nensilianti Nensilianti
Bahasa dan sastra Indonesia, Universitas Negeri Makassar

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

REFLEKSI SOSIAL DALAM NOVEL MANUSIA & BADAINYA (PERJALANAN MENUJU PULIH) KARYA SYAHID MUHAMMAD (KAJIAN SOSIOLOGI SASTRA ALAN SWINGEWOOD) Nensilianti Nensilianti
Lingua Franca:Jurnal Bahasa, Sastra, dan Pengajarannya Vol 7 No 2 (2023)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30651/lf.v7i2.18483

Abstract

Tujuan penelitian ini berupaya untuk memaparkan refleksi sosial apa saja dalam novel Manusia & Badainya karya Syahid Muhammad menggunakan kajian sosiologi sastra Alan Swingewood. Metode yang digunakan dalam penelitian ini ialah kualitatif deskriptif yang mengambil kutipan dari sumber penelitian dan mendeskripsikannya. Novel Manusia & Badainya karya Syahid Muhammad menjadi sumber data dalam penelitian ini. Hasil dari penelitian ini yaitu memaparkan pembahasan mengenai refleksi sosial seperti sikap status sosialnya, sikap orang tua terhadap anak, serta bentuk refleksi sosial dalam kerusakan mental yang diakibatkan tekanan orangtua yang terdapat pada novel Manusia & Badainya menceritakan tentang Janu, dan suara-suara yang hidup di kepalanya yang ia namai Robocop dan Kera Sakti. Suara- suara ini seringkali bertengkar di dalam kepala Janu dan beberapa kali mempengaruhi dirinya dalam mengambil keputusan. di dalamnya, banyak sekali pandangan baru mengenai kompleksivitas unsur-unsur kehidupan: Asmara, keluarga, juga jiwa. Kata Kunci:: Sosiologi sastra, Refleksi sosial, Swingewood.
Representation of Local Cultural Values in Three Digital Short Stories: a Narrative Study of Contemporary Indonesian Literature Nensilianti Nensilianti; Ridwan Ridwan; Muhammad Alfian Tuflih
Prosodi Jurnal Ilmu Bahasa dan Sastra Vol 20, No 1: Prosodi
Publisher : Program Studi Bahasa Inggris Universitas Trunodjoyo Madura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21107/prosodi.v20i1.32505

Abstract

Abstract: This study examines the forms and negotiations of local cultural values in three Indonesian digital short stories: “Menggugat Dedemit,” “Sakka Dituduh Parakang,” and “Tembok Tanian Lanjheng.” Using narrative analysis, this study explores how plot, characterization, conflict, and symbols generate ecological, communal, and familial values. A qualitative-descriptive approach with close-reading techniques identifies narrative elements tied to sociocultural contexts. The stories articulate tensions between communal traditions and contemporary pressures. “Menggugat Dedemit” offers an ecological critique through the Javanese dedemit myth. “Sakka Dituduh Parakang” exposes the fragility of Bugis–Makassar solidarity when the parakang myth fosters fear and manipulation. “Tembok Tanian Lanjheng” depicts the breakdown of Madurese familial values due to materialism and land disputes. The findings show that cultural representations in these digital stories not only revitalize local wisdom but also reveal ongoing identity negotiations within transforming communities. This study underscores digital literature’s role as a critical medium for articulating and interrogating local cultural values in contemporary Indonesia.Abstrak. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji bentuk dan negosiasi nilai budaya lokal dalam tiga cerita pendek digital Indonesia: “Menggugat Dedemit,” “Sakka Dituduh Parakang,” dan “Tembok Tanian Lanjheng.” Dengan menggunakan analisis naratif, studi ini mengeksplorasi bagaimana alur, penokohan, konflik, dan simbol menghasilkan nilai-nilai ekologis, komunal, dan kekeluargaan. Pendekatan kualitatif-deskriptif dengan teknik pembacaan dekat digunakan untuk mengidentifikasi unsur-unsur naratif yang terkait dengan konteks sosiokultural. Cerita-cerita tersebut mengartikulasikan ketegangan antara tradisi komunal dan tekanan kontemporer. “Menggugat Dedemit” menawarkan kritik ekologis melalui mitos dedemit Jawa. “Sakka Dituduh Parakang” mengungkap rapuhnya solidaritas Bugis–Makassar ketika mitos parakang memunculkan ketakutan dan manipulasi. “Tembok Tanian Lanjheng” menggambarkan keruntuhan nilai-nilai kekeluargaan Madura akibat materialisme dan sengketa tanah. Temuan menunjukkan bahwa representasi budaya dalam cerita digital ini tidak hanya merevitalisasi kearifan lokal, tetapi juga mengungkap negosiasi identitas yang terus berlangsung di tengah masyarakat yang sedang bertransformasi. Studi ini menegaskan peran sastra digital sebagai medium kritis untuk mengartikulasikan dan mengkritisi nilai-nilai budaya lokal di Indonesia kontemporer.