Claim Missing Document
Check
Articles

Found 12 Documents
Search

Optimizing the Quality of Public Services in Village Government: A Qualitative Study in Kertawinangun Village, Mandirancan District, Kuningan Regency Rexy Nakula Urbaningrum; Merlinda Intan Fauziah
Journal Research of Social Science, Economics, and Management Vol. 5 No. 12 (2026): Journal Research of Social Science, Economics, and Management
Publisher : Publikasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59141/jrssem.v5i12.1617

Abstract

Public services at the village government level are strategic instruments in realizing accountable governance and supporting the economic development of rural communities. This research aims to analyze the quality of public services and formulate a service optimization strategy in Kertanginangun Village, Mandirancan District, Kuningan Regency. The research uses a qualitative approach with an intrinsic case study design. Data collection was carried out through in-depth interviews, participatory observations, and documentation studies during the January-March 2024 period. The informants consist of village heads, village officials, BPD members, and service user communities. Data analysis used the interactive model of Miles, Huberman, and SaldaƱa through the stages of data condensation, data presentation, and conclusion drawing by triangulating sources and methods. The results of the study show that the quality of service is relatively strong in the dimensions of empathy and social capital that build public trust. However, in the dimensions of reliability and responsiveness, there is still a dependence on certain apparatus, the standardization of procedures has not been optimal, and the digitization of administration is incremental. The findings show that social capital plays a role as a moderation variable in service implementation. Service optimization requires strengthening institutional capacity, standardizing SOPs, gradual digitalization, and institutionalizing community participation mechanisms. This study develops a social-administrative interaction model as a conceptual framework for village services that are adaptive to the local social context.
Dampak Perkembangan Kawasan Batik Trusmi terhadap Perubahan Sosial Masyarakat di Desa Trusmi Kulon, Kecamatan Plered, Kabupaten Cirebon Rexy Nakula Urbaningrum; Ihya Ulumuddin; Herry Purnomo; Riska Chusnul Sanjaya
Jurnal Multidisiplin Indonesia Vol. 5 No. 10 (2026): Jurnal Multidisiplin Indonesia (Issue in Progres)
Publisher : Riviera Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58344/jmi.v5i10.2930

Abstract

Perkembangan Kawasan Batik Trusmi sebagai pusat industri kreatif dan wisata budaya telah membawa perubahan terhadap kehidupan sosial masyarakat Desa Trusmi Kulon, Kabupaten Cirebon. Transformasi kawasan yang awalnya berbasis aktivitas membatik tradisional menjadi pusat perdagangan dan pariwisata berpotensi memberikan dampak terhadap struktur sosial, pola interaksi, mata pencaharian, serta nilai budaya masyarakat lokal. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perkembangan Kawasan Batik Trusmi dan mengidentifikasi dampaknya terhadap perubahan sosial masyarakat Desa Trusmi Kulon. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus deskriptif. Data penelitian diperoleh melalui observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi dengan melibatkan pemerintah desa, tokoh budaya, pengrajin batik, pedagang, serta masyarakat lokal sebagai informan. Analisis data dilakukan melalui pattern matching, explanation building, dan time-series analysis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perkembangan Kawasan Batik Trusmi berlangsung melalui lima tahap, yaitu asal-usul, pertumbuhan awal, perkembangan, transformasi, dan modernisasi. Perkembangan kawasan memberikan dampak pada perubahan komposisi masyarakat melalui masuknya pendatang dan diversifikasi pekerjaan, perubahan struktur sosial dengan munculnya kelompok ekonomi baru, perubahan fungsi masyarakat menjadi lebih berorientasi ekonomi dan wisata, serta perubahan lingkungan fisik dan budaya. Namun, masyarakat tetap mempertahankan identitas lokal melalui pelestarian tradisi membatik. Penelitian ini menyimpulkan bahwa perkembangan Kawasan Batik Trusmi menghasilkan perubahan sosial yang bersifat multidimensional dengan kebutuhan keseimbangan antara modernisasi ekonomi dan keberlanjutan budaya lokal.