Budi Basuki Subagio
Program Studi Teknik Telekomunikasi Jurusan Teknik Elektro, Politeknik Negeri Semarang, Indonesia

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Pengolahan Limbah Kulit Buah dan Sayuran Menjadi Obat Luka Budi Basuki Subagio; Arif Nursyahid; Muhlasah Novitasari Mara; Rizkha Ajeng Rochmatika
Jurnal Pengabdian Masyarakat Indonesia Vol 3 No 5 (2023): JPMI - Oktober 2023
Publisher : CV Infinite Corporation

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52436/1.jpmi.1644

Abstract

Di Indonesia, total sampah mencapai 19,14 juta ton pada tahun 2022. Mayoritas sampah tersebut berupa sisa makanan. Data global menunjukkan bahwa sampah buah dan sayuran adalah penyumbang terbesar limbah makanan dunia. Ternyata sampah organik juga, memiliki dampak lingkungan jika tidak dikelola dengan baik, seperti menghasilkan gas berbahaya seperti gas metana. Kejadian ledakan di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Leuwigajah pada 2023 adalah contoh buruk dari pengelolaan sampah organik dan menghasilkan gas metana. Untuk mengatasi hal ini, umumnya sampah organik diolah  menjadi kompos, tetapi kurang diketahui bahwa sampah organik, terutama buah dan sayuran, dapat digunakan sebagai penyembuh luka alami melalui eco enzyme. Oleh karena itu, tim pengabdian mendampingi ibu-ibu rumah tangga di Semarang dalam mengolah sampah organik menjadi eco enzyme yang bisa membantu penyembuhan luka, termasuk pada penderita diabetes. Kegiatan ini dilakukan selama 6 bulan, melibatkan persiapan, pengadaan bahan, pendampingan pembuatan eco enzyme, monitoring, sosialisasi, dan evaluasi. Hasil evaluasi menunjukkan bahwa peserta mampu mengolah sampah organik menjadi eco enzyme yang berguna sebagai penyembuh luka alami, yang dapat membantu penderita diabetes. Ini adalah langkah positif dalam pengelolaan sampah yang berkelanjutan sambil membantu mereka yang membutuhkan penyembuhan luka yang lebih baik.
Pemberdayaan Petani Cabai Melalui Implementasi Sistem Pemantauan dan Pengendalian pH serta Kelembapan Tanah Berbasis Website di Desa Kentengsari, Kabupaten Temanggung Muhlasah Novitasari Mara; Sarono Widodo; Endro Wasito; Ari Sriyanto Nugroho; Dewi Anggraeni; Catur Budi Waluyo; Budi Basuki Subagio; Xaverius Yehuda Revaldo Erdi Nugraha; Azril Rizqon Rabbani; Fajar Ardiyansyah; Rissa Natalia; Taufiq Yulianto
Jurnal Pengabdian Masyarakat Indonesia Vol 6 No 2 (2026): JPMI - April 2026
Publisher : CV Infinite Corporation

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52436/1.jpmi.4439

Abstract

Kebun cabai Pak Damiri di Dusun Gembyang, Desa Kentengsari, Kecamatan Candiroto, Kabupaten Temanggung masih menerapkan metode tradisional dalam pemantauan pH dan kelembaban tanah serta penyiraman manual tanpa dasar data terukur. Kondisi tersebut menyebabkan penggunaan air kurang efisien dan pengambilan keputusan budidaya tidak berbasis kondisi aktual lahan. Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) ini bertujuan meningkatkan kapasitas mitra dalam pengelolaan budidaya cabai melalui pendampingan penerapan sistem pemantauan pH dan kelembaban tanah serta penyiraman otomatis berbasis Internet of Things (IoT). Metode kegiatan dilaksanakan melalui tahapan sosialisasi dan identifikasi kebutuhan mitra, perancangan dan instalasi perangkat sensor, pengembangan dashboard monitoring berbasis web, pelatihan operasional sistem, serta pendampingan dan evaluasi penggunaan di lapangan. Mitra terlibat aktif dalam proses instalasi, pengujian alat, dan pengoperasian sistem sehingga terjadi alih pengetahuan dan peningkatan keterampilan teknis. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa mitra mampu melakukan pemantauan kondisi tanah secara real-time dan mengoperasikan sistem penyiraman otomatis berdasarkan ambang batas kelembaban yang ditetapkan. Secara kualitatif, terjadi peningkatan pemahaman mitra terhadap pentingnya pengelolaan irigasi berbasis data. Secara operasional, sistem membantu mengurangi frekuensi penyiraman yang tidak terkontrol serta meningkatkan efisiensi penggunaan air. Dampak kegiatan ini adalah meningkatnya efektivitas pemeliharaan tanaman, efisiensi kerja petani, serta terbentuknya model praktik budidaya cabai berbasis teknologi yang lebih modern dan berkelanjutan.