Pernikahan antarbudaya merupakan ruang kompleks bagi negosiasi nilai, namun kajian yang menelaah gesekan budaya mendalam yang dialami perempuan Indonesia melalui kerangka Hofstede masih terbatas dan cenderung berfokus pada adaptasi permukaan. Penelitian ini bertujuan menganalisis dinamika perkawinan dan strategi resolusi konflik pada perempuan Indonesia yang menikah dengan pasangan Barat asal Jerman, Belgia, dan Amerika Serikat. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus eksplanatoris. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam terhadap tiga partisipan dan dianalisis menggunakan lima dimensi budaya Hofstede: Power Distance, Individualism, Uncertainty Avoidance, Masculinity, dan Indulgence. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konflik dalam pernikahan antarbudaya tidak semata bersumber dari perbedaan kebiasaan atau gaya komunikasi, melainkan dari benturan nilai budaya inti. Temuan utama meliputi anomali pada dimensi Power Distance, di mana istri Indonesia justru mereproduksi norma patriarkal meskipun memiliki pasangan egaliter; ketegangan pada dimensi Individualism terkait privasi dan keterlibatan keluarga besar; serta negosiasi ulang dimensi Masculinity, ketika suami Barat mengadopsi nilai feminin demi harmoni keluarga. Penelitian ini menyimpulkan bahwa pernikahan antarbudaya melibatkan negosiasi berkelanjutan antar “software of the mind” yang menghasilkan realitas budaya hibrida, bukan asimilasi total.