Didik Hariyanto
Sekolah Tinggi Ilmu Ushuluddin Wadi Mubarak Bogor

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Akhlak Nabi Zakaria dalam Al-Qur'an Husna, JIhan; Hariyanto, Didik
Izzatuna: Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir Vol. 3 No. 2 (2022): Izzatuna: Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Ushuluddin Wadi Mubarak Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62109/ijiat.v3i2.27

Abstract

Penelitian ini dilatar belakangi oleh kerusakan moral yang terjadi pada remaja zaman sekarang yang mana salah satu penyebabnya adalah tidak tertanamnya akhlak yang baik pada diri mereka padahal sejatinya akhlak merupakan tolak ukur kehidupan seseorang baik sebagai individu ataupun anggota masyarakat. Akhlak juga merupakan indikator keimanan seseorang, orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah mereka yang paling baik akhlaknya. Objek yang akan diteliti adalah kisah Nabi Zakaria dalam Al-Qur’an dengan tujuan menjelaskan penafsiran ayat-ayat tentang kisah beliau dan akhlak-akhlak yang terdapat dalam penafsiran ayat tentang kisah beliau. Metode penelitian yang digunakan penulis adalah jenis penelitian Library Research (kepustakaan) dengan metode maudhu’i. Dalam penelitian ini ditemukan akhlak-akhlak Nabi Zakaria dalam Al-Qur’an yaitu sabar, berdoa kepada Allah, zuhud, ikhlas dalam beribadah, bersyukur, taat beribadah, tawadhu’, amanah, khusyu’, tawakkal dan penyayang. Kesimpulan yang didapatkan dari penelitian ini adalah bahwa Nabi Zakaria merupakan sosok teladan dalam berakhlak. Abstract This Research is motivated by the moral damage that occurs in today’s youth, where one of the causes is the lack of good morals in them ehen in fact morality is a benchmark for one’s life, both as individuals and members of society. Morals are also an indicator of a person’s faith, the believers who have the most perfect faith are those who have the best morals. The object to be studied is the story of the Prophet Zakaria in the Qur’an with the aim of explaining the interpretation of the verses about his story and the morals contained in the interpretation of the verses about his story. The research method used by the author is the type of library research with the maudhu’I method. In this study, it was found that the morals of Prophet Zakaria in the Qur’an were patient, praying to Allah, zuhud, sincere in worship, grateful, obedient to worship, tawadhu’, trustful, khusyu’, tawakkal and merciful. The conclusion obtained from this research is that the Prophet Zakaria is an exemplary figure in morals
Sejarah Perkembangan Ilmu Tafsir Era Salaf Azizah, Lutfi Nur; Hariyanto, Didik
Izzatuna: Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir Vol. 4 No. 1 (2023): Izzatuna: Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Ushuluddin Wadi Mubarak Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62109/ijiat.v4i1.38

Abstract

  Saat ini banyak gagasan pembaharuan tafsir Al-Qur’an yang meragukan dan mengesampingkan tafsir salaf, padahal para salaf —sahabat, tabiin, dan tabiut tabiin— adalah generasi terbaik umat ini. Metode tafsir klasik yang mengedepankan pengutipan riwayat dinilai kaku dan gagal menjawab permasalahan umat yang semakin hari semakin kompleks. Pendapat tersebut tentu saja sangat tidak tepat. Tafsir salaf seharusnya menjadi penafsiran yang terbaik dan diutamakan karena mereka adalah generasi terbaik. Penafsiran terbaik itu dapat dilihat karakteristik penafsiran masing-masing generasi. Hal tersebutlah yang akan dibahas dalam artikel ini. Selain itu, artikel ini juga membahas metode serta tokoh-tokoh tafsir tiap generasi. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian literatur dengan mengumpulkan data yang dibutuhkan melalui sumber refernsi seperti buku, jurnal, artikel ilmiah, dan lain sebagainya. Hasil kajian menunjukkan bahwa penafsiran salaf didominasi oleh tafsir bil ma’tsur melalui talaqqi riwayat, di samping terdapat pula penafsiran dengan ijtihad dan pemahaman mufasir. Hal tersebut menjadikan tafsir salaf sangat layak untuk dijadikan rujukan utama dalam menafsirkan Al-Qur’an. Abstract At present there are many ideas for reforming the interpretation of the Qur'an which doubt and set aside the interpretation of the salaf, even though the salaf - shahabah, tabiin, and tabiut tabiin - are the best generation of this ummah. The classical interpretation method which emphasizes quoting history is considered rigid and fails to answer the problems of the people who are increasingly complex. This opinion is of course very wrong. The interpretation of the salaf should be the best and preferred interpretation because they are the best generation. The best interpretation can be seen from the interpretation characteristics of each generation. This is what will be discussed in this article. In addition, this article also discusses the methods and figures of interpretation of each generation. The research method used is literature research by collecting the required data through reference sources such as books, journals, scientific articles, and so on. The results of the study show that the interpretation of the salaf is dominated by the interpretation of bil ma'tsur through talaqqi history, besides that there is also an interpretation with ijtihad and the understanding of the mufasir. This makes the interpretation of the salaf very appropriate to be used as the main reference in interpreting the Qur'an. It is imperative for Muslims to pay great attention to the interpretation of the Salaf and put it above all others.
Fostering Honesty in the Digital Era: A Tafsir-Based Approach to QS. At-Taubah in Islamic Religious Education Didik Hariyanto; Mahfud Mahfud; Hayy Bilhaqqi Najihan
TA`DIBUNA Vol 14 No 3 (2025): Juni
Publisher : LPPM Universitas Ibn Khaldun, Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32832/tadibuna.v14i3.20001

