Wiwik Widiyawati
Fakultas Kesehatan, Universitas Muhammadiyah Gresik

Published : 4 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

Hubungan Asupan Makanan Dengan Status Gizi Anak Prasekolah Di TK Dharma Wanita Desa Sembayat Nur Oktavia Indah Rahmawati; Diah Fauzia Zuhroh; Wiwik Widiyawati
Indonesian Journal of Professional Nursing Vol 4 No 1 (2023)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Gresik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30587/ijpn.v4i1.5747

Abstract

Menurut temuan survei Status Gizi Indonesia 2021, 1 dari 4 anak stunting dan 1 dari 10 anak kurang gizi di Indonesia. Asupan makanan merupakan salah satu aspek yang bisa menyebabkan malnutrisi. Untuk mengetahui bagaimana status gizi anak prasekolah di TK Dharma Wanita Desa Sembayat yang terkait dengan asupan makannya. Desain penelitian observasional analitik cross-sectional dipakai dalam studi ini. Populasi penelitian terdiri dari 100 anak, penelitian dilakukan secara sistematik random sampling sebanyak 80 anak prasekolah dengan menggunakan uji chi-square. Variabel bebas dalam penelitian ini adalah asupan makanan, sedangkan variabel terikatnya adalah status gizi. Penelitian asupan makanan menggunakan tabel food frequency dan penelitian status gizi anak menggunakan tabel Z-score (BB/U). Pada penelitian didapatkan hasil bahwa nilai p 0,173, hasil penelitian menyatakan bahwa tidak ada hubungan asupan makanan dengan status gizi anak prasekolah di TK Dharma Wanita Desa Sembayat. Kesehatan gizi anak prasekolah di TK Dharma Wanita Desa Sembayat tidak berhubungan dengan asupan makannya.
Korelasi pola tidur dan kesepian dengan ide bunuh diri pada remaja Aida Nurlaily Chusnah; Wiwik Widiyawati
Hik Vol. 19 No. 1 (2025): Volume 19 Nomor 1
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v19i1.811

Abstract

Background:  Suicide often occurs due to mental stress, sadness, or mental illness. Every year, more and more young people end their lives by committing suicide. This case is one of the highest causes of death among young people and young adults. Purpose: To determine the relationship between sleep patterns and loneliness with suicidal ideation in teenager. Method: Quantitative research with a cross-sectional design to analyze the relationship between sleep patterns and loneliness with suicidal ideation in adolescents. This study was conducted on November 8, 2024, on high school students in Gresik. The sample of this study was taken randomly and obtained 179 respondents. Data collection used instruments in the form of the Pittsburgh Sleep Quality Index (PSQI) questionnaire to determine sleep patterns, the UCLA questionnaire (version 3) to assess loneliness, and the small questionnaire +5.0 to determine suicidal ideation. The research data were analyzed using univariate and bivariate analysis of the Chi Square and Sperm rank tests. Results: Not all respondents had high category suicidal ideation, only most respondents had moderate category suicidal ideation as many as 131 (73.2%). Most respondents' sleep patterns were in the bad category as many as 111 (62.0%) with a p value of 0.91 (> 0.05), this shows that there is no significant influence between sleep patterns and suicidal ideation in adolescents. Most respondents felt low category loneliness as many as 97 (54.2%) with a p value of 0.00 and a correlation coefficient value of 0.04. This shows that there is a relationship between feelings of loneliness and suicidal ideation in adolescents. Conclusion: There is a relationship between loneliness and suicidal ideation, but no relationship was found between sleep patterns and suicidal ideation. Suggestion: Schools can provide counseling services that are more easily accessible to students, both individually and in groups. Teachers and school staff need to receive special training to recognize early signs of stress, depression, and other mental disorders in students, so that they can immediately provide the help needed.   Keywords: Loneliness; Suicidal Ideation; Sleep Pattern; Teenager.   Pendahuluan: Bunuh diri sering terjadi karena ketegangan mental, kesedihan, atau penyakit mental. Setiap tahun, semakin banyak anak muda yang mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri. Kasus ini menjadi salah satu penyebab utama kematian di kalangan anak muda dan dewasa muda. Tujuan: Untuk mengetahui hubungan antara pola tidur dan kesepian dengan ide bunuh diri remaja. Metode: Penelitian kuantitatif menggunakan desain cross-sectional untuk menganalisis korelasi pola tidur dan kesepian dengan ide bunuh diri pada remaja. Penelitian ini dilakukan pada tanggal 8 november 2024 pada siswa di SMA di Gresik. Sampel penelitian ini diambil secara acak dan didapatkan sebanyak 179 responden. Pengumpulan data menggunakan instrumen berupa kuesioner Pittsburgh Sleep Quality Index (PSQI) untuk mengevaluasi pola tidur, kuesioner UCLA (versi 3) untuk menilai kesepian, dan kuesioner kecil +5.0 untuk mengevaluasi ide bunuh diri. Data hasil penelitian dianalisis menggunakan analisis univariate dan bivariate uji Chi Square dan Sperm rank. Hasil: Seluruh responden tidak memiliki ide bunuh diri kategori tinggi, hanya saja sebagian besar responden memiliki ide bunuh diri kategori sedang sebanyak 131 (73.2%). Pola tidur responden mayoritas dalam kategori buruk sebanyak 111 (62.0%) dengan perolehan p-value sebesar 0.91 (>0.05), hal ini menunjukkan bahwa tidak ada pengaruh signifikan antara pola tidur dengan ide bunuh diri pada remaja. Sebagian besar responden merasakan perasaan kesepian kategori rendah sebanyak 97 (54.2%) dengan perolehan p-value 0.00 dan nilai koefisien korelasi sebesar 0.04. Hal ini menunjukkan bahwa ada keterkaitan antara perasaan kesepian dengan ide bunuh diri pada remaja. Simpulan: Terdapat hubungan antara kesepian dengan ide bunuh diri, tetapi tidak ditemukan hubungan antara pola tidur dengan ide bunuh diri. Saran: Pihak sekolah dapat menyediakan layanan konseling yang lebih mudah diakses oleh siswa, baik secara individu maupun dalam kelompok. Guru dan staf sekolah perlu mendapatkan pelatihan khusus untuk mengenali tanda-tanda awal stres, depresi, dan gangguan mental lainnya pada siswa, sehingga dapat segera memberikan bantuan yang dibutuhkan.   Kata Kunci: Ide Bunuh Diri; Kesepian; Pola Tidur; Remaja.
Hubungan stres, kecemasan, dan depresi dengan kualitas tidur siswa SMA di Gresik dalam menghadapi ujian akhir semester Herlina Tiara Putri; Wiwik Widiyawati
Hik Vol. 19 No. 2 (2025): Volume 19 Nomor 2
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v19i2.846

