Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Perilaku Komunikasi Dalam Membentuk Identitas Sosial Pemulung Di Kota Kendari Nana Adriana Hutari
Jurnal Ilmu Sosial Dan Pendidikan Vol. 1 No. 1 (2023): EDISI MEI
Publisher : LPPM Universitas Nahdlatul Ulama Sulawesi Tenggara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12345/jisdik.v1i1.6

Abstract

Abstrak Nana Adriana Hutari. Pemulung di Kota Kendari : Studi tentang perilaku komunikasi dalam membentuk identitas sosial. Permasalahan dalam penelitian ini adalah bagaimana prilaku komunikasi dalam membentuk identitas sosial Pemulung Di Kota Kendari. Tujuan Penelitian adalah untuk mengetahui Bagaimana prilaku komunikasi pada Pemulung Di Kota Kendari. Manfaat penelitian ini adalah secara teoritis; hasil penelitian ini diharapkan dapat menambah dan memperluas wawasan tentang prilaku komunikasi pada pemulung, secara metodologis; Sebagai bahan informasi tambahan bagi peneliti selanjutnya dalam rangka memperkaya literatur hasil penelitian khususnya yang berkaitan dengan prilaku komunikasi pada pemulung di Kota Kendari,secara praktis; hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan masukan kepada pemerintah dalam menangani persoalan yang dihadapi pemulung dikota kendari. Lokasi penelitian ini dilakukan TPA Wisata Bougainville Kota Kendari dengan pertimbangan bahwa TPA Wisata Bougainville Kota Kendari yang paling banyak dihuni pemulung sehingga untuk menjawab permasalahan mengenai Prilaku komunikasi pada Pemulung Di kota Kendari tepat untuk dilakukan. . Teori yang digunakan adalah Teori Self Disclosure (Joseph Luft dan Harrington Ingham dalam Alo Liliweri 1997 : 49 ) Dengan jumlah informan sebanyak 20 orang. Data yang di kumpulkan dengan menggunakan metode deskriptif kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa prilaku pemulung di Kota Kendari digambarkan dengan menggunakan jendela johari yang terdiri dari Open Area yaitu Jendela ini menggambarkan perilaku yang pemulung ketahui dan orang lain juga tahu tentang hal itu yang terdiri dari karateristik pemulung seperti umur,jenis kelamin, status perkawinan, lama bekerja.Hidden Area. Jendela ini adalah daerah yang merupakan antonim dari Blind Area, jendela ini memperlihatkan hal-hal yang bersifat pribadi, hanya pemulung tersebut yang tahu namun orang lain tidak tahu seperti keunangan pemulung, keluarga, serta kesehatan pemulung. Blind Area, Jendela yang satu ini melukiskan diri pemulung yang orang lain tidak sadar akan hal itu, tapi orang lain tahu sisi yang bersembunyi dari pemulung seperti identitas diri yang memperlihatkan ketidak percayaan pemulung terhadap orang lain.jendela terakhir adalah Unknow Area, jendela ini menyembunyikan hal-hal yang pemulung miliki,seperti ketrampilan dan bakat.
Model Partisipatif Pengelolaan Pariwisata Bahari oleh Masyarakat Bajo di Pulau Labengki Nana Adriana Hutari; Ashar Hasyim; Andi Resmiyanti
MUKASI: Jurnal Ilmu Komunikasi Vol. 5 No. 2 (2026): Mei 2026
Publisher : Yayasan Pendidikan Penelitian Pengabdian Algero

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54259/mukasi.v5i2.7578

Abstract

The participatory communication model in marine tourism management can be used as a reference in managing marine tourism that maximally involves community participation. The community must be involved in marine tourism management. Community participation is important because the community in tourism management is positioned as an 'object of tourism management' rather than a 'subject of tourism management.' This study focuses on the participatory communication model of the Bajo community in marine tourism management on Labengki Island. The research findings indicate that participatory communication of the Bajo community in marine tourism management is carried out through various activities. The Bajo community participates in planning, management, decision-making, and evaluation of tourism management activities. In addition, community empowerment in managing marine tourism on Labengki Island can be seen with the existence of homestays owned and managed by the Bajo community to support tourism. The Bajo community is also involved in providing tourism transportation, specifically boats, thereby improving the local economy. The Bajo community receives training from the government in managing homestays, becoming tour guides, and maintaining the tourism environment on Labengki Island.
Perubahan Budaya Komunikasi Pasca-Adopsi Wi-Fi Pada Masyarakat Desa Eelahaji Kecamatan Kulisusu Kabupaten Buton Utara Hisna Delianti; Nana Adriana Hutari; Asmurti Asmurti
Indonesian Journal of Innovation Multidisipliner Research Vol. 4 No. 2 (2026): April - Juni
Publisher : Institute of Advanced Knowledge and Science

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69693/ijim.v4i2.1044

Abstract

Perkembangan teknologi internet telah membawa perubahan yang semakin nyata dalam kehidupan masyarakat, termasuk pada pola komunikasi yang berlangsung di wilayah pedesaan. Kehadiran layanan Wi-Fi di Desa Eelahaji, Kecamatan Kulisusu, Kabupaten Buton Utara menjadi fenomena yang menarik karena terjadi pada lingkungan yang sebelumnya memiliki keterbatasan akses komunikasi dan informasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji proses penerimaan teknologi Wi-Fi oleh masyarakat serta mendeskripsikan perubahan budaya komunikasi yang muncul setelah teknologi tersebut digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif. Data diperoleh melalui observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi dengan melibatkan perangkat desa, penyedia layanan internet, tokoh masyarakat, serta warga pengguna Wi-Fi. Analisis data dilakukan melalui tahapan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerimaan teknologi berlangsung secara bertahap melalui proses pengenalan, pembentukan keyakinan, pengambilan keputusan, penggunaan, dan penguatan keputusan penggunaan. Kehadiran Wi-Fi telah mengubah pola komunikasi masyarakat yang sebelumnya lebih banyak dilakukan secara langsung menjadi lebih terhubung melalui media digital. Akses internet juga dimanfaatkan untuk memperoleh informasi, mendukung kegiatan pendidikan, mempermudah layanan administrasi, serta memenuhi kebutuhan hiburan. Penelitian ini menyimpulkan bahwa Wi-Fi tidak hanya berfungsi sebagai sarana akses internet, tetapi juga menjadi faktor yang mendorong terbentuknya budaya komunikasi baru yang lebih cepat, terbuka, dan terintegrasi dengan teknologi digital dalam kehidupan masyarakat pedesaan.