wayang potehi Gudo tetap eksis mencocoki jamannya. Dalam penelitian ini ditinjau dan ditemukan beberapa bagian dari potehi kreasi yang tidak terlalu mengalami perubahan dari pakemnya, yakni penggunaan panggung, alat musik dan bahasa. Selain itu juga ditemukan beberapa bagian yang mengalami banyak perubahan, mencakup fungsi pementasan yang tak lagi untuk persembahan dewa-dewi sehingga pementasan potehi kreasi tidak lagi mengadakan ritual sebelum pementasan, pemilihan cerita serta makna dari pakaian dan atribut yang digunakan oleh boneka potehi kreasi. Kata kunci: Wayang, Potehi Asli, Potehi Kreasi, Gudo.
TRADISI SATU BULAN BAYI PADA PASANGAN CAMPURAN ETNIS TIONGHOA DAN ETNIS JAWA DI SURABAYA Elizabet Sanjaya; Olivia Olivia; Hannie Kwartanti
Century: Journal of Chinese Language, Literature and Culture Vol 6, No 2 (2018)
Publisher : Institute of Research and Community Outreach Petra Christian University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1608.55 KB) | DOI: 10.9744/century.6.2.47-58

Abstract

Indonesia memiliki berbagai macam kebudayaan dan etnis di dalamnya. Setiap etnis yang ada juga memiliki beberapa tradisi yang dilakukan untuk memperingati atau merayakan hari-hari tertentu, salah satunya yaitu tradisi dalam merayakan satu bulan bayi. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui tradisi apa yang dilakukan oleh pasangan campuran etnis Tionghoa dan etnis Jawa dalam merayakan satu bulan bayi. Diharapakan dari penelitian ini dapat mengetahui, memahami dan memberikan inspirasi kepada pasangan orang tua yang lain. Penelitian ini dilakukan menggunakan metode kualitatif deskriptif, dengan cara melakukan wawancara kepada sepuluh pasangan orang tua campuran etnis Tionghoa dan etnis Jawa. Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa pasangan campuran tersebut tidak semuanya melakukan tradisi yang ada. Tradisi yang masih dilakukan yaitu memotong rambut bayi. Selain itu hantaran yang diberikan untuk keluarga dan kerabat juga berbagai macam.
Adat Istiadat Suku Guangdong Tarakan Merayakan Tahun Baru Imlek打拉根广东人欢度春节的习俗 Lily Ferryanto; Olivia Olivia
Century: Journal of Chinese Language, Literature and Culture Vol 1, No 2 (2013)
Publisher : Institute of Research and Community Outreach Petra Christian University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (538.486 KB) | DOI: 10.9744/century.1.2.53-60

Abstract

Penelitian ini dilakukan untuk mengungkap bagaimana etnis Tionghoa suku Guangdong Tarakan dalam merayakan Tahun Baru Imlek dan makna tradisi perayaan Tahun Baru Imlek tersebut. Peneliti mengunakan 10 orang etnis Tionghoa Tarakan suku Guangdong yang berumur 55-75 tahun, karena mereka masih mempertahankan tradisi yang diturunkan oleh nenek moyang. Contohnya: sebelum Tahun Baru Imlek bulan 12 tanggal 23 mereka akan sembahyang kepada dewa dapur berharap ketika saat dewa dapur naik ke langit akan melaporkan hal-hal yang baik kepada dewa langit, selain itu satu minggu sebelum Tahun Baru Imlek mereka akan melakukan tradisi bersih-bersih rumah yang dipercayai bisa membuang hal-hal yang tidak baik keluar dari rumah. Etnis Tionghoa suku Guangdong ini juga lebih menitikberatkan pada makanan yang dipersiapkan. Makanan yang dipersiapkan ini memiliki makna tersendiri. Contohnya: makan ayam berharap bisa beruntung, makan babi bakar berharap bisa kaya dan lain-lain. Hasil analisis menemukan bahwa meskipun telah dikeluarkannya instruksi presiden No. 14/1967 tetapi setelah reformasi etnis Tionghoa suku Guangdong Tarakan kembali menjalankan tradisi Imlek yang telah diturunkan oleh nenek moyang.
Xiao Yan Zi dan Nilai Konfusianisme yang Dimiliki yang Terdapat dalam Novel Putri Huan Zhu 《还珠格格》中小燕子与其儒家思想观念 Stefhani Felina; Olivia Olivia; Shan Hua Chao
Century: Journal of Chinese Language, Literature and Culture Vol 1, No 2 (2013)
Publisher : Institute of Research and Community Outreach Petra Christian University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (402.738 KB) | DOI: 10.9744/century.1.2.61-69

Abstract

Novel Putri Huan Zhu adalah novel yang dikarang oleh Qiong Yáo yang memiliki kisah bahagia berbeda dengan novel-novel yang dikarang sebelumnya yang kisahnya semuanya berakhir dengan tragedi, contohnya adalah novel Y ā n Y ǔ M ē ng M ē ng. Xiǎo Yàn Zi memiliki sifat pemberani, membela kebenaran dan dapat dipercaya yang mendukungnya untuk memenuhi nilai kebajikan, keadilan, kepercayaan dan keberanian dari nilai Konfusianisme. Xiǎo Yàn Zi juga memiliki sifat tidak sopan, tidak penurut, keras kepala dan tidak suka belajar. Namun melalui skripsi ini, kita dapat melihat usaha Xiǎo Yàn Zi untuk memenuhi nilai Konfusianisme.
Analisis Metode dan Kualitas Penerjemahan pada Dokumen Tertulis PT.X Verena Linagus; Olivia Olivia
Century: Journal of Chinese Language, Literature and Culture Vol 10, No 2 (2022)
Publisher : Universitas Kristen Petra