Abstract

Background: Sleep quality is a common phenomenon that occurs in society which can be caused by anxiety, depression, stress that is felt. Sleep quality is a person's sleep condition to get fitness when waking up. Purpose: To determine the relationship between stress, anxiety, and depression with the quality of sleep of high school students in Gresik in facing the final semester exams. Method: Quantitative research with a cross-sectional approach involving students of SMA X and conducted on November 19, 2024. The sample selection used the slovin formula with simple random sampling and obtained 179 students as samples with inclusion criteria including, high school students aged 15-18 years and willing to be respondents. Data collection using two questionnaires, namely DASS 21 (as a tool to measure symptoms of depression, anxiety, and stress) and the Pittsburgh Sleep Quality Index (PSQI) as a measure of the level of student sleep disturbance. Results: The majority of respondents experienced moderate sleep disturbances as many as 104 (58.1%) with normal stress levels as many as 171 respondents (95.5%), normal anxiety as many as 108 respondents (60.3%), and normal depression as many as 152 (84.9%). The results of statistical test analysis of each variable showed a p value <0.05, so it can be interpreted that there is a relationship between stress, anxiety, and depression with the quality of sleep of students. Conclusion: There is a significant relationship between stress, anxiety, and depression with the quality of sleep of students facing the final semester exams. Suggestion: To the school to be able to provide sleep hygiene education, attention, and motivation to students to be able to improve their sleep quality properly.   Keywords: Anxiety; Depression; Sleep Quality; Stress.   Pendahuluan: Kualitas tidur merupakan fenomena yang sering terjadi di masyarakat yang dapat disebabkan karena kecemasan, depresi, stres yang dirasakan. Kualitas tidur merupakan kondisi tidur seseorang untuk mendapatkan kebugaran saat seseorang tersebut terbangun dari tidurnya. Tujuan: Untuk mengetahui hubungan stres, kecemasan, dan depresi dengan kualitas tidur siswa SMA di Gresik dalam menghadapi ujian akhir semester. Metode: Penelitian kuantitatif dengan pendekatan cross-sectional yang melibatkan para siswa/siswi SMA X dan dilakukan pada tanggal 19 November 2024. Pemilihan sampel menggunakan rumus slovin dengan simple random sampling dan didapatkan sebesar 179 siswa/siswi sebagai sampel dengan kriteria inklusi meliputi, siswa/siswi SMA berusia 15-18 tahun dan bersedia menjadi responden. Pengambilan data menggunakan dua kuesioner yaitu DASS 21 (sebagai alat mengukur gejala depresi, rasa cemas, dan stres) dan Pittsburgh Sleep Quality Indeks (PSQI) sebagai pengukur tingkat gangguan tidur siswa. Hasil: Mayoritas responden mengalami gangguan tidur sedang sebanyak 104 (58.1%) dengan tingkat stress normal sebanyak 171 responden (95.5%), kecemasan normal sebanyak 108 responden (60.3%), dan depresi normal sebanyak 152 (84.9%). Hasil analisis uji statistik dari masing-masing variabel menunjukkan nilai p <0.05, sehingga dapat diartikan adanya hubungan antara stress,kecemasan, dan depresi dengan kualitas tidur para siswa/siswa. Simpulan: Terdapat hubungan yang signifikan antara stress, kecemasan, dan depresi dengan kualitas tidur para siswa/siswi dalam menghadapi ujian akhir semester. Saran: Kepada pihak sekolah untuk bisa memberikan edukasi sleep hygiene, perhatian, dan motivasi kepada para siswa/siswi untuk bisa meningkatkan kualitas tidur mereka dengan baik.   Kata Kunci: Depresi; Kecemasan; Kualitas Tidur; Stres.
Hubungan tekanan darah dengan depresi Wiwik Widiyawati; Deah Dwi Musfara; Anik Nur Kholifah; Tomi Indarto; Nilam Enggarsasi Setyoningrum
Hik Vol. 19 No. 9 (2025): Volume 19 Nomor 9
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v19i9.1747

