Nurwinda Saputri
Fakultas Kesehatan, Universitas Muhammadiyah Pringsewu

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

HUBUNGAN PENGETAHUAN DAN SIKAP IBU TERHADAP KEJADIAN STUNTING PADA ANAK BARU MASUK SEKOLAH DASAR Nurwinda Saputri
Jurnal Ilmiah Kesehatan Vol 12, No 1 (2023): Jurnal Ilmiah Kesehatan
Publisher : Universitas Muhammadiyah Pringsewu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52657/jik.v12i1.2137

Abstract

Stunting adalah kondisi dimana kekurangan gizi kronis yang terjadi saat periode kritis yaitu dari usia 0-59 bulan (Periode 1000 hari pertama kehidupan), dimana perhitungannya adalah tinggi badan menurut umur yang berada di bawah minus 2 standar deviasi (≤2𝑆𝐷) dari standar median WHO. Salah satu faktor yang penting terjadinya stunting merupakan pola asuh dari keluarga. Peranan polah asuh terutama dari ibu dapat ditentukan dari sikap dan pengetahuan ibu yang mampu membentuk perilaku pola asuh terhadap anak. Tujuan penelitian ini adalah untuk memperoleh informasi tentang hubungan antara pengetahuan dan sikap ibu terhadap kejadian stunting pada anak baru masuk sekolah dasar. kurangnya pengetahuan orang tua akan saat memberikan asupan gizi anak. Sehingga perlu dilakukannya pencegahan masalah pada anak stunting dengan cara memberikan pemahaman terhadap masyarakat dalam memutus tingginya angka stunting di Podomoro, Pringsewu. Metode yang digunakan adalah studi cross sectional. Subjek penelitian berjumlah 45 anak yang baru masuk sekolah dasar usia 6-7 tahun di desa Podosari, Kab. Pringsewu. Analisis data menggunakan chi-square. Hasil penelitian ini didapatkan angka kejadian stunting pada anak baru masuk sekolah dasar sebesar 15,8%, sebagian besar ibu memiliki tingkat sikap positif (51,2%) dan tingkat pengetahuan yang cukup (44,7%). Berdasarkan analisis bivariat antara sikap dan kejadian stunting diketahui nilai p
HUBUNGAN BEHAVIORAL NUTRITION DENGAN TUMBUH KEMBANG ANAK DALAM KERANGKA ASUHAN ADAPTIF PADA ANAK USIA 2–5 TAHUN Nurwinda Saputri; Andriansyah; Muji Lestari; Maya Dika Dahliana
Jurnal Ilmiah Kesehatan Vol. 15 No. 2 (2026): Jurnal Ilmiah Kesehatan
Publisher : Universitas Muhammadiyah Pringsewu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52657/jik.v15i2.3715

Abstract

Latar Belakang: Permasalahan gizi dan perilaku makan pada anak usia dini masih menjadi tantangan dalam pencapaian tumbuh kembang yang optimal. Pendekatan Behavioral Nutrition dipandang sebagai salah satu kerangka asuhan adaptif yang berpotensi mendukung pembentukan perilaku makan sehat pada anak. Tujuan: Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan Behavioral Nutrition dengan tumbuh kembang anak usia 2–5 tahun dalam kerangka asuhan adaptif. Metode: Penelitian menggunakan desain analitik cross-sectional terhadap 100 anak usia 2–5 tahun yang dipilih secara purposive sampling. Perilaku makan diukur menggunakan Child Eating Behaviour Questionnaire (CEBQ), status gizi dinilai berdasarkan z-score WHO, sedangkan perkembangan anak diukur menggunakan Denver II Developmental Screening Test. Analisis dilakukan menggunakan uji korelasi Spearman dan regresi linier berganda dengan tingkat signifikansi p<0,05. Hasil: Skor Behavioral Nutrition berhubungan positif dengan berat badan menurut umur (r=0,682; p<0,001), tinggi badan menurut umur (r=0,591; p<0,001), dan skor perkembangan Denver II (r=0,473; p<0,001). Anak dengan skor Behavioral Nutrition yang lebih tinggi memiliki odds stunting yang lebih rendah (OR=0,24; IK95%: 0,11–0,53). Setelah dikontrol terhadap usia dan pendidikan ibu, skor Behavioral Nutrition tetap menunjukkan hubungan yang bermakna dengan berat badan menurut umur. Simpulan: Behavioral Nutrition berhubungan secara bermakna dengan status gizi dan perkembangan anak usia 2–5 tahun. Mengingat penelitian menggunakan desain cross-sectional, hasil penelitian menunjukkan hubungan antarvariabel dan tidak dapat diinterpretasikan sebagai hubungan sebab-akibat. Penelitian longitudinal atau uji intervensi diperlukan untuk mengonfirmasi hubungan kausal.