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.9744/century.10.2.52-61

Abstract

PT.X adalah sebuah perusahaan besar dari Tiongkok yang berfokus pada produk elektronik rumah tangga. Sebagai perusahaan Tiongkok yang berkembang di Indonesia, setiap dokumen tertulis dari PT.X menggunakan dua bahasa yaitu bahasa Mandarin dan bahasa Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk mencari tahu metode penerjemahan yang digunakan dalam dokumen tertulis PT.X dan mencari tahu kualitas penerjemahan dari dokumen tertulis PT.X. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif. Data penelitian untuk penelitian ini adalah dokumen tertulis yang diberikan PT.X kepada penulis. Analisis metode penerjemahan dilakukan dengan cara mengelompokkan kalimat sesuai dengan kategori metode penerjemahan. Sedangkan kualitas penerjemahan dianalisis melalui penilaian dari dua orang penilai atau reviewer. Berdasarkan hasil penelitian, PT.X paling banyak menggunakan metode penerjemahan harafiah dalam penerjemahan dokumen tertulis. Metode penerjemahan harafiah adalah metode penerjemahan yang paling mudah, tapi melalui penelitian ini dapat ditemukan beberapa masalah metode penerjemahan harafiah. Contohnya arti kalimat bahasa sumber jauh berbeda dari bahasa sasaran. Berdasarkan penilaian dari kedua orang penilai atau reviewer, kualitas penerjemahan dokumen tertulis PT.X adalah bagus. Meskipun demikian, hasil analisis menunjukkan terdapat beberapa masalah penerjemahan dalam dokumen tertulis PT.X. Contohnya kalimat bahasa sasaran tidak sesuai dengan tata bahasa bahasa sasaran. Oleh karena itu, metode dan kualitas penerjemahan dokumen tertulis PT.X masih perlu ditingkatkan lagi.
印尼泗水黄龙体育会龙狮队的发展研究 Olivia Olivia; ShuiQing Zhu
KLAUSA (Kajian Linguistik, Pembelajaran Bahasa, dan Sastra) Vol 6 No 1 (2022): KLAUSA Vol 6 No 1 Year 2022
Publisher : Ma Chung Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (948.555 KB) | DOI: 10.33479/klausa.v6i01.512

Abstract

【摘要】舞狮是源自中国的一种民间艺术活动,其形成经历了漫长的历史过程,慢慢成为了一种独特的中国传统文化。这种文化在中国得到广泛的传播,后随着华人移民到世界各地,舞狮活动也被带入,可以说是有华人的地方就有舞狮。而印度尼西亚作为一个拥有大量华人移民的国家,舞狮活动也在本国传播,舞狮活动在传播中结合吸收了当地的文化,有自己的特色,成为了印尼文化的组成部分。本文以泗水黄龙体育会舞狮团队研究对象,采用了访谈和文献研究方法,从舞狮的起源、表演动作、表演流程等对其进行了研究。研究表明:黄龙体育会舞狮团队自1978年成立到现在,经历了“新持序”时期,宗教改革,舞狮队从队员血统、舞狮仪式、训练方法到舞狮的功能都发生了很大的变化。 【关键词】舞狮,民间活动,黄龙体育会舞狮团队,印尼,泗水 Abstract The lion dance is a kind of folk art activity originated from China. Its formation has gone through a long historical process and has gradually become a unique Chinese traditional culture. This kind of culture has been widely spread in China. Later, as Chinese emigrated to all over the world, lion dance activities were also brought in. It can be said that there is lion dance where there are Chinese. As a country with a large number of Chinese immigrants in Indonesia, lion dance activities are also spread in the country. The lion dance activities incorporate local culture in the spread, have their own characteristics, and become an integral part of Indonesian culture. This article uses the research object of the lion dance team of the “Surya Naga” Sports Club in Surabaya, using interviews and literature research methods to study the lion dance's origin, performance, and performance process. Studies have shown that since the establishment of the Lion Dance Team of the “Surya Naga” Sports Club in 1978, it has gone through the "new order" period and religious reform. The lion dance team has experienced a lot of changes from the blood of the members, the lion dance ceremony, the training method to the function of the lion dance already had a big change.
Sinkretisme dalam Ritual Kirab Dewi MakCo di Kelenteng Tjoe Tik Kiong (慈德宮Cide Gong) Pasuruan Olivia
Biokultur Vol. 11 No. 2 (2022): Peningkatan Literasi Kearifan Lokal
Publisher : Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/bk.v11i2.41256

Abstract

Artikel ini berfokus pada bentuk sinkretisme dalam Kirab Dewi Makco di Kelenteng Tjoe Tik Kiong (Cide Gong) Pasuruan. Sinkretisme dalam KBBI dapat berarti suatu paham (aliran) baru yang merupakan perpaduan dari beberapa paham (aliran) yang berbeda untuk mencari keserasian, keseimbangan, dan sebagainya. Masalah penelitian yang akan diteliti adalah sinkretime yang ada dalam ritual kirab Dewi MakCo di kelenteng Pasuruan ini? Metode dalam penelitian ini menggunakan metode etnografi dan pendekatan etnografi dengan melakukan observasi lapangan, dokumentasi visual, wawancara mendalam dengan pimpinan yang melakukan upacara dan mewawancarai peserta yang hadir. Temuan dari penelitian ini adalah tradisi ritual kirab Makco di Indonesia, telah mengalami banyak sinkretisme dengan budaya lokal setempat, serta saling mengambil dan meniru antar kegiatan kelenteng satu dengan yang lainnya. Kata kunci: Sinkretisme, Makco, Ritual, Tjoe Tik Kiong, Kelenteng, Pasuruan