Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Resepsi Mubaligh Online atas Hadis Tasyabbuh dan Niat Safri Nur Jannah; Moh. Isbat Alfan Ghoffari
FENOMENA Vol 14 No 1 (2022): FENOMENA VOL 14, NO. 1, 2022
Publisher : LP2M UIN Sultan Aji Muhammad Idris Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21093/fj.v13i2.5839

Abstract

Hukum mengucapkan natal oleh kaum muslim, selalu hangat diperdebatkan dan dapat menjadi salah satu indikator untuk memetakkan tingkat moderasi beragama suatu kelompok. Setidaknya terdapat tiga kelompok muncul dalam perdebatan tentang hukum mengucapkan selamat natal yaitu pihak yang membolehkan pengucapan selamat natal, pihak yang melarang, dan pihak situasional (membolehkan dan melarang pada kondisi tertentu). Salah satu tokoh yang muncul dan menyita perhatian publik menyoal hukum mengucapkan selamat natal adalah Dr. Buya Ar Razzy. Melalui podcast YouTube bersama public figur Deddy Corbuzier, Ar Razzy memaparkan pandangan tentang hukum mengucapkan selamat natal. Dengan melakukan analisis terhadap konten podcast didapatkan hasil bahwa resepsi hadis tasyabbuh dan niat yang dilakukan oleh Buya ar Razzy masuk dalam kategori negosiasi. Pola resepsi hadis negosiasi inilah yang mengantarkan dan sekaligus menjadi salah satu bukti bahwa ar Razzy memiliki dan menyebarkan pola piker moderat dalam hal mengucapkan selamat natal. Sepanjang podcast, ar Razzy tidak menitikberatkan pada satu fatwa, ar Razzy memilih untuk menjelaskan keduanya dengan seimbang. Moderatisasi pemikiran yang coba disampaikan oleh ar Razzy dalam podcast bersama Deddy Corbuzier berimplikasi pada terciptanya masyarakat muslim (terutama digital) yang lebih bijak dalam menyikapi perbedaan. Hal ini setidaknya tergambar dalam respon digital dalam kolom komentar podcast. Selain itu, kemunculan banyak cuplikan video dalam unggahan YouTube Shorts dengan judul video bernarasi positif, menjadi bukti penguat lainnya bahwa lebih banyak pihak yang setuju dengan pendapat dan misi moderat yang dibawa ar Razzy dalam podcast.
The Politicization Of The Ghazwah Al-Hind Traditions in Pakistan: Ḥadīth Criticism and Social Movement Analysis Safri Nur Jannah; Muhammad Zeb Khan
Diya Al-Afkar: Jurnal Studi al-Quran dan al-Hadis Vol. 14 No. 1 (2026): June
Publisher : UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/7kp56t07

Abstract

This article critically examines the politicization of the Ghazwah al-Hind ḥadīth in Pakistan, particularly in relation to the Kashmir conflict. Using qualitative library research and Social Movement Theory, the study analyzes two narrations recorded by al-Nasāʾī in Kitāb al-Jihād: the report of Abū Hurayrah concerning an expedition to India and the report of Thawbān concerning a group that would invade India. Ḥadīth criticism is combined with analysis of militant discourse, religious and political publications, news reports, books, and digital media. The findings show that the two narrations have different authentication statuses: the Abū Hurayrah report is assessed as ḍa’īf, while the Thawbān report has received assessments ranging from ḥasan to ṣaḥīḥ based on corroborating chains. Neither report explicitly identifies modern India, Pakistan, or Kashmir as the fulfillment of the narrated expedition. Through the dimensions of framing, mobilizing structures, and political opportunity structures, the study demonstrates how particular actors connect the ḥadīth to the Kashmir conflict, circulate this interpretation through religious and media networks, and amplify it during periods of heightened India–Pakistan tension. The study concludes that the political significance of Ghazwah al-Hind emerges through processes of interpretation and mobilization rather than directly from the ḥadīth text itself.