Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Perhitungan Larva Aedes spp. Berdasarkan Hasil Rearing Ovitrap Berwarna Dalam Ruangan di Kelurahan Malalayang Satu Barat Kota Manado Stephen Stephen; Angle M. H. Sorisi; Josef S. B. Tuda
e-CliniC Vol. 12 No. 1 (2024): e-CliniC
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v12i1.45233

Abstract

Abstract: Dengue hemorrhagic fever (DHF) is still a health problem in Indonesia including Manado. Ovitrap is a dengue vector control method that is quite sensitive and proven to reduce vector density safely and economically. Color is one of the factors that plays an important role in the effectiveness of ovitrap, albeit, there are still few reported studies related to Aedes spp egg viability, especially by rearing ovitrap with different colors. This study aimed to determine the percentage of Aedes spp larvae found in each color of the indoor ovitrap rearing results. This was a descriptive study with a cross-sectional design using ovitraps at Malalayang Satu Barat Sub-district. The results showed the percentages of Aedes spp eggs hatched in the ovitraps, as follows: yellow ovitrap 94%, blue 92%, white 84%, black 82%, red 70%, and transparent 36%. The average number of eggs per ovitrap, as follows: black (17.00), white (12.56), red (10.78), yellow (10.60), blue (7.70), and transparent (3.11) with ovitrap index (OI) =74.72%. In conclusion, the criteria of egg density in Malalayang Satu Barat Sub-District is high. Black ovitrap has the highest number of eggs and the least is transparent ovitrap, however, yellow and blue ovitraps have the highest percentages of hatching eggs. Keywords: dengue hemorrhagic fever; Aedes spp. larva; ovitrap color; rearing; ovitrap index   Abstrak: Demam berdarah dengue (DBD) masih menjadi masalah kesehatan di Indonesia, termasuk kota Manado. Ovitrap merupakan metode pengendalian vektor DBD yang cukup sensitif dan terbukti menurunkan kepadatan vektor secara aman dan ekonomis. Warna menjadi salah satu faktor penting keefektifan ovitrap, namun sedikit studi tentang viabilitas telur khususnya melakukan rearing ovitrap dengan warna berbeda. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jumlah persentase larva Aedes spp. yang terdapat pada setiap warna hasil rearing ovitrap dalam ruangan. Jenis penelitian ialah deskriptif dengan desain potong lintang menggunakan ovitrap di Kelurahan Malalayang Satu Barat. Hasil penelitian mendapatkan persentase telur menetas pada ovitrap kuning sebesar 94%, biru 92%, putih 84%, hitam 82%, merah 70%, dan transparan 36%. Rerata jumlah telur per ovitrap hitam (17,00), putih (12,56), merah (10,78), kuning (10,60), biru (7,70), dan transparan (3,11) dengan ovitrap index (OI) =74,72%. Simpulan penelitian ini ialah kepadatan telur Kelurahan Malalayang Satu Barat tergolong kriteria tinggi. Ovitrap hitam memiliki telur terbanyak dan ovitrap transparan yang paling sedikit, namun ovitrap kuning dan biru memiliki persentase telur menetas yang paling tinggi. Kata kunci: demam berdarah dengue; larva Aedes spp.; warna ovitrap; rearing; ovitrap index
Perbandingan Sensitivitas Dan Spesifisitas Pemeriksaan Mikroskopis Dengan Rapid Diagnostic Test (Rdt) Untuk Deteksi Plasmodium Falciparum Muh. Alvahrefi Bakhtiar; Josef S.B Tuda; Angle M. H. Sorisi
Jurnal Inovasi Global Vol. 3 No. 2 (2025): Jurnal Inovasi Global
Publisher : Riviera Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58344/jig.v3i2.274

Abstract

Malaria tetap menjadi masalah kesehatan global yang serius, terutama Plasmodium falciparum, yang dapat menyebabkan komplikasi berat. Diagnosis yang cepat dan akurat sangat penting untuk mengurangi angka kesakitan dan kematian. Penelitian ini membandingkan sensitivitas dan spesifisitas pemeriksaan mikroskopis dengan Rapid Diagnostic Test (RDT) berbasis Histidine Rich Protein-2 (HRP2) dalam mendeteksi Plasmodium falciparum. Studi ini menggunakan desain potong lintang dengan 36 sampel darah EDTA yang dicurigai malaria di Laboratorium Parasitologi Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi. Hasil pemeriksaan mikroskopis menunjukkan 23 sampel positif (Plasmodium falciparum 63,89%) dan 13 sampel negatif (36,11%). Pemeriksaan RDT menunjukkan 22 sampel positif (61,11%) dan 14 sampel negatif (38,89%). Sensitivitas RDT adalah 86,96%, spesifisitas 84,62%, Positive Predictive Value (PPV) 90,91%, dan Negative Predictive Value (NPV) 78,57%. Hasil ini menunjukkan bahwa RDT dapat menjadi alternatif pemeriksaan mikroskopis, terutama di fasilitas kesehatan dengan keterbatasan tenaga ahli dan alat laboratorium. Penggunaannya memungkinkan diagnosis lebih cepat dan praktis, sehingga meningkatkan akses layanan kesehatan dan mempercepat penanganan pasien. Dengan demikian, RDT berpotensi menjadi solusi efektif dalam pengendalian malaria, terutama di daerah dengan sumber daya terbatas.