Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

IMPLEMENTASI ALGORITMA PARTICLE SWARM OPTIMIZATION (PSO) PADA INVERSI DATA RESISTIVITAS 1-D UNTUK IDENTIFIKASI GAS DANGKAL Adinsya Yudha; Dharma Arung Laby; Abdi Suprayitno
Jurnal Geosaintek Vol 9, No 2 (2023)
Publisher : Institut Teknologi Sepuluh Nopember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j25023659.v9i2.18513

Abstract

Belakangan ini banyak terjadi insiden semburan gas dangkal di beberapa wilayah Balikpapan. Salah satu daerah di mana fenomena ini terjadi terletak di Sepinggan, Kota Balikpapan. Oleh karena itu, perlu dilakukan identifikasi gas dangkal dengan metode Vertical Electrical Sounding (VES) untuk mendapatkan model resistivitas bawah permukaan sebagai langkah mitigasi. Salah satu tahapan untuk memperoleh model resistivitas bawah permukaan ialah melakukan proses inversi yang dapat dilakukan menggunakan software komersil. Akan tetapi, software inversi yang digunakan pada umumnya berbasis dengan pendekatan lokal (local approach) yang mana sangat rawan terjebak pada minimum lokal. Untuk mengakomodasi keterbatasan tersebut, perlu dilakukan inversi data resistivitas dengan pendekatan global yang mana lebih akurat dalam proses pencarian nilai optimum. Maka diusulkan implementasi algoritma Particle Swarm Optimization (PSO) pada inversi data VES sebagai metode inversi dengan pendekatan global. Tahap pertama pada penelitian ini dilakukannya uji coba algoritma PSO dalam menginversi data VES sintetik dengan tujuan mengukur seberapa robust dan stabil algoritma ini bekerja. Pada tahap ini digunakan dua tipe data VES sintetik yaitu data sintetik free noise dan data terkontaminasi noise, kemudian dilakukan perhitungan similarity index dan estimasi nilai ketidakpastian (uncertainty) menggunakan standar deviasi. Setelah pengujian algoritma, maka algoritma PSO diimplementasikan pada data lapangan daerah Sepinggan. Dari hasil inversi data VES Sintetik menunjukkan dari ketiga model yang diuji memiliki nilai similarity index diatas 90%, bahkan ketika diberi noise tidak mengalami penurunan SI yang signifikan. Pada inversi data lapangan terdapat anomali nilai resistivitas tinggi pada kedalaman 27 – 38 m yang berada pada lapisan batupasir dan diduga sebagai potensi adanya gas dangkal.
Optimasi Electrical Submersible Pump (ESP) Pada Sumur MFR-21 Berdasarkan Keadaan Sumur di Masa Depan Abdi Suprayitno; Muhammad Fauzi Ramadhan; Rohima Sera Afifah
Jurnal Offshore: Oil, Production Facilities and Renewable Energy Vol. 8 No. 1 (2024): Jurnal Offshore: Oil, Production Facilities and Renewable Energy
Publisher : Universitas Proklamasi 45

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30588/jo.v8i1.1888

Abstract

When wells are produced continuously, the reservoir pressure will continue to decrease resulting in decreased production performance from the well. To optimally increase the rate of production, optimization is carried out using an Artificial Lift Electrical Submersible Pump. Based on data from the journal, "MFR-21" well had previously been installed Electrical Submersible Pump but was no longer functioning due to the condition of ESP pump not running or dead due to damage, so the author's goal is to optimize the pump and predict the condition of the well in the future until when the pump is no longer optimal by using Wiggins 3 Phase IPR and carrying out a scenario of decreasing reservoir pressure to predict the Future IPR "MFR-21" well. The results of 3 Phase Wiggins IPR curve analysis obtained a total production rate (Qt/Qmax) 6257 bfpd. Obtained a target production rate of 5005.6 bfpd it is recommended to use the ESP design with the Centrilift GC-8200 pump which has a production recommendation 4400 – 10000 bfpd with a number of stages 168, Horse Power 281 HP, and pump efficiency 69%. As well as using the Future IPR method to reduce 3 reservoir pressures, namely 1750, 1000, 500. When the reservoir pressure reaches 1000 and 500 psia the pump is no longer optimum because the target Q at reservoir pressure is not included in the pump production recommendations. So at reservoir pressure 1000 and 500 psia it is necessary to re-optimize the pump again according to the condition of well.
Pengaruh Wood Ash Terhadap Performa Rheology Dan Pengendalian Filtration Loss Lumpur Pemboran Berbasis Air (WBM) Nuryana Nuryana; Abdi Suprayitno; Ain Sahara
Jurnal Global Ilmiah Vol. 3 No. 11 (2026): Jurnal Global Ilmiah
Publisher : International Journal Labs

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55324/jgi.v3i11.405

Abstract

Lumpur pemboran berbasis air (WBM) merupakan fluida utama yang sifat fisik dan rheology-nya harus dikontrol demi kelancaran operasi. Penelitian ini mengevaluasi pemanfaatan abu kayu (Wood Ash) sisa pembakaran arang warung makan di Balikpapan sebagai aditif ramah lingkungan untuk meningkatkan performa rheology dan mengendalikan filtration loss WBM. Pengujian laboratorium menggunakan variasi ukuran partikel Mesh 80 dan Mesh 100 dengan konsentrasi aditif 2 gram, 4 gram, dan 6 gram per 350 ml lumpur dasar. Selain itu, pemodelan matematis menggunakan analisis regresi Microsoft Excel diterapkan untuk memproyeksikan karakteristik lumpur pada konsentrasi ekstrim (8 gram dan 10 gram) guna mengidentifikasi batas kritis kegagalan aditif. Hasil pengujian menunjukkan penambahan Wood Ash secara signifikan memengaruhi densitas, Plastic Viscosity (PV), Yield Point (YP), Gel Strength, nilai pH, dan menekan laju Filtration Loss. Ukuran partikel terbukti krusial: Mesh 100 yang lebih halus memberikan kinerja jauh lebih efektif dibandingkan Mesh 80 berkat luas permukaan spesifik lebih besar, membentuk filter cake rapat dan tipis. Formulasi optimum yang direkomendasikan adalah aditif Mesh 100 pada konsentrasi 4 gram, menghasilkan properti ideal dan patuh penuh terhadap standar API 13A: Densitas 8.7 PPG, Plastic Viscosity 24 cP, Yield Point 29 lb/100ft², Gel Strength 10"/10' sebesar 9/13 lb/100ft², Volume Filtrat 4.5 ml, dan pH 9.4. Sebaliknya, ekstrapolasi regresi Excel mendeteksi batas kritis kegagalan pada konsentrasi > 4 gram: penambahan berlebih memicu pengentalan mekanis ekstrem (PV hingga 33.2 cP, YP hingga 49.2 lb/100ft²), pembalikan kebocoran filtrat (7.06 - 8.24 ml) akibat flokulasi koloid bentonit, serta kenaikan pH kaustik ekstrem (10.84 - 11.84) merusak integritas fasa polimer.