Sri Linuwih Menaldi
Mitra Keluarga Kelapa Gading

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Tata Laksana Terintegrasi Sindrom Stevens-Johnson (SJS) dan Nekrolisis Epidermal Toksik (NET) Dennely Yulisa; Sri Linuwih Menaldi
Cermin Dunia Kedokteran Vol 50 No 10 (2023): Kedokteran Umum
Publisher : PT Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55175/cdk.v50i10.760

Abstract

Sindrom Stevens-Johnson (SSJ) dan nekrolisis epidermal toksik (NET) merupakan reaksi mukokutan akut yang mengancam nyawa, dengan karakteristik nekrosis epidermis luas dan terlepasnya epidermis. Insiden SSJ di Jepang adalah 2,3 kasus/100.000 penduduk/tahun. Tingkat mortalitas SSJ-NET di Saudi Arabia adalah 1 dari 10 kasus (10%). Penyebab SSJ-NET dapat terkait obat-obatan, idiopatik, infeksi, setelah transplantasi sumsum tulang, imunisasi, radioterapi, ataupun terkait genetik. Patogenesis SSJ-NET diduga akibat reaksi sitotoksik terhadap sel keratinosit yang menyebabkan apoptosis masif. Manifestasi klinis diawali gejala prodromal diikuti dengan munculnya lesi makula eritema dan lesi target atipikal yang dapat berkonfluens, kemudian menjadi bula, erosi, dan oozing dengan keterlibatan mukosa. Pemantauan tanda-tanda vital harus dilakukan untuk menentukan prognosis. Pemeriksaan penunjang dilakukan apabila dipertimbangkan diagnosis banding lain. Tata laksana SSJ-NET adalah dengan menghentikan obat terduga, penanganan awal seperti resusitasi cairan, pemberian nutrisi dini, perawatan, serta evaluasi mata dan lesi kulit. Keterlibatan multiorgan dapat terjadi pada SSJ-NET, sehingga tata laksana multidisiplin diperlukan untuk terapi optimal. Pemberian corticosteroid dan cyclosporine A dapat menguntungkan. Prognosis SSJ-NET diperhitungkan dengan menggunakan SCORTEN.
Tata Laksana Terintegrasi Sindrom Stevens-Johnson (SJS) dan Nekrolisis Epidermal Toksik (NET) Dennely Yulisa; Sri Linuwih Menaldi
Cermin Dunia Kedokteran Vol 50 No 10 (2023): Kedokteran Umum
Publisher : PT Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55175/cdk.v50i10.760

Abstract

Stevens-Johnson syndrome (SJS) and toxic epidermal necrolysis (TEN) are acute life-threatening mucocutaneous reactions characterized by extensive epidermal necrosis and epidermal detachment. The incidence of SJS in Japan is 2.3 cases/100,000 people/per year. The mortality rate of SJS-TEN in Saudi Arabia is 1 per 10 cases (10%). SJS-TEN can be caused by drugs, idiopathic, infection, post-bone marrow transplant, immunization, radiotherapy, and genetics. The pathogenesis of SJS-TEN is suspected as a result of a cytotoxic reaction to keratinocyte cells which causes massive apoptosis. Clinical manifestation begins with prodromal symptoms followed by erythematous macular lesions and atypical target lesions that may confluence, then develop into bullous, oozing erosions with mucosal involvement. Vital sign observation is important to predict prognosis. A diagnostic procedure is necessary if another diagnosis is being considered. Management of SJS-TEN includes cessation of suspected drugs, early treatment such as fluid resuscitation, early nutrition, treatment and evaluation of eyes and skin lesions. Multiorgan involvement can occur in SJS-TEN so multidisciplinary management is needed for optimal therapy. Corticosteroids and cyclosporin A provide beneficial effects on SJS-TEN. SCORTEN is used to evaluate prognosis.