M. Umar Muslim
Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya, Universitas Indonesia

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

Ejaan Kata Serapan Bergugus Konsonan , , dan dalam Bahasa Indonesia Brigitta Sita Oentari; M. Umar Muslim
JIIP - Jurnal Ilmiah Ilmu Pendidikan Vol. 6 No. 9 (2023): JIIP (Jurnal Ilmiah Ilmu Pendidikan)
Publisher : STKIP Yapis Dompu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54371/jiip.v6i9.2500

Abstract

Penulisan kata serapan bergugus konsonan dalam bahasa Indonesia sudah lama menjadi masalah. Sebagian kata tersebut ada yang ditulis dengan mempertahankan gabungan huruf yang mewakili gugus konsonan dalam bahasa asalnya, sebagian yang lain ditulis dengan menambahkan huruf <e> di antara gabungan huruf tersebut. Melalui kajian terhadap sampel kata serapan yang ditulis dengan gabungan huruf , <kr>, dan <tr> yang mewakili gugus konsonan, penelitian ini bertujuan untuk menunjukkan inkonsistensi ejaan bergugus konsonan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), menunjukkan ketidaksamaan ejaan dalam KBBI dengan ejaan yang digunakan masyarakat melalui korpus berita daring Leipzig Corpora Collection, serta menawarkan kemungkinan pemecahan masalah tersebut. Sumber data penelitian ini berasal dari KBBI dan sekumpulan daftar kata serapan. Penelitian ini menggunakan pendekatan campuran dengan teknik simak catat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dalam KBBI, pembakuan kata serapan menerapkan dua strategi, yakni mempertahankan gabungan huruf , <kr>, dan <tr> atau menambahkan huruf <e> di antara gabungan huruf tersebut. Kedua strategi tersebut bahkan dapat diaplikasikan dalam satu gabungan huruf. Dalam korpus, kedua strategi pembakuan tersebut masih berlaku, namun masyarakat tampak memiliki kaidah tersendiri dalam menuliskan kata serapan. Dengan kata lain, yang seharusnya ditulis dengan penambahan huruf, justru ditulis tanpa penambahan huruf, dan juga sebaliknya. Oleh karena itu, penelitian ini mengusulkan bahwa kedua strategi pembakuan tersebut dapat tetap diaplikasikan, namun perlu mengakomodasi frekuensi dan pola-pola penyerapan ejaan yang lebih banyak digunakan oleh masyarakat.