Abstract

Background: Blood pressure is the heart's ability to pump blood throughout the body, which is divided into systolic and diastolic pressures. Elevated blood pressure can also be caused by psychological disorders such as stress, anxiety, and even depression. Depression is an emotional disorder or low mood characterized by prolonged or persistent sadness, hopelessness, guilt, and feelings of worthlessness. These factors disrupt all mental processes (thinking, feeling, and behaving) and decrease motivation for daily activities and interpersonal relationships. A common characteristic of depressed patients is when patients express doubts about self-worth or coping abilities. Purpose: To determine the relationship between blood pressure and depression. Method: Quantitative research using a cross-sectional approach. Data collection used the DASS-42 questionnaire to assess levels of depression. The population in this study was 1,580 people from the industrial area of ​​Driyorejo District, Gresik Regency. The sampling technique used was total sampling. Results: Three (37.5%) respondents with high blood pressure experienced severe depression, 97 (78.2%) respondents with normal blood pressure experienced moderate depression, and five (40%) respondents with low blood pressure experienced mild depression. The test showed a p-value of 0.07 (>0.05), indicating a very weak relationship. Conclusion: There is a very weak relationship between blood pressure and the incidence of depression, with a p-value of 0.07>0.05.   Keywords: Blood Pressure; Depression; Hypertension.   Pendahuluan: Tekanan darah memiliki kemampuan jantung memompa darah ke seluruh tubuh, yang dimana jantung memompa atas dinding arteri dan dibagi menjadi sistolik serta diastolik. Naiknya tekanan darah juga bisa  karena gangguan psikis seperti stress, anxietas, bahkan depresi. Depresi adalah suatu gangguan emosional atau suasana hati yang buruk dengan ditandai timbulnya kesedihan yang berkepanjangan atau terus menerus, putus harapan, perasaan bersalah serta keadaan merasa tidak berarti. Faktor tersebut menyebabkan seluruh proses mental (berpikir, berperasaan, dan berperilaku) terganggu dan membuat menurunnya motivasi untuk beraktivitas dalam kehidupan sehari-hari serta pada hubungan interpersonal. Karakteristik umum pada pasien depresi ialah disaat pasien menyatakan atas keraguan tentang harga diri atau kemampuan koping. Tujuan: Untuk mengetahui hubungan antara tekanan darah dengan depresi. Metode: Penelitian kuantitatif dengan pendekatan cross sectional. Pengumpulan data menggunakan kuesioner DASS-42 untuk melihat tingkat depresi. Populasi pada penelitian ini adalah Masyarakat wilayah industri Kecamatan Driyorejo, Kabupaten Gresik sebanyak 1,580 orang. Teknik sampling pada penelitian ini adalah total sampling. Hasil: Sebanyak 3 (37.5%) responden dengan tekanan darah tinggi mengalami depresi sangat parah, sebanyak 97 (78.2%) responden dengan tekanan darah normal mengalami depresi sedang, dan sebanyak 5 (40.0%) masyarakat dengan tekanan darah rendah mengalami depresi ringan. Berdasarkan uji analisis didapatkan p value =0.07 (>0.05), yang menunjukkan hubungan sangat lemah.  Simpulan: Terdapat hubungan yang sangat lemah antara tekanan darah dan kejadian depresi dengan p value (0.07>0.05).   Kata Kunci: Depresi; Hipertensi; Tekanan Darah.