Abstract

Abstrak Artikel ini menganalisis secara mendalam relevansi kejujuran dalam QS. At-Taubah sebagai karakter inti dalam pendidikan di era digital. Dilatarbelakangi oleh tantangan moral seperti disinformasi dan penyalahgunaan teknologi, penelitian kualitatif deskriptif-analitis ini menggunakan kajian pustaka, melibatkan tafsir klasik dan kontemporer, serta hadis. Temuan menunjukkan bahwa QS. At-Taubah: 119 memberikan panduan moral signifikan terkait kejujuran, yang esensial untuk membangun karakter siswa yang bertanggung jawab dan berintegritas di dunia nyata maupun digital. Implementasi praktis kejujuran ini dapat diintegrasikan melalui pendekatan pedagogis inovatif seperti pembelajaran berbasis proyek digital, simulasi studi kasus etika digital, dan integrasi tentang nilai kejujuran dalam kurikulum umum. Pendekatan ini didukung oleh berbagai studi yang menunjukkan bahwa integrasi nilai oleh pendidik efektif dalam mengatasi dekadensi moral, sehingga pelatihan guru secara reguler sangat penting untuk memfasilitasi integrasi nilai ini di seluruh mata pelajaran. Selain itu, pendekatan berbasis narasi dan konsep amanah, seperti kisah Ka’ab bin Malik, menjadi metode efektif dalam penanaman kejujuran. Kesimpulannya, pendidikan berbasis nilai Qur’ani, khususnya kejujuran, sangat krusial untuk membentuk generasi yang etis, bertanggung jawab, dan adaptif terhadap tantangan era digital, memastikan integritas moral di tengah kemajuan teknologi. Abstract This article thoroughly analyzes the relevance of honesty in QS. At-Taubah as a core character trait in digital age education. Driven by contemporary moral challenges such as disinformation and technology misuse, this descriptive-analytical qualitative study employs a comprehensive literature review, drawing upon classical and contemporary tafsir (Qur'anic exegesis), alongside hadith. Findings indicate that QS. At-Taubah: 119 provides significant moral guidance on honesty, essential for cultivating responsible and integrated student character in both physical and digital realms. Practical implementation of this honesty can be achieved through innovative pedagogical approaches, including digital project-based learning, ethical digital case study simulations, and the integration of integrity values into general curricula. This approach is substantiated by various studies demonstrating that educators' integration of values effectively counters moral decadence, underscoring the critical need for regular teacher training to facilitate this across all subjects. Furthermore, narrative-based approaches and the concept of ‘amanah’ (trust/responsibility), exemplified by the story of Ka’ab bin Malik, prove effective methods for instilling honesty. In conclusion, Qur’anic value-based education, particularly emphasizing honesty, is crucial for shaping a generation that is ethical, responsible, and adaptable to the demands of the digital age, thereby ensuring moral integrity amidst technological advancements.