Claim Missing Document
Check
Articles

Found 11 Documents
Search

Fungsi Tari Babangsai Dalam Upacara Aruh Ganal Di Desa Loksado Hulu Sungai Selatan Kalimantan Selatan Rahmani Rahmani; I Wayan Dana
Joged Vol 7, No 2 (2016): NOPEMBER 2016
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (410.374 KB) | DOI: 10.24821/joged.v7i2.1602

Abstract

Tari Babangsai disajikan sebagai ungkapan rasa syukur dan rasa gembira atas berhasilnya panen padi. Tarian ini tersaji menjadi bagian tak terpisahkan dari pelaksanaan upcara Aruh Ganal. Kegembiraan masyarakat penyangga ini tampak terlihat dengan hadirnya masyarakat Loksado sebagai pelaku maupun penyelenggara upacara Aruh Ganal.            Penyelengaraan upacara Aruh Ganal diadalan setahun sekali, sesuai dengan ketentuan masyarakat adat Loksado Hulu Sungai di Kalimantan Selatan. Kehadiran tari Babangsari dalam upacara Aruh Ganal berfungsi sebagai sarana upcara di satu sisi, dan di sisi yang lain juga untuk hiburan bagi masyarakat pelaku upacara sehingga dapat melaksanakan upacara secara berurutan selama tujuh hari tujuh malam. The Babangsaidance is performed as an expression of thankfulness and happiness due to the successful rice harvest. This dance is an inseparable part of the AruhGanalceremony. The joyfulness of the supporting community can be seen from the presence of the members of Loksado society as both the performers and organizers of the ceremony.            The AruhGanalceremony is carried out once a year, that is in accordance with the rule of the society of  the village of river upstream Loksado, south Borneo. The existence of the Babangsaidance in the AruhGanalritual ceremony functions as a means of ceremony on one hand, and as an entertainment for the society carrying out the ritual ceremony on the other. Consequently, the ceremony may take place continually for seven days and seven nights.
Paruman Tapakan Barong dalam Ritual Tapak Pertiwi I Wayan Dana
Resital: Jurnal Seni Pertunjukan (Journal of Performing Arts) Vol 11, No 2 (2010): Desember 2010
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/resital.v11i2.510

Abstract

Paruman Tapakan Barong on Tapak Pertiwi Ritual. Ritual tapak pertiwi siklus pelaksanaan ritual tahunandalam perhitungan kalender Bali, diselenggarakan terpusat dalam Paruman Tapakan Barong di Pura Natar SariApuan. Pelaksanaan ritual ini dihadiri oleh berbagai bentuk tapakan barong yang datang dari berbagai daerah sewilayah Bali Tengah yang memperoleh kekuatan pasupati di Pura Natar Sari Apuan. Aktivitas ritual ini bermaknamenyatunya kekuatan dewa sebagai simbol (purusa) dengan dewi pertiwi simbol (pradana). Pertemuan keduaunsur kekuatan suci itu melahirkan gerak kehidupan, menyucikan alam semesta dari segala pengaruh negatif yangmengancam hidup dan kehidupan umat manusia di alam semesta ini. Oleh karena itu, masyarakat Hindu di Balimenghadirkan berbagai bentuk ritual keagamaan untuk menghormati menyatunya energi alam positif dan negatifdalam beragam wujud, termasuk ritual tapak pertiwi.
Art Conservation for the Classical Masks at Sonobudoyo Museum, Yogyakarta I Wayan Dana
Journal of Urban Society's Arts Vol 8, No 1 (2021): April 2021
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/jousa.v8i1.4629

Abstract

Sonobudoyo Museum Yogyakarta is the complete museum after the National Museum in Jakarta. There are many art collections in the museum, including bronze statues, gold statues, various ceramics, leather puppets, batik, bamboo works of art, furniture, and various Indonesian mask characters. The masks are treated and displayed in a particular place so that they can last hundreds of years and be seen until now. The research was aimed at how art conservation was carried out for these masks and at a particular strategy in maintaining, protecting, and caring for them. Therefore, it is interesting to study and understand the art of conservation for classical masks at the Sonobudoyo Museum, Yogyakarta. The research results showed that the knowledge of caring for, maintaining, protecting the masks as objects of art collections and cultural products with aesthetic, artistic, and historical values can still be known by the public and the generations. Moreover, the art conservation is also essential to know, not only by conservators but also by the broader community, to preserve and develop classical masks in the archipelago.
TATANAN NILAI SOSIAL BUDAYA DAN MODRENISASI MASYARAKAT HINDU BALI DI DESA TAMBAN LUAR KECAMATAN BATAGUH KABUPATEN KAPUAS I Wayan Dana
Belom Bahadat Vol 8 No 1 (2018): Belom Bahadat : Jurnal Hukum Agama Hindu
Publisher : Institut Agama Hindu Negeri Tampung Penyang Palangka Raya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33363/bb.v8i1.221

Abstract

Modernisasi berdampak terhadap perbuahan sosial budaya suatu masyarakat . Dampak modernisasi terhadap perubahan sosial budaya masyarakat dapat berupa meningkatnya produktivitas masyarakat dalam berbagai bidang.Modernisasi terjadi dominan pada bidang teknologi yang mampu meningkatkan hasil suatu produk secara kuantitatif. Namun secara kualitatif peningkatan teknologi ini juga berdampak pada ketergantungan Indonesia terhadap perusahaan asing dalam pengadaan teknologi tersebut. Sebagian besar masyarakat Indonesia adalah petani yang masih belum siap menghadapi modernisasi yang terjadi, sehingga kemampuan sumber daya petani perlu untuk ditingkatkan. Selain itu, peningkatan teknologi pertanian yang terjadi belum sama besar dengan penigkatan sumber daya petani. Modernisasi yang terjadi pun sulit untuk dibendung dan memang harus terjadi. Oleh sebab itu, untuk membangun pertanian pemerintah Indonesia perlu lebih terfokus pada pengembangan sumber daya masyarakat dalam hal pemahaman perkembangan teknologi tersebut.. Metode yang digunakan dalam pembuatan makalah ini adalah metode kuantitatif. Makalah ini dibuat dengan menggunakan data primer dan sekunder yang merupakan data yang diperoleh dari narasumber langsung di lapangan dan dokumen tertulis baik yang berupa tulisan ilmiah maupun buku
PEMANFAATAN SAINS DAN TEKNOLOGI SEBAGAI UPAYA MENINGKATKAN SUMBER DAYA UMAT HINDU I Wayan Dana
Belom Bahadat Vol 7 No 1 (2017): Belom Bahadat : Jurnal Hukum Agama Hindu
Publisher : Institut Agama Hindu Negeri Tampung Penyang Palangka Raya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33363/bb.v7i1.288

Abstract

Perkembangan sains dan teknologi dewasa ini telah menuju pada suatu pendekatan akanperanan sains dalam menjelaskan fenomena spiritual. Toudam Damodara Singh Ph.D, seorangsaintis dan juga rohaniawan menyatakan dalam bukunya berjudul The Scientific Basic of KrishnaConsciousneess, menyebutkan bahwa ,”Hendaknya sains dijadikan sarana untuk menjelaskankeberadaan Tuhan (Krisna) dan bukannya menjadi semakin jauh dengan prinsip kesadaranmutlak”. (T.D. Singh. 2006). Kenyataannya, dalam beberapa bidang pengetahuan, ilmupengetahuan modern telah menemukan fakta-fakta yang sebelumnya sudah ada dalam literaturVeda ribuan tahun yang lalu.
Pengelolaan Pementasan Wayang Kulit Ki Eko Kondho Prisdianto di Tulung Agung Jawa Timur Fatoni Purwitoaji; I Wayan Dana
Dance and Theatre Review: Jurnal Tari, Teater, dan Wayang Vol 5, No 1: May 2022
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (909.464 KB) | DOI: 10.24821/dtr.v5i1.7660

Abstract

 Wayang kulit merupakan salah satu bentuk tradisi atau kebudayaan lisan yang cukup memiliki tempat di hati masyarakat Jawa. Wayang kulit dimainkan oleh seorang dalang. Ki Eko Kondho Prisdianto merupakan dalang asli dari Jawa Timur lebih tepatnya dari Kabupaten Tulungagung. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif deskriptif, dengan menggunakan teori manajemen yang terdiri dari fungsi manajemen, prinsip-prinsip manajemen. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan tiga tahapan yaitu, wawancara, observasi, dan pemanfaatan dokumen yang ada. Penelitian ini mendeskripsikan bagaimana praktik manajemen dalam pementasan wayang kulit dengan landasan teori manajemen. Pada hasil penelitian ini disimpulkan bahwa Ki Eko Kondho Prisdianto telah menerapkan beberapa praktik manajemen sederhana, seperti fungsi manajemen, prinsip manajemen, yang dilaksanakan dengan baik. Beberapa temuan kasus di lapangan memang belum sesuai dengan teori manajemen. Hal ini didasari dengan latar belakang Ki Eko Kondho Prisdianto yang bukan seorang akademisi melainkan belajar secara tradisional.Kata kunci: Pementasan Wayang Kulit, Ki Eko Kondho Prisdianto, Tulungagung, Manajemen.AbstractWayang kulit is a form of tradition or oral culture that has quite a place in the hearts of Javenese people in particular and is played by a puppeteer. Ki Eko Kondho Prisdianto, an original puppeteer from East Java, more precisely Tulungagung regency, has a fairly high popularity in the community, especially in East Java. The method used in this research is descriptive qualitative using management theory which consists of management functions. Management principles, and management fields. Data collection techniques were carried out by three methods, namely, interviews, observation, and the use of existing documents. This study describes how management practices in wayang kulit performances are based on management theory. The results of this study show that Ki Eko Kondho Prisdianto had implemented several existing management functions, management principles, and areas almost perfectly. Nevertheless, some of the cases in the field ar not in accordance with existing management theory. This is due to the fact that his educational background which is not necessarily academic as he got his expertise by learning traditionally.Keywords: Wayang Kulit Performances, Ki Eko Kondho Prisdianto, Tulungagung, Management  
Legong Dan Kebyar Strategi Kreatif Penciptaan Tari Ni Nyoman Sudewi; I Wayan Dana; I Nyoman Cau Arsana
Mudra Jurnal Seni Budaya Vol 34 No 3 (2019): September
Publisher : Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31091/mudra.v34i3.784

Abstract

Artikel ini bertujuan untuk memaparkan sebuah strategi penciptaan tari yang menempatkan dua genre tari Bali yaitu Legong dan Kebyar sebagai sumber inspirasi. Legong, sering disebut Legong Keraton, adalah genre tari yang muncul sekitar abad XIX. Genre tari ini mengusung konsep estetika bentuk dan struktur yang secara keseluruhan disebut seni palegongan. Sementara Kebyar yang muncul pada awal abad XX, menunjuk pada pembaruan garap tabuh atau karawitan Bali yang membawa suasana baru dalam kehidupan seni pertunjukan Bali dalam konteks kreativitas seni demi kenikmatan estetis maupun untuk mendukung berbagai kepentingan sosial keagamaan. Dilihat dari struktur dan ragam geraknya, struktur dan ragam gerak Kebyar menunjukkan adanya kemiripan dengan Legong. Kedua genre tari tersebut dalam perkembangannya masing-masing menemukan kekhususannya, dan berpeluang untuk dipertemukan, serta dijadikan sumber inspirasi penciptaan tari. Dalam memanfaatkan keduanya sebagai sumber garap tari, tentu memerlukan suatu metode dalam pengertian tahapan proses kreatif tertentu. Metode yang dicoba untuk diterapkan adalah memadukan tiga metode penciptaan yaitu: pertama, konsep angripta sasolahan meliputi ngarencana, nuasen, makalin, nelesin, dan ngebah; kedua, menerapkan teori 3 N yang dikemukakan oleh Ki Hajar Dewantara meliputi nitheni, niroke, dan nambahi; serta ketiga, menerapkan metode dan tahapan proses eksplorasi, improvisasi, dan komposisi serta evaluasi. Penerapan ketiganya secara simultan dalam tahapan proses penciptaan tari diyakini akan dapat mengarahkan setiap langkah kreatif untuk mencapai sasarannya. Di sisi lain, pemanfaatan tari tradisonal sebagai sumber penciptaan tari, akan berdampak pada revitalisasi, penguatan dan pengembangan nilai-nilai budaya lokal (Bali) yang biasanya menjadi acuan dalam berkesenian sekaligus hidup bermasyarakat.
Bondres Clekontong Mas sebagai Media Pendidikan Etis dan Estetis di Masyarakat I Wayan Dana; Ni Wayan Rizka Arisanti; I Made Agus Tresna Tanaya
PANGGUNG Vol 33, No 1 (2023): Nilai-Nilai Seni Indonesia: Rekonstruksi, Implementasi, dan Inovasi
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/panggung.v33i1.2472

Abstract

Bondres digunakan sebagai sebutan tokoh-tokoh rakyat jelata, yang karakternya mempresentsikan masyarakat pada umumnya. Tokoh ini hadir sebagai simbol kehidupan masyarakat dalam pertunjukan dramatari topeng di Bali. Pemainnya dilalukan oleh pemeran yang mampu mengekspresikan berbagai karakter melalui ungkapan tata rias-busana, gerak, tembang, humor, vokal-dialog sesama Bondres maupun berkomunikasi langsung dengan penonton. Ungkapan para pemeran melalui tindakan kocak dan menghibur itu, mampu menjadi media pendidikan etis dan estetis bagi masyarakat pentontonnya. Pendidikan etis berhubungan dengan etika, diungkap melalui penilaian sifat kebenaran atau kebaikan dari tindakan sosial berdasarkan tradisi budaya yang bersumber dari ajaran agama Hindu. Pendidikan estetis, mengenai penilaian terhadap keindahan, kenikmatan melalui ekspresi karya seni. Percakapan-percakapan etis dan estetis itu selalu digaungkan di setiap sajian Trio Bondres Clekontong Mas, sehingga masyarakat penonton mendapat tontonan segar yang menghibur dan mengedukasi. Dalam nilai hiburan itu dibingkai dan dibumbui lawakan yang memuat nilai-nilai moral sebagai tuntunan instrospektif dalam tatanan hidup, kehidupan dan berpenghidupan di masyarakat. Kata Kunci: Clekontong Mas, Pendidikan etis, Estetis, di masyarakat
Ilmu Pengetahuan sebagai Pondasi Peningkatan Kualitas Sumber Daya Manusia dalam Berkesenian I Wayan Dana
JURNAL TATA KELOLA SENI Vol 9, No 1 (2023): Juni 2023
Publisher : Program Pascasarjana ISI Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/jtks.v9i1.9715

Abstract

Kini, memasuki zaman jet, roket, satelit, yang ditandai pesatnya perkembangan dan penggunaan cyber physical system, artificial intelligent (AI), big data, dan internet of things (IoT). Komputer juga semakin kecil sehingga bisa menjadi sebesar kepalan tangan manusia, seperti smartphone, mudah penggunaannya dan bisa dibawa ke mana perlunya, termasuk menyaksikan serta mengikuti berbagai perkembangan kemajuan ilmu pengetahuan secara sekala (tampak) maupun niskala (maya/tidak tampak), seperti di era digital ini. Cara memperoleh tuntunan ilmu pengetahuan dapat dilakukan oleh setiap orang melalui proses pendidikan dan pembelajaran di sekolah dan di luar sekolah. Perpaduan ilmu pengetahuan yang diperoleh dari pendidikan sekolah dan pengetahuan yang diperoleh dari ketajaman pengalaman sendiri, itu yang dinamakan Samkya (pengetahuan yang sejati, berenergi intuisi dan suara hati nurani). Saluran untuk memperolehnya dapat melalui lingkungan alam keluarga, sekolah atau perguruan, dan di lingkungan alam masyarakat luas atau alam jagat raya ini. Kecerdasan buatan (artificial intelligence) hadir atas hasil dari buah pemupukan ilmu pengetahuan, olah-pikir yang mampu menggugat salah satu kualitas hakiki manusia yang sering digunakan sebagai bukti keunggulan manusia. Memang ilmu pengetahuan bukan sebagai tujuan akhir, tetapi ilmu pengetahuan dan pengetahuan itu sendiri dapat sebagai pondasi peningkatan kualitas SDM untuk melahirkan ‘kesadaran’ dalam berkesenian dan bermanfaat bagi kehidupan masyarakat. Science as the Foundation for Quality Improvement Human Resources in the Arts ABSTRACT With the rapid advancement and use of cyber-physical systems, artificial intelligence (AI), big data, and the Internet of Things (IoT), we are now entering the era of planes, rockets, and satellites. Additionally, computers are getting smaller until they can match the size of a human fist, much like a smartphone. They are simple to use and portable, making them ideal for observing and monitoring various advancements in science in the digital age, both at a sekala (visible) and niskala (virtual/invisible). Everyone can learn how to acquire scientific counsel through education and learning processes at school and outside of school. Samkya (real knowledge, energized by intuition and conscience) is the confluence of knowledge gained from formal education and knowledge gained from the sharpness of one's own experience. It can be obtained through a channel that operates in the natural surroundings of a family, school, or university and in the natural surroundings of a larger community or the universe. Because of the advancement of science, artificial intelligence (AI) exists today and can fulfill one of the fundamental human needs that are frequently cited as proof of humanity's superiority. Research is not the end aim, but research and knowledge can serve as a foundation for raising the standard of human resources, which will help people live better lives and generate "awareness" of the arts.
The philosophical values of Rejang Dayung as an ancient dance inherited from Pura Luhur Batukau, Tabanan, Bali I Wayan Dana; Raja Alfirafindra; Agustin Anggraeni
Gelar : Jurnal Seni Budaya Vol. 21 No. 2 (2023)
Publisher : Institut Seni Indonesia Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33153/glr.v21i2.5355

Abstract

Rejang Dayung is an ancient dance inherited from the ancestors, serving a ritualistic function at Pura Luhur Batukau. It is exclusively performed in Jaba Tengah or the media mandala (living room) during the Sinineban (closing) ceremony at Pura Luhur Batukau. Noteworthy for its straightforward expressions in movements, floor patterns, costumes, and accompaniment, this dance merits scholarly investigation. The objectives of this study are to elucidate the philosophical value of Rejang Dayung performance as an ancient dance inherited from Pura Luhur Batukau, examine the correlation between the philosophical value of Rejang Dayung and the societal beliefs of Pura Luhur Batukau, and expound upon the significance of Rejang Dayung's philosophical value based on the concepts of Satyam (truth), Shivam (holiness), and Sundaram (beauty). The authors employed a qualitative method, incorporating field observation and interview techniques to gather data and ascertain the initial presentation of Rejang Dayung. The study's findings unequivocally reveal the philosophical values of Rejang Dayung and the embodiment of the Tri Hita Karana teachings (Balinese concepts for creating harmony), which encompass harmonious relationships between humans and God, humans and fellow humans, and humans and the universe. The philosophical value of Rejang Dayung signifies a profound surrender to the magnificence of Ida Sanghyang Widhi Wasa, God the Greatest, manifested through the collective choreography in pairs, symbolizing the convergence of Shiva-Parwati energy. This convergence, perceived by the people of Pura Luhur Batukau as the guardian of harmony in the universe and its constituents, underscores the dance's cultural and spiritual significance.