Bangunan memiliki peran yang sangat penting bagi kehidupan manusia, Mulai dari hunian, aktifitas sehari-hari hingga tempat bekerja. Bangunan yang baik dapat dilihat dari struktur yang besar sampai struktur terkecil dari bangunan itu sendiri. Faktor yang menjadi tolak ukur bangunan ini layak atau tidaknya, dapat dilihat dari pencahayaan dan penghawaanya. (Rahman, 2020).Dalam penelitian kali ini, dilakukkan di Gedung Auditorium Haji Abdullah Tjan Hoatseng Universitas Muhammadiyah Maluku Utara. Gedung ini memiliki dua lantai. Dan nantinya berfungsi sebagai tempat event kampus seperti Wisuda, seminar, dan sebagainya. Kondisi bangunan ini setelah dilakukkan observasi menujukan bahwa pencahayaan dan penghawaan bangunan masih di bawah standar. Hal ini dikarenakan suhu ruangan yang panas dan tidak diimbangi dengan penghawaan dan pengendalian suhu yang baik serta pencahayaan yang didominasi dengan pencahayaan buatan.Di Indonesia sediri kondisi seperti ini sudah diatur dalam SNI 03-6575-2001 tentang sistem utilitas yang memenuhi syarat kesehatan, kenyamanan, keamanan, dan ketentuan yang berlaku untuk bangunan gedung. Retrofitting sendiri dilakukkan untuk meningkatkan kualitas bangunan auditorium ini yang di fokuskan pada pencahayaan dan penghawaan. Langkah-langkah yang akan dilakukkan dalam penelitian ini adalah melakukkan pemodelan dan skenario yang dilakukkan untuk melihat seperti apa kondisi yang baik untuk gedung auditorium ini, tentunya dengan menggunakan bantuan perangkat lunak. Perangkat lunak yang digunakkan sendiri terdiri dari EDGE Building, dan Ecotect. Dimana EDGE Building digunakkan untuk menentukan skenario terbaik dalam penelitian ini. Sedangkan Ecotec digunakkan untuk mensimulasikan keadaan suatu bangunan dengan melihat faktor pencahayaan dan penghawaan dari bangunan auditorium ini. Metode yang digunakkan adalah Pendekatan Kuantitatif. Dikarenakan Penghawaan dan pencahayaan gedung masih di bawah standar maka Perlu adanya perhatian khusus terkait pencahayaan dan penghawaan bangunan